Langgar Maklumat Sultan Kutai, Warga Tetap Siram Air Pengendara Motor

Padahal Sultan Kutai sudah mengingatkan prosesi Belimbur tidak dilakukan di jalan umum yang dilalui pengendara bermotor.

Langgar Maklumat Sultan Kutai, Warga Tetap Siram Air Pengendara Motor
tribunkaltim.co/rahmat taufiq
Seorang pengendara motor dan penumpangnya tak bisa luput dari guyuran air saat Belimbu. 

TRIBUNKALTIM.CO – Maklumat Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mengenai ketentuan belimbur dilanggar sebagian warga. Beberapa area di luar lokasi belimbur masih dijumpai warga sekitar menyiramkan air kepada sejumlah pengendara motor yang lewat, Minggu (30/7).

Bahkan banyak warga ditemui di pinggir jalan sudah melaksanakan belimbur lebih dulu, sebelum prosesi adat Sultan naik rangga titi. Padahal sesuai maklumat, belimbur dimulai setelah upacara adat di rangga titi, yakni pukul 11.00-14.00. Beberapa anak di Jalan Gunung Pasir menyiapkan ember berisi air dan gayung.

Setiap pengendara yang lewat disiram air sejak pagi. Padahal Jalan Gunung Pasir merupakan di luar area belimbur yang ditetapkan, yakni sepanjang jalur Mangkurawang, Jl AM Sangaji, Jl Diponegoro, Jl Sudirman, Jl Ahmad Muksin dan Jl Woltermonginsidi.

Selain itu, prosesi belimbur juga bisa ditemui hampir di setiap jalan Tenggarong, seperti Jalan Pesut, DI Panjaitan, Kartini hingga Gunung Gandek. Bahkan, warga di Jl Pesut menyiramkan air es ke tiap pengendara motor. Karena tak bisa menghindar, mereka pun harus rela diguyur air hingga pakaian basah kuyup.

Beberapa pengendara motor menolak untuk disiram namun warga di pinggir jalan tak mengindahkan. Warga tetap menyiramkannya tanpa ampun. Usai belimbur, kondisi jalanan kota Tenggarong tak hanya basah, tapi juga dipenuhi sampah plastik bekas dipakai belimbur.

Sementara itu, ribuan warga memadati halaman Museum Mulawarman, Jalan Diponegoro Tenggarong. Mereka ingin menyaksikan prosesi Belimbur yang menjadi puncak dari rangkaian kegiatan Pesta Adat Erau. Acara belimbur memang dipusatkan di Museum Mulawarman.

Prosesi belimbur ditandai dengan ritual Sultan Adji Muhammad Salehoeddin II naik rangga titi atau balai yang terbuat dari bambu. Sebelumnya, acara belimbur diawali prosesi Ngulur Naga. Sepasang Naga digotong belasan prajurit Kesultanan dari Keraton atau Museum Mulawarman, lalu diturunkan ke kapal yang merapat di depan museum.

Kapal itu membawa sepasang naga menuju ke Kutai Lama, Anggana untuk dilarungkan. Dalam prosesi naik rangga titi, sultan akan memercikkan air tuli, yakni air suci yang dibawa dari Kutai Lama. Tak lama, prosesi belimbur pun dimulai.

Lima unit mobil pemadam menyemprotkan air ke ribuan warga. Warga bersorak penuh suka cita. Pakaian mereka basah kuyup. Mereka saling menyiramkan air dari kantong plastik gula atau botol air mineral.
Bupati Kukar Rita mengatakan prosesi Ngulur Naga sebelum acara belimbur menjadi ikon Pesta Adat Erau selama ini, tidak hanya di Kaltim, tapi juga level nasional, bahkan internasional.

“Lewat kegiatan Erau ini, Kukar makin dikenal dunia, menambah pendapatan daerah, serta membangkitkan ekonomi kerakyatan. Saya gembira ketika datang ke Expo Erau ada kurang lebih 15 ribu pengunjung tiap hari yang berkunjung,” ujar Rita. Dalam kegiatan belimbur kemarin, Rita didampingi Dubes Seychelles, Nico Barito.

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: M Abduh Kuddu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved