Opini

Orangtua dan Gerakan Literasi

Saya senang, senang sekali, betapa tidak menimbulkan minat baca anak-anak sekarang relatif lebih sulit dibanding jaman saya dahulu.

Orangtua dan Gerakan Literasi
net
ilustrasi 

Lely Fitriana, S.T.P., M. Sc
Widyaiswara BKPP Kabupaten Kutai Timur
lelyfitriana343@gmail.com

Senang rasanya waktu mendengar salah seorang guru anak saya mengatakan bahwa mulai tahun ajaran 2017 ini sekolah SMP anak saya mulai melaksanakan gerakan literasi. Guru tersebut mengatakan bahwa mulai hari Senin anak anak dianjurkan untuk membawa buku yang dia senangi, tentunya buku non pelajaran. Buku itu akan dbaca anak-anak 15 menit sebelum mulai pelajaran.Terbayang dalam benak saya ada baiknya saya mengajak anak saya 'mampir' ke toko buku dan dan memberinya keleluasaan padanya untuk memilih dan membeli bahan bacaan kesenganan anak saya. Saya senang, senang sekali, betapa tidak menimbulkan minat baca anak-anak sekarang relatif lebih sulit dibanding jaman saya dahulu. Persaingan dengan media televisi dan gadget menempatkan buku diurutan terakhir untuk diminati dan "ditongkrongi" pada waktu luang mereka. Saya sangat khawatir mereka tidak mau membaca. Begitulah curhat ringan seorang teman yang saya temui di sebuah pertemuan orang tua dan wali murid. Saya pun mengangguk-angguk menyetujui.
Bisa dipahami kekhawatiran teman saya tadi pasti juga menjadi kekhawatiran semua orang tua yang mempunyai anak-anak yang masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Pasalnya dari Data PIRLS dan PISA yang disampaikan Hamid Muhammad Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam sambutannya di Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia dalam hal literasi membaca tergolong rendah. Dalam PIRLS 2011 Internasional Result in Reading, Indonesia menduduki peringkat 45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500. Uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Data PIRLS dan PISA khususnya ketrampilan memahami bacaan.
Masih kata Hamid Muhammad dalam sambutannya di buku panduan tersebut mengatakan rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Lanjutnya untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah "kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai". Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS.
Kabar Gembira Buat Orang Tua Murid
Bagaimana tidak disebut kabar gembira, kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar di mulai adalah sebuah cara yang bisa menjadi modal bangsa Indonesia agar anak-anak Indonesia gemar membaca. Coba kita bayangkan berapa buku yang bisa dibaca anak-anak selama satu tahun di luar buku pelajaran yang setiap hari mereka tekuni. Perhitungan di bawah ini hanya sekedar mengilustrasikan betapa luar biasanya hasil yang didapat dari kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar di mulai jika benar-benar dioptimalkan.
Kecepatan Efektif Membaca standar seorang peserta didik di jenjang Sekolah Dasar =80-140 kpm (kata per menit), di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) = 140-175 kpm, jenjang SMA = 175-245 kpm, dan jenjang Perguruan Tinggi 245-280 kpm seperti yang terdapat dalam Modul 2 Kecepatan Efektif Membaca yang diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana. Asumsi seorang pelajar SMP yang mengikuti kegiatan tersebut maka :
Jumlah kata dalam 1 bulan = 140 kpm x 15 menit x hari efektif sekolah (28 hari)/bulan x 1 bulan = 58.800 kata. Diasumsikan 1 lembar sebuah buku bacaan ringan = 500 kata maka dalam 1 bulan peserta didik SMP membaca 58.800/500 = 117,6 halaman. Masih dengan asumsi buku bacaan ringan kira-kira 150 halaman maka 1 bulan seorang peserta didik SMP dapat menyelesaikan 1 buku atau 12 buku per tahun.
Bayangkan jika anak kita mampu membaca 12 buku per tahun, maka selama dia duduk di bangku SMP dia akan menyelesaikan 36 buku bacaan. Jika ada 30 peserta didik per kelas dan diasumsikan membaca buku yang berbeda maka ada 30 x 12 buku = 360 buku pertahun yang dibaca per kelas dan seterusnya.
Perhitungan di atas hanyalah perhitungan kasar penuh dengan asumsi namun bisa menggambarkan betapa "dasyatnya" jumlah buku yang bisa dibaca anak-anak SMP. Jika kegiatan 15 menit membaca buku ini dapat terlaksana dengan baik dan optimal maka ada 58.800 kosa kata baru yang dimiliki anak-anak per bulan. Kompetensi baru di luar pelajaran peserta didik akan sangat berkembang.
Optimalisasi Kegiatan 15 Menit Membaca
Membayangkan hasilnya yang luar biasa di atas tentunya membuat kita orang tua "sangat" bersemangat, tetapi agar pelaksanaan literasi di Sekolah dapat terealisasi dan mencapai hasil seperti yang diharapkan tentunya tidak akan semudah membalik telapak tangan. Semua pihak yang terkait harus berperan aktif dan memberikan kontribusi yang berarti sesuai tugas pokok dan peran masing-masing.
Peran sekolah adalah merancang dan melaksanakan literasi sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing sekolah. Peran serta warga sekolah yang lain seperti guru, kepala sekolah, orang tua, pengawas sekolah, dan komite sekolah serta akademisi, dunia usaha, industridan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direkorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah juga tak ketinggalan harus dioptimalkan.
Sebagai orang tua peran kita juga sangat besar dalam keberhasilan kegiatan ini. Apa saja yang bisa kita lakukan :
1.Terlibat dalam memilih buku bacaan
Sebagai orang tua kita dapat terlibat dalam memilih buku bacaan namun dengan tetap memberikan keleluasaan kepada anak-anak kita untuk memilih buku yang diminati atau disenanginya. Selain itu menemani mereka mencari atau membeli dan memberi keleluasaan mereka memilih buku akan menumbuhkan perasaan dihargai. Menurut Buku Panduan Gerakan Literasi di Sekolah SMP jenis buku yang sesuai untuk tingkat perkembangan kognitif dan psikologis peserta didik tingkat SMP adalah karya fiksi dan nonfiksi. Konten buku mengandung pesan nilai-nilai budi pekerti, menyebarkan semangat optimisme, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif sesuai dengan tumbuh kembang peserta didik dalam tahap remaja awal (12-15 tahun).
2.Menjadikannya sebagai Salah Satu Topik Perbincangan Utama di Rumah
Diskusi atau Perbincangan tentang buku penting dilakukan untuk memastikan bahwa anak-anak merasa diperhatikan telah melakukan kegiatan yang penting. Orang tua dapat menjadikan diskusi atau perbincangan kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran di sekolah sebagai salah satu topik utama pada acara minum teh bersama keluarga atau saat acara makan malam. Kegiatan bincang buku dapat membangun keterikatan emosi antara orang tua dengan anak dan dapat memotivasi anak untuk terus membaca.
3.Dorong untuk memberikan pendapat secara bebas tentang Buku yang telah Dibaca
Ketika di rumah dalam suasana santai ungkapkan pertanyaan-pertanyaan ringan semisal apakah kamu menyukai bukunya, siapa tokoh utama yang paling kamu sukai, dialog apa yang kamu ingat, bagaimana ciri-ciri tokoh utama dalam buku tersebut. Dengan catatan sekali lagi catatan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dilakukan dalam suasana informal dan menyenangkan. Sehingga anak dapat memberikan pendapatnya secara bebas tentang buku yang telah mereka baca.
4.Terlibat Membangun Lingkungan Sekolah yang Mendukung Kegiatan Baca 15 Menit
Tersedianya sudut baca di kelas adalah salah satu aspek penting dalam keberhasilan program membaca. Sudut Baca di kelas adalah sudut-sudut ataupun tempat lain yang srategis di kelas untuk dilengkapi dengan sumber-sumber bacaan. Hal ini bertujuan untuk membuka akses peserta didik kepada sumber bacaan dengan lebih luas. Jika diperlukan melalui komite kelas/sekolah orang tua dapat ikut terlibat mendesain sudut baca kelas.
5.Mengawasi Konten Buku Bacaan
Belakangan kita banyak dikejutkan konten porno yang meski halus sudah memasuki ranah buku anak-anak. Tugas kita juga tetap mengawasi konten buku bacaan anak-anak kita sehingga mereka tidak membaca buku-buku yang bermuatan pornografi baik yang terang-terangan dan vulgar atau halus disembunyikan dalam dialog-dialog.
Terakhir sebagai orang tua harus tetap bersinergi dengan sekolah tentang kegiatan membaca 15 menit buku non pelajaran ini. Mengingat betapa bermanfaatnya kegiatan ini. Dengan banyak membaca buku berkualitas akan tercipta anak-anak yang cerdas, berwawasan luas dan berbudi pekerti. Tentunya itu yang kita inginkan bukan? (*)

Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved