Tak Mudah Tembus Jurnal Internasional, Beberapa Dosen Ini Terbantu Jejaring di Luar Negeri

Ini tak lepas dari jejaring, Fahutan yang memang sudah sangat lama dalam kerja sama dengan lembaga atau personal luar negeri.

Tak Mudah Tembus Jurnal Internasional, Beberapa Dosen Ini Terbantu Jejaring di Luar Negeri
TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HADI PRASETYO
Ilustrasi. Gedung Dekanat Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman di kampus Gunung Kelua, Samarinda. Fakultas Kehutanan pernah menjadi fakultas paling diminati para mahasiswa yang ingin masuk Unmul. 

Laporan wartawan Tribunkaltim.co, Anjas Pratama

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Menyandang Akreditasi A, membuat Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda kini bergegas meningkatkan publikasi jurnal internasional di tiap-tiap fakultas. Perkembangan jurnal internasional di Unmul sendiri sebenarnya sudah mulai ada sejak era 80-an.

Data yang diberikan Haviluddin, Ketua Pusat Publikasi Karya Ilmiah Unmul, Senin (19/6), publikasi jurnal sudah ada sejak 1987. "Jurnal yang terindeks scopus sudah ada sejak 1987. Tahun-tahun berikutnya, Unmul rutin menghasilkan jurnal-jurnal internasional," ujarnya.

Meski sudah dimulai lama, intensitas jumlah penerbitan jurnal internasional tersebut, tidaklah banyak, berkisar 1-7 jurnal per tahun. Barulah sejak era Millenial, Unmul mulai banyak mengirimkan jurnal yang terindeks scopus. Sebagai informasi, indeks scopus adalah salah satu tolak ukur akan jurnal yang bereputasi baik.

"Pada tahun 2009, jurnal internasional yang terindeks scopus dari Unmul jumlahnya sudah mencapai lebih 10 jurnal. Terus meningkat tahun 2010, yakni 12 jurnal, hingga akhirnya mencapai angka 44 jurnal di tahun 2017 ini. Paling banyak jurnal internasional yang terbit yakni pada 2016, yaitu 49 jurnal. Itu data terbaru per 18 Juni ini," kata Haviluddin.

Sementara, berdasarkan keseluruhan jurnal internasional, Unmul sampai saat ini sudah berhasil ikut andil dalam 516 jurnal internasional yang semuanya dihasilkan dari gabungan beberapa fakultas.

"Fakultas Kehutanan menjadi terbanyak 227 Paper, dengan jumlah dijadikan rujukan 1.661 kali. Disusul Fakultas MIPA dengan 86 paper dan dijadikan rujukan 429 kali," ujarnya.

Lebih lanjut, berdasarkan data jumlah penulis jurnal internasional, per 18 Juni 2017, sudah ada 194 penulis dari Unmul yang berhasil menembus seleksi penerbitan jurnal internasional. Fakultas Kehutanan kembali menjadi yang pertama akan jumlah penulis terbanyak tersebut.

"Ini tak lepas dari jejaring, Fahutan yang memang sudah sangat lama dalam kerja sama dengan lembaga atau personal luar negeri. Network kan juga menjadi salah satu faktor memudahkan penerbitan jurnal," ujar Dosen Fahutan Unmul, Irawan Wijaya Kusuma.

Minimnya beberapa penerbitan jurnal internasional di beberapa fakultas baru di Unmul, juga ikut dijelaskan Dekan Fakultas Hukum, Ivan Zairani Lisi. Meski di beberapa fakultas, persentase penerbitan jurnal internasional sudah mulai banyak, namun tidak terjadi untuk fakultas baru,
seperti Fakultas Hukum dan Ilmu Budaya.

Ivan pun mengakui tingkat persaingan untuk bisa menerbitkan jurnal internasional, khususnya bidang hukum juga cukup ketat, sehingga menjadi faktor belum adanya jurnal internasional di bidang hukum yang dihasilkan Fakultas Hukum Unmul saat ini.

Dosen-dosen yang sudah Doktor, agar bisa hasilkan jurnal internasional. Persentase dosen Doktor di Fakultas Hukum, sekitar 20 persen (9 orang), sisanya lulusan S2. Ia juga menuturkan, pasti ada langkah bertahap, yang dilakukan Fakultas Hukum, hingga akhirnya bisa secara rutin hasilkan jurnal internasional. (*)

Penulis: Anjas Pratama
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved