4 Kucing Hutan Khas Kalimantan Dilarang Diperdagangkan, Ini Alasannya

Kategori langka, terancam punah pada hewan, dapat diukur melalui CITES (Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna & Flora)

4 Kucing Hutan Khas Kalimantan Dilarang Diperdagangkan, Ini Alasannya
GRAFIS/TRIBUNKALTIM
kucing 

TRIBUNKALTIM.CO - Kategori langka, terancam punah, maupun jarang ditemui pada hewan, dapat diukur melalui CITES atau Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora (Konvensi Perdagangan Internasional untuk Spesies-spesies Flora dan Satwa Liar). CITES merupakan suatu perjanjian internasional yang sudah mulai dilakukan sejak 1975.

Indonesia, telah menjadi bagian dari CITIES sejak 1978. Saat ini total keseluruhan anggota CITIES adalah 175 negara.

Baca: VIDEO - Pembagian Daging Kurban di Islamic Center Samarinda, Nyaris Rusuh

Fokus utama CITES adalah memberikan perlindungan pada flora/satwa liar kemudian mengelompokkan species berdasarkan Appendices mereka.

Appendices I merupakan daftar seluruh satwa liar yang dilarang dalam bentuk perdagangan internasional. Appendices II merupakan daftar species yang tidak terancam kepunahan, tetapi berkemungkinan untuk punah, jika perdagangan terus dilakukan tanpa pengaturan. Sementara Appendices III, merupakan daftar species yang dilindungi di negara tertentu dalam batas-batar kawasan habitat mereka.

Menengok pada keluarga Felidae, dari 5 species kucing hutan yang ada di Kalimantan, empat di antaranya termasuk dalam Appendices I, yakni Macan Dahan, Kucing Batu, Kucing Tandang, serta Kucing Kuwuk.

Baca: Meledak! Video Lipsync Wanita Gemuk Ingatkan Aksi Norman Kamaru, Ekspresinya Mengocok Perut

Hal ini berdasarkan daftar Appendices yang dikeluarkan CITIES per 10 Maret 2016. Sedangkan Kucing Merah, masuk dalam golongan Appendices II.

“Masuknya, semua species kucing hutan yang ada di Kalimantan di Appendices I dan II, membuat mereka menjadi satwa yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah karena status mereka yang sudah masuk dilarang diperjual belikan dan juga termasuk bisa mengalami kepunahan,” ujar Rustam, peneliti yang juga Dosen Fakultas Kehutanan Unmul Samarinda ini. (*)

Penulis: Anjas Pratama
Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved