Jumat, 8 Mei 2026

Demmu: Tambang Saja 26 Orang Meninggal, Bagaimana Semen?

Pemprov harus bisa menimbang, mana yang lebih menguntungkan. Semen atau pariwisata.

Tayang:
tribunkaltim.co/anjas pratama
Salah satu orator aksi demo penolakan pabrik semen di depan Kantor Gubernur Kaltim, Kamis (17/11/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Anjas Pratama

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Datangnya perwakilan warga Berau bertemu DPRD Kaltim dan perwakilan Pemprov, Senin (15/5/2017), juga menimbulkan beberapa pendapat terkait rencana dibangunnya pabrik semen di Kaltim.

Rapat yang dipimpin Ketua Komisi III, Dahri Yasin tersebut, menghadirkan beberapa perwakilan Pemprov serta DPRD Kaltim.

“Saat ini kan sudah ada warga asli Berau yang menyatakan keinginan mereka terkait pembangunan pabrik semen. Mereka menolak. Simple saja, ya tolak saja. Kan warga menolak. Kan tak apa-apa juga Kaltim tanpa pabrik semen,” ujar Mantan Dinamisator Jatam Kaltim, Baharuddin Demmu.

Ia pun memberikan perumpamaan akan apa yang terjadi pada usaha pertambangan di Kaltim saat ini.

“Dulu juga tak ada yang mengira akan ada 26 orang mati akibat pertambangan. Bagaimana semen? Tambang juga tak membuat Kaltim kaya saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Sarkowi V Zahry, anggota Komisi III lainnya, meminta Pemprov harus bisa menyiapkan kajian ekonomi menyeluruh akan hadirnya pabrik semen tersebut.

“Dimana-mana memang ada pertentangan dari ekologi dan ekonomi. Itu terjadi di beberapa daerah. Pemprov harus bisa menjelaskan kajian ekonomi menyeluruh akan hadirnya pabrik semen. Apakah Kaltim dan masyarakat sekitar benar-benar akan diuntungkan dengan hadirnya pabrik semen ? Kajian ekonomi juga tak hanya berdasarkan aspek uang, tetapi aspek ekonomi menyeluruh,” ujarnya.

Pengamat Ekonomi Unmul, Haerul Anwar juga ikut memberikan padangannya terkait gonjang ganjing setuju atau tidak setuju adanya pabrik semen tersebut.

Di satu sisi, pembangunan pabrik semen bisa digunakan sebagai peningkatan taraf ekonomi masyarakat sekitar. Tetapi, di sisi lain, lingkungan juga perlu diperhatikan.

“Misalnya di Biduk-biduk. Ini kan sejak lama dikenal sebagai kawasan pariwisata. Pemprov harus bisa menimbang, mana yang lebih menguntungkan. Semen atau pariwisata. Kalau pariwisata, perputaran ekonomi lamban, tetapi dampak lingkungan sedikit".

"Tetapi jika semen, dampak ekonominya cepat, tetapi juga memberikan kerusakan lingkungan yang besar. Jika pemerintah inginkan semen, beri jaminan pasti bahwa lingkungan tak akan terganggu. Tunjukkan teknologinya. Bagaimana penanganan debunya. Banyak yang mesti diyakinkan pemerintah kepada masyarakat. Tetapi, itu bukan hanya di mulut saja. Kejelasan harus dalam bentuk kejelasan teknis,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved