Opini

Tabrakan Mengerikan Dua Pesawat Nyaris Terjadi di Cengkareng, Apa Faktor Penyebabnya?

Dapat dibayangkan dengan infrastruktur dan sarana yang ada, maka keahlian petugas ATC dan Keterampilan Pilot akan menjadi taruhannya.

Tabrakan Mengerikan Dua Pesawat Nyaris Terjadi di Cengkareng, Apa Faktor Penyebabnya?
KOMPAS.com/HENDRA CIPTO
Ilustrasi: Petugas AirNav memantau pergerakan pesawat 

Tahun lalu saya mendengar SHIA sudah digenjot untuk mampu melayani 70 hingga 72 pesawat terbang take off / landing dalam satu jam, yang konon akan ditingkatkan lagi hingga 76 atau 78 take off / landing per jam.

Dapat dibayangkan dengan infrastruktur dan sarana yang ada, maka keahlian petugas ATC dan Keterampilan Pilot akan menjadi taruhannya.

Sekali lagi ini adalah hasil dari pertumbuhan penumpang yang sangat pesat yang telah bergerak sejak kurun waktu 15 - 10 tahun lalu . Pertumbuhan yang tidak diiringi dengan seimbang dalam hal ketersediaan infrastruktur dan SDM penerbangan.

Belum lagi secara organisasi ATC kita pun baru saja mengalami perbaikan dari beberapa institusi yang dilebur menjadi satu (ATC single provider) dengan tampilan sebagai LPPNPI (Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Indonesia) atau Indonesia AirNAv.

Hal ini membuat proses pemecahan masalah menjadi tidak mudah untuk dapat segera dilaksanakan di lapangan.

Salah satu terobosan yang kiranya dapat membantu untuk memperoleh solusi yang terbaik adalah dengan membangun sistem ATFM, Air Traffic Flow Management. Dengan ini dimaksudkan dapat dimulainya pembenahan sistem Air Traffic dengan memperhitungkan secara menyeluruh dalam satu paket pengaturan sejak pesawat bergerak di darat hingga titik tujuan.

Gerakan pesawat di darat, "ground movement", pengaturan "air space" yang menyangkut prosedur keberangkatan dan kedatangan serta alur penerbangan atau "air-ways" sudah waktunya dilebur dalam satu sistem pengaturan yang terpadu dan di-support oleh peralatan dan teknologi yang memadai.

Disisi lain, masukan dari petugas ATC di lapangan dan keluhan para pilot dalam menghadapi kepadatan traffic perlu pula untuk didengar dalam konteks proses pengambilan keputusan terutama dalam hal sampai seberapa banyak jumlah take off / landing per jam dapat dikerjakan bersama di SHIA dengan faktor keselamatan yang tinggi derajatnya.

Dengan demikian diharapkan tidak akan muncul lagi keluhan para penumpang yang mengalami ketakutan saat mendarat di SHIA seperti yang dilansir berita kemarin.

Saya menaruh respek dan salut bagi semua petugas ATC dan para pilot kita yang sampai dengan sekarang ini dapat survive menghadapi tantangan berat dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari belakangan ini.

Mereka orang-orang yang penuh dedikasi dalam bekerja di tengah-tengah keterbatasan yang dihadapinya. The show must go on, akan tetapi faktor keselamatan penerbangan harus tetap menjadi prioritas utama.(*)

Artikel ini dipublikasikan di Kompas.com dengan judul: "Mengapa Ada Pesawat Terbang Hampir Tabrakan di Cengkareng?

Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved