Siapa yang Salah Terkait Jatuhnya Korban Jiwa di Lubang eks Tambang?

Menurut Pradarma, jatuhnya korban lubang tambang lebih disebabkan kelalaian pemerintah yang tidak mengawasi pertambangan, setelah menerbitkan izin.

Siapa yang Salah Terkait Jatuhnya Korban Jiwa di Lubang eks Tambang?
HO-Ishak Yassir
Inilah sebagian lahan pascatambang batu bara di kawasan Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Hingga saat ini belum ada keputusan atau kebijakan terkait rencana pengelolaan terhadap lubang-lubang tambang batu bara yang bertebaran di bumi Kalimatan Timur ini. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, Pradarma Rupang menyesalkan komentar Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari, perihal korban di lubang eks tambang.

Diketahui, usai mengisi kuliah umum di Universitas Mulawarman (Unmul), Rita menyebut jatuhnya korban di lubang tambang disebabkan kelalaian orangtua dalam mengawasi anaknya bermain. 

"Ya namanya anak. Lihat airnya hijau, seger ya langsung berenang. Tapi harus ada yang disalahkan. Artinya kenapa orangtua dan lingkungan tidak melarang, tidak menyosialisasikan jangan bermain di daerah itu," tutur Rita. 

Menurut Pradarma, jatuhnya korban lubang tambang lebih disebabkan kelalaian pemerintah yang tidak mengawasi pertambangan, setelah menerbitkan izin.

Baca: Begini Wajah Pertambangan Batu Bara di Kabupaten Terkaya

"Sepertinya Bupati gagal paham persoalan tewasnya nyawa 9 anak di lubang tambang yang terjadi di wilayahnya. Penyebabnya bukan karena minimnya pengawasan orangtua. Ini lebih dikarenakan pemerintah telah alpa tidak melakukan kewajibannya melakukan pengawasan," tegas Pradarma.

Pradarma mengungkapkan, masyarakat lebih dulu hadir dibandingkan perusahaan tambang. Hal ini, menurutnya, bisa dibuktikan langsung di lapangan.

"Justru yang mendekati wilayah itu bukan warga, tapi tambang-lah yang mendekati permukiman. Sebagian besar izin yang di terbikan Pemkab Kukar tidak melibatkan partisipasi masyarakat. Apakah mereka sepakat sawah? Sungai? Kebun mereka di bongkar menjadi tambang. Tahu-tahu sudah ada aktivitas perusahaan tambang," ungkapnya. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved