Dituntut Jaksa 12 Tahun Penjara Hakim Malah Bebaskan Kakek Pembawa Sabu

Hakim berpendapat, terdakwa tidak mengetahui jika barang yang dibawanya merupakan narkotika golongan I jenis sabu

Dituntut Jaksa 12 Tahun Penjara Hakim Malah Bebaskan Kakek Pembawa Sabu
tribunkaltim.co/niko ruru
Kepala BNNK Nunukan Komisaris Polisi Lamuati (kemeja putih lengan panjang) saat menyaksikan pemusnahan barang bukti narkotika golongan I jenis sabu di Mapolres Nunukan. 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Hasrul Syafruddin tak bisa membendung kegembiraannya. Melalui media sosial facebook miliknya, dia menulis, "Alhamdulillah terima kasih ya Allah putusan bebas buat terdakwa Latellu Bin Mustakin dibebaskan oleh majelis hakim pengadilan negeri Nunukan dari tuntutan jaksa 12 tahun penjara melanggar pasal alternatif 1 pasal 114 dan alternatif 2 pasal 112 undang-undang narkotika."

Hasrul merupakan penasihat hukum terdakwa Latellu bin Mustakin (73). Kakek yang dituding membawa sabu seberat 50 gram itu dibebaskan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Nunukan yang diketuai Seti Handoko, pada Selasa (8/8) setelah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Sungai Jepun, Kecamatan Nunukan Selatan sejak Januari silam.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan, Nurhadi mengatakan, dalam amar putusannya itu, hakim menyatakan Latellu tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif pertama dan kedua. Sehingga hakim membebaskan terdakwa dari semua dakwaan penuntut umum.

"Memerintahkan terdakwa dibebaskan dari dalam tahanan, memulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabatnya. Membebankan biaya perkara kepada negara," bunyi putusan hakim sebagaimana disebutkan Nurhadi, Rabu (9/8).

Hakim berpendapat, terdakwa tidak mengetahui jika barang yang dibawanya merupakan narkotika golongan I jenis sabu.

Dalam putusannya itu, hakim juga meminta barang bukti sabu seberat 50 gram disita untuk negara agar dimusnahkan, termasuk barang bukti lain berupa telepon seluler milik terdakwa dikembalikan.

"Tuntutan kami 12 tahun penjara kemarin. Hakim memberikan vonis bebas, wajib kasasi. Nanti kalau perintahnya terdakwa ditahan lagi? Saya cari ke Barru Sulawesi sana," katanya.

Nurhadi mengaku bingung dan keberatan terhadap pertimbangan dalam putusan hakim tersebut. Dia yakin, penuntut umum telah menyajikan sejumlah bukti untuk menunjukkan terdakwa benar bersalah.

Dia juga kecewa karena terdakwa memerankan perilaku yang berbanding terbalik dengan fakta persidangan. Terdakwa mengaku tidak bisa membaca atau hanya mengerti bahasa daerah tanpa faham Bahasa Indonesia. "Kenyataannya bisa," ujarnya.

Penuntut umum bahkan pada persidangan bisa membantah sangkalan terdakwa yang mengaku barang bukti sabu bukan miliknya.

"Terdakwa nyata bersalah. Jaksa memiliki bukti percakapan telepon terdakwa dengan orang yang akan menjemput barang yang dibawanya. Mulai pertama kali masuk Nunukan dari Malaysia melewati jalur ilegal Kalabakan, naik KM Cathleya Ekspress juga tidak melalui X-Ray," ujarnya.

Kondisi seperti ini menunjukkan terdakwa mengetahui barang yang dibawanya. "Tetapi hakim mengatakan kami tidak bisa membuktikan, bahwa terdakwa tahu barang yang dibawanya," katanya.

Terhadap putusan dimaksud, pihaknya akan melakukan kasasi. "Karena terdakwa mendapat vonis bebas, kami melakukan kasasi," ujarnya.

Latellu ditangkap personel Satuan Reserse Narkoba Polres Nunukan pada 7 Januari 2017, di atas KM Catleya Dek III Nomor EL 272. Saat itu dari tangan terdakwa diperoleh sabu sebanyak 1 bal dengan berat mencapai 50 gram. (*)

Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved