Opini Hari Lingkungan Hidup

Anak-anak Kaltim Berjuang untuk Masa Depan (yang Tidak Pernah Ada?)

Mari kita cegah agar anak-cucu kita tidak mewarisi lingkungan hidup yang porak-poranda, sumber daya alam yang terkuras habis, infrastruktur yang buruk

Anak-anak Kaltim Berjuang untuk Masa Depan (yang Tidak Pernah Ada?)
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Jalan Merdeka Samarinda mengalami banjir. Banjir semacam ini kerap kali timbul ketika hujan mengguyur, meski kadang tidak terlampau lama. Kalimantan Timur kini menghadapi persoalan lingkungan yang serius akibat eksploitasi sumberdaya alam secara masif. 

Sumberdaya Alam Habis
Kita selalu menjelek-jelekkan kolonial Belanda sebagai bangsa penjajah dan kita sangat membanggakan Pemerintah Republik Indonesia. Kita juga telah begitu terikat kuat akan nasib sebangsa dan setanah air sebagaimana juga kita telah terpatri kuat dengan ideologi Pancasila sebagai satu-satunya ideologi kita berbangsa dan bernegara dan itu sudah final.

Semua harus mengamini dan mengamalkan. Tetapi kita menjadi sadar bahwa keberadaan ideologi dan keberadaan pemerintah Republik Indonesia ataupun aparat negara seperti militer yang kuat, polisi yang kuat maupun birokrasi yang kuat tidak akan otomatis menjadikan sebuah bangsa kuat apabila tidak mampu memberikan keadilan, harapan hidup yang sejahtera dan berkesinambungan bagi seluruh rakyatnya.

Sejarah mengatakan bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Tetapi jika kita bandingkan dengan cara Pemerintah Indonesia dijaman kemerdekaan selama 72 tahun dalam hal mengeksploitasi sumber daya alam kita, saya berani mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia tidaklah lebih baik dari penjajah Belanda,

Indikatornya sederhana yaitu jika setelah menjajah selama 350 tahun Belanda masih meninggalkan bumi Kalimantan dalam keadaan asli tertutup oleh hutan alam yang lebat, maka selama 72 tahun kemerdekaan Indonesia hanya memerlukan 40 tahun kurang lebih untuk menguras habis semua sumberdaya hutan, minyak dan gas serta batubara tanpa memberikan banyak kemakmuran bagi rakyat Kalimantan. Sehingga wajar bagi kita semua yang hidup dan tinggal di bumi Kalimantan untuk bertanya masa depan seperti apa yang hendak kita wariskan atau persiapkan untuk anak-cucu kita?

Adalah sebuah tantangan besar bagi Indonesia saat ini untuk menjaga keutuhan bangsa oleh karena berbagai persoalan sosial, ekonomi, sara, politik dan budaya. Disparitas ekonomi yang tinggi antar wilayah, terutama Jawa dan luar Jawa merupakan salah satu ancaman serius bagi dis-integrasi bangsa. Penghisapan yang luar biasa atas kekayaan alam luar Jawa dan hasilnya untuk membangun Jawa. Sudah bukan rahasia bahwa jika dilihat secara teritorial luas Jawa hanya 5% dari luas seluruh Indonesia tetapi 70% anggaran negara tersedot habis untuk Pulau Jawa, sedangkan luar Jawa tidak memperoleh perhatian yang proporsional dari Pemerintah Pusat.

Suatu contoh kecil saja jika setiap tahun Kaltim menyetor ke kas negara dari hasil migas sebesar Rp. 180 trilliun dan yang kembali ke Kaltim hanya antara Rp. 5-7 trilliun, tidak perduli apakah Kaltim sedang butuh modal pembangunan yang besar, maka bukankah ini sebuah penghisapan atau penjajahan riil sumber daya alam ke Kaltim oleh Pemerintah Pusat?

Kita tidak tau sebenarnya negara ini akan mewariskan masa depan yang seperti apa untuk daerah-daerah penghasil sumber daya alam jika nantinya sumber daya tersebut telah habis. Kita bisa belajar dari fakta dan kejadian-kejadian yang ada di Kaltim, lihat saja masa depan seperti apa sebenarnya yang negara sedang siapkan untuk anak-anak kita diwilayah bekas tambang emas PT. Kelian Equatorial Mining (KEM) di kecamatan Bigung Kutai Barat?

Masa depan seperti apa untuk anak-anak kita di wilayah bekas sumur-sumur minyak pulau Bunyu Kaltara? Masa depan seperti apa untuk anak-anak kita di wilayah sumur-sumur minyak Samboja dan handil Kutai Kertanegara? Masa depan seperti apa untuk anak-anak kita diwilayah bekas pertambangan batubara Kota Samarinda? Mewariskan lubang dan persoalan lingkungan?

Lihat juga apa yang sedang pemerintah wariskan untuk masa depan anak-anak kita diberbagai wilayah kerja bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang kini tinggal gubuk-gubuk rewot dan tua bekas camp-camp yang telah ditinggalkan oleh perusahaan-perusahaan kayu?, masa depan seperti apa terhadap anak-anak kita dipedalaman yang dikelilingi oleh hutan yang telah porak-poranda oleh eksploitasi? Adakah yang mampu menjawabnya?

Di berbagai kesempatan seminar maupun konferensi ataupun perjuangan-perjuangan Dana Bagi Hasil sumberdaya alam (DBH SDA), saya selalu mengatakan bahwa dari seluruh nilai total eksploitasi sumberdaya alam yang dihasilkan oleh bumi Kalimantan Timur, tidak sampai 5% yang kembali ke Kaltim dan tidak sampai 2% yang benar-benar dinikmati oleh rakyat. Sehingga disana-sini yang terjadi sesungguhnya adalah subsidi rakyat Kaltim terhadap operasional perusahaan eksploitasi sumber daya alam.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved