Mungkin Tempe Akan Jadi Menu Makanan Astronot? Ini Riset Siswa Indonesia yang Dibawa NASA

Kini penelitan tersebut telah berada di ISS setelah meluncur selama 36 jam dari landasan luncur (launch pad) nomor 39-A di Pusat Antariksa Kennedy AS

Mungkin Tempe Akan Jadi Menu Makanan Astronot? Ini Riset Siswa Indonesia yang Dibawa NASA
(handout/Eka Trisno)
Eka Trisno Samosir dan salah seorang siswanya saat berada di NASA Amerika Serikat pada akhir Januari 2017 lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Sekelompok siswa Indonesia mengambil bagian dalam penelitan luar angkasa yang dilakukan bersana NASA. Misi peluncuran itu merupakan kontrak ke-11 Commercial Resuply (CRS) dari NASA bersama kotraktor perusahaan swasta SpaceX.

Sebanyak delapan siswa dan dua mahasiswa DEL Laguboti, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, mengirimkan penelitannya untuk mengetahui pengaruh mikrogravitasi terhadap kecepatan proses fermentasi kacang kedelai dalam pembuatan tempe di Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

Penelitian itu dimulai saat Profesor Joko Waluyo Saputro, Project Coordinator Indonesia Space Research Group, menghubungi beberapa sekolah untuk mengirimkan proposal ide. Ternyata, proposal SMA Unggulan DEL pun diterima dengan baik.

Guru pendamping para siswa, Eka Trisno Samosir, mengatakan, penelitian tersebut dilakukan untuk melihat kecepatan proses fermentasi kacang kedelai di luar angkasa. Bila berhasil, tempe akan menjadi salah satu pilihan makanan para astronot dan manusia bila tidak lagi menjadi penghuni bumi.

“Ini penelitian lanjutan dari 2016 lalu yang telah menyatakan bahwa ragi bisa tumbuh di ISS. Penelitan kedua ini hipotesisnya fermentasi akan berjalan lebih cepat. Kalau di bumi bisa menghabiskan waktu 2-3 hari. Di ISS bisa 1 hari,” kata Eka saat dihubungi Kamis (8/6/2017).

Untuk menguji hal itu, biji kacang kedelai dikeringkan menggunakan kipas angin dengan kecepatan reguler. Proses pengeringan dilakukan selama 10 jam untuk mengeringkan air di dalam biji kacang setelah melewati perebusan.

Lalu, untuk memastikan hilangnya air, biji kacang dibiarkan selama beberapa hari. Bila tidak membusuk, ragi ditaburkan di permukaan biji kacang dan kembali didiamkan selama satu bulan.

“Kemudian kami beri air karena biji kacang telah kehilangan air sebelumnya. Ternyata air yang dibutuhkan lebih banyak dari pada air yang dikeringkan. Perbedaan ukurannya mililiter, tapi cukup berpengaruh. Setelah dua sampai tiga hari, raginya tumbuh,” kata Eka.

Pengujian itu dilakukan untuk mengetahui kondisi yang diperlukan agar ragi tidak tumbuh sebelum sampai di ISS. Setelah pengeringan di bumi, sebuah program yang diinstal di laboratorium mikro akan mengatur pemberian ragi. “Program baru berjalan setelah astronot di ISS mencolokkan listrik ke laboratorium mikro,” ucap Eka.

Meski demikian, objek penelitan tidak boleh sembarangan dan harus mendapat persetujuan dari NASA. Hal itu dilakukan untuk menjaga keselamatan astronot dan wahana antariksa di ISS.

Halaman
12
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved