Cerita Duka Mantan TKI Malaysia Telantar di Balikpapan, Bingung Mau Pulang ke Kampung Halaman

Sekitar 5 bulan lalu ia nekat pergi mencari kerja ke di Sabah, Malaysia sebagai buruh sawit karena tergiur upah kerja yang menjanjikan.

TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
Mantan TKI Ilegal Malaysia, Khairul Kamal (41) telantar di Balikpapan, diamankan di Kantor Satpol PP Balikpapan, Kamis (27/4/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal Malaysia telantar di Balikpapan, Kamis (27/4/2017).

Namanya Khairul Kamal (41), saat ini dirinya berada di kantor Satpol PP Balikpapan.

Kepada Tribunkaltim.co, pria asal Sungai Raya Dalam, Pontianak, Kalimantan Barat bercerita mengapa dirinya sampai terdampar di Balikpapan.

Sekitar 5 bulan lalu ia nekat pergi mencari kerja ke di Sabah, Malaysia sebagai buruh sawit karena tergiur upah kerja yang menjanjikan. Dirinya pun pergi ke Malaysia dengan cara ilegal.

"Di Pontianak banyak kerjaan sebenarnya. Tapi namanya kita berharap lebih, makanya saya mau ke Malaysia cari kerja," tutur bapak beranak 3 tersebut.

Namun sesampainya di Malaysia cerita indah yang dibayangkan berubah menjadi derita. Janji upah besar tak didapat di negeri perantauan.

Upah kecil bahkan kadang tak dibayar tepat waktu membuat dirinya menyesal pergi dari kampung halaman.

"Saya dijanji 500 ringgit per bulan. Tapi di sana (Sabah) cuma dibayar 300 ringgit. Itupun lambat pembayarannya. 4 bulan saya bekerja. Saya memutuskan untuk lari dari tempat kerja," bebernya.

Dalam pelariannya ia memutuskan menyerahkan diri kepada pihak kepolisian di Kota Kinabalu, Malaysia.

Pasalnya ia tak terdaftar secara resmi sebagai pekerja di Malaysia alias ilegal. Paspor dan dokumen izin kerja tak punya, ia pun pasrah menerima kenyataan tersebut.

"Mau tak mau saya jalani hukuman di penjara 2 bulan 20 hari. Lalu diserahkan ke tempat penampungan TKI, sebelum dideportasi ke Nunukan," katanya.

Cerita dukanya belum berakhir, untuk pulang ke negeri sendiri ia membutuhkan biaya tak kecil. Melihat dompet yang tipis, ia pun terpaksa menjual telepon genggam, satu-satunya barang berharga yang ia punya.

"Pokoknya petugas imigrasi Malaysia itu mintanya 90 ringgit. Kalau ndak bayar ndak bisa pulang itu pak, saya sudah mohon-mohon. Tapi gak bisa. Uang saya sisa 40 ringgit. Saya jual ponsel saya itu buat ongkos ke pulang ke Indonesia, laku 50 ringgit. Di sana (Sabah) terakhir saya hubungi keluarga di Pontianak," kenangnya.

Akhirnya mantan TKI ilegal sampai di kantor Perwakilan Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan TKI BP3TKI Nunukan, tempat penampungan TKI ilegal.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved