Kolom Rehat

Episode Jassin dan Chairil

Tiap kali Chairil datang ke rumah Jassin, ia selalu meminjam buku-buku atau mesin ketik. Sebagian besar buku tidak dikembalikan.

Episode Jassin dan Chairil
TRIBUN KALTIM
Arif Er Rachman 
oleh: ARIF ER RACHMAN

KALAU segala sesuatunya memungkinkan, sejak lama saya sebenarnya punya keinginan untuk membuat film biografi (biopic) tentang Chairil Anwar, si Binatang Jalang, penyair angkatan '45 yang bocah SD pun saya rasa mengenalnya.
Sjumandjaja sebenarnya telah membuat naskah dan skenario tentang perjalanan hidup Chairil dan peristiwa yang melatari puisi-puisinya. Sayang Sjuman keburu meninggal pada 1985 sebelum skenario itu sempat dijadikan film. Naskah jadi itu kemudian diterbitkan sebagai buku pada 1987 dengan judul "Aku", yang tampak dibawa-bawa dan dibaca oleh Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian sastro) dalam film Ada Apa dengan Cinta? (2002).
Adegan Rangga membaca buku berjudul "Aku" di film "Ada Apa dengan Cinta?". (FOTO: getscoop.com)
Miles Production, rumah produksi Mira Lesmana dan Riri Riza yang telah menghasilkan AADC1, AADC2 dan sejumlah film bermutu lain, dikabarkan sedang mengarap biopic Chairil Anwar. Saya tidak tahu apakah Miles akan memakai skenario Sjuman atau memakai skenario yang sama sekali baru. Tapi kalau saya yang menjadi produser, saya akan menambahkan sebuah episode yang tidak diceritakan dalam skenario Sjuman, episode tentang Jassin yang memukul Chairil sampai terpelanting.
Kita tahu, Hans Bague Jassin dan Chairil Anwar ibarat dua sisi koin mata uang yang tak terpisahkan dalam kesusasteraan Indonesia. Jassin-lah yang mengorbitkan puisi-puisi Chairil dan menasbihkannya sebagai penyair Angkatan '45.    
Keduanya bersahabat. Jassin (1917) lebih tua 5 tahun daripada Chairil (1922). Dalam perilaku, Jassin dan Chairil juga ibarat dua sisi koin yang saling berlawanan. Jassin sopan dan tidak banyak omong,  sedangkan Chairil bergaya sembrono dan bicara meledak-ledak. Jassin yang rapi dengan tubuh agak gempal itu mengambarkan Chairil sebagai "pemuda kurus, bermata merah, dan berambut kusut".
HB Jassin
HB Jassin
Singkat cerita, pertemuan pertama mereka di Medan saat Chairil masih bersekolah di MULO (SMP) dan Jassin sudah bekerja sebagai wartawan di sana, berlanjut hingga Jassin bekerja di Balai Pustaka dan menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Panji Pustaka di Batavia (Jakarta) pada 1943.
Awal-awalnya, puisi-puisi Chairil yang diusulkan untuk diterbitkan oleh Jassin selalu ditolak Armijn Pane selaku pemimpin redaksi. Menurut Armijn, Chairil terlalu individualistik dan kebarat-baratan,  dan karena itu tidak itu tidak cocok dengan semangat Asia Timur Raya yang dikampanyekan pemerintahan Jepang saat itu. Jassin sangat menyayangkan karena ia menganggap puisi-puisi Chairil memiliki ungkapan-ungkapan yang khas dan lantang.
Chairil Anwar
Chairil Anwar
Baru pada 1945, ketika Jassin menerbitkan majalah Pantja Raja sebagai pengganti Panji Pustaka, sajak-sajak Chairil mulai bertaburan. Namanya menjulang tinggi. Tapi sifat dan sikap Chairil  tak pernah berubah.
Chairil datang ke rumah atau kantor Jassin semaunya. Dia mengangkat kaki dan berbicara begitu lantang ketika mengkritik orang. Pengarang-pengarang senor seperti Dt. Modjoindo dan Tulis Sutan Sati sebal dengan sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah seperti itu? Gantung saja dia,” kata Jassin mengutip Dt. Modjoindo.
Tiap kali Chairil datang ke rumah Jassin, ia  selalu meminjam buku-buku atau mesin ketik. Sebagian besar buku tidak dikembalikan. Tak jarang Chairil datang dengan naik becak, dan minta Jassin yang membayarnya.
Suatu ketika, seorang rekan sesama seniman menunjukkan bahwa sajak Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers tulisan Archibald MacLeash adalah sama. Jassin sempat kecewa.  Jassin bertanya-tanya, kalau pun itu sajak plagiat, kenapa bisa begitu bagus. Apakah memang sajaknya yang bagus atau terjemahannya yang bagus? Terjadilah debat di antara kawan-kawan seniman.
Ketika akhirnya Jassin berhasil menemukan puisi The Dead Young Soldiers, ia  menyimpulkan ada beberapa perbedaan yang mendasar antara kedua sajak itu.  Menurut Jassin, kata-kata dalam sajak Chairil begitu bagus dan gambarannya sangat beda dengan sajak MacLeash. Chairil, kata Jassin, tidak menerjemahkan begitu saja puisi MacLeash.
"Katakanlah, sajak MacLeash itu adalah katalisator untuk penggerak dan penciptaan. Saya merasa bahwa sajak ini sungguh-sungguh sesuatu yang dirasakan Chairil Anwar,"kata Jassin membela sahabatnya.
Tapi bukan Chairil namanya kalau tidak bikin ulah. Suatu ketika, agar dapat honor,  Chairil menerjemahkan puisi pujangga Tiongkok Hsu Chih-Mo berjudul Datang Dara Hilang Dara. Chairil hanya membubuhkan namanya sebagai pencipta, tanpa menyebut Hsu Chih-Mo.
Terpicu pada sajak yang dikirim Chairil itu, Jassin menulis esai tentang plagiarisme atau penjiplakan. Ia tidak menyebutkan secara khusus tentang sajak Tiongkok itu.  Jassin malah sengaja membalikkan bahwa ada puisi orang yang sama persis dengan puisi Chairil.
Tapi rupanya Chairil tersindir juga. Ia kemudian mendatangi Jassin yang rupanya sedang berlatih menghayati peran di belakang panggung Gedung Schouwbur (sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Jassin akan berperan sebagai seorang apoteker yang sedang tertekan dalam lakon "Api" yang ditulis dan disutradarai Usmar Ismail. 
Saat sedang serius-seriusnya latihan menjelang tampil, Chairil mondar-mandir di depan Jassin sambil mencibir.  "Hmmm.. Kamu cuma bisa menyindir-nyindir saja. Tidak ada yang lain," kata Chairil sambil menuding-nuding.
Jassin, yang sudah menghayati perannya yang tertekan, langsung berkata dengan sengit: "Saya juga bisa lebih dari itu," sambil langsung meninju dada Chairil yang kerempeng sampai terpelanting.  Keduanya pun dilerai.
Saat Jassin tampil di pentas, Chairil rupanya duduk paling depan sambil menunjuk-nunjuk Jassin. "Awas, tunggu nanti kau kubalas," mungkin begitu kata Chairil.
Setelah itu, mereka tidak bertemu berhari-hari. Jassin mendengar dari kawan-kawan bahwa Chairil akan membalas perlakuan Jassin. Chairil bahkan sering  datang ke Taman Siswa, tempat Affandi biasa melukis. Di sana Chairil berlatih angkat besi.  “Aku mau pukul si Jassin,” katanya.
Dan, akhirnya, pada suatu sore Chairil muncul di ruang tamu Jassin. Jassin pun sudah siap-siap menghadapi. Chairil kemudian berkata, "Jassin, saya lapar."  Jassin menganggap itu sebagai tanda perdamaian karena biasanya Chairil langsung saja mengambil makanan tanpa izin.
Begitulah Jassin dan Chairil
Pada yang sama dengan saat saya menulis ini, 29 April tapi  68 tahun lalu, Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet dengan diiringi oleh sahabat-sahabatnya. Ia meninggal karena sakit sehari sebelumnya. Chairil tutup usia pada usia 27, tahun tapi nama dan semangatnya akan hidup seribu tahun lagi. 
Selamat berakhir pekan. (*)
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved