Erupsi Gunung Agung

Terungkap, Ternyata Ini Daya Tarik Gunung Agung bagi Wisatawan Mancanegara

Selain wisatawan Indonesia, wisatawan mancanegara juga gemar melakukan pendakian Gunung Agung di Bali.

Terungkap, Ternyata Ini Daya Tarik Gunung Agung bagi Wisatawan Mancanegara
KOMPAS.COM/FIKRIA HIDAYAT
Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas menuruni puncak Gunung Agung (3.142 mdpl), Bali, Kamis (6/10/2011). Gunung stratovolcano ini terakhir meletus dahsyat 1963 menelan korban jiwa 1.148 orang. Latar belakang di kejauhan terlihat kaldera Gunung Batur. 

Gunung Agung (3.142 mdpl), Bali, Kamis (6/10/2011). Gunung stratovolcano ini terakhir meletus dahsyat 1963 menelan korban jiwa 1.148 orang. " data-aligment="" data-width="780px">TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Selain wisatawan Indonesia, wisatawan mancanegara juga gemar melakukan pendakian Gunung Agung di Bali.

Berbagai wisatawan mancanegara dari negara Eropa dan Asia suka mendaki Gunung Agung.

"Setiap malam itu ada pendaki asing, lokal dan dari Bali yang mendaki Gunung Agung. Pendaki asing itu dari Perancis, Jerman, Belanda, Malaysia, India, Singapura, dan China," kata Koordinator Pemandu Pendakian Gunung Agung, Komang Kayun saat dihubungi KompasTravel, Senin (25/9/2017).

Baca: Dari Berdebar hingga Berpelukan, Beginilah Reaksi Pengungsi Gunung Agung saat Dikunjungi Jokowi

Baca: Jhoni si Pemandu Pendakian di Gunung Agung Bikin Cemas Netizen, Semoga Kamu Selamat

Baca: Gunung Agung Erupsi, Bandara SAMS Balikpapan Siap Tampung Penerbangan Internasional

Ia mengatakan wisatawan mancanegara menggemari pendakian Gunung Agung karena mengetahui status Gunung Agung yakni sebagai gunung terbesar dan tertinggi di Bali.

Selain itu, Komang Kayun menyebut, wisatawan mancanegara juga ingin menikmati pemandangan yang bisa terlihat dari puncak Gunung Agung.

Dua wisatawan berfoto dengan latar belakang Gunung Agung, di Desa Batu Niti yang berjarak sekitar 12 kilometer dari gunung berstatus awas itu, Karangasem, Bali, Senin (25/9/2017). Sebagian warga yang tinggal di kawasan rawan bencana di lereng timur laut Gunung Agung masih belum mengungsi meski gunung berstatus awas dan mereka telah dihimbau untuk meninggalkan kampung.
Dua wisatawan berfoto dengan latar belakang Gunung Agung, di Desa Batu Niti yang berjarak sekitar 12 kilometer dari gunung berstatus awas itu, Karangasem, Bali, Senin (25/9/2017). Sebagian warga yang tinggal di kawasan rawan bencana di lereng timur laut Gunung Agung masih belum mengungsi meski gunung berstatus awas dan mereka telah dihimbau untuk meninggalkan kampung. (ANTARA FOTO/NYOMAN BUDHIANA)

"Mereka bisa melihat pemandangan dari ketinggian. Mereka ingin bisa melihat Gunung Rinjani di Lombok, matahari terbit, Gunung Batur dan Danau Batur. Sepanjang perjalanan bisa melihat pepohonan dan sejarah-sejarah di Gunung Agung," katanya.

Namun, meski digemari wisatawan mancanegara, jumlah kunjungan dalam setahun pun tak banyak.

Komang Kayun menyebut Gunung Agung jarang didaki oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Salah satu alasan sedikitnya wisatawan yang mendaki Gunung Agung karena sedikitnya waktu untuk mendaki.

Halaman
12
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved