Ritual Adat 'Bedibai' Dilaksanakan di Komplek Kesultanan Bulungan
Ritual Adat ini menjadi salah satu acara yang paling mendapatkan perhatian warga, khususnya tamu-tamu yang hadir
Penulis: Doan E Pardede | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Peringatan HUT ke-227 Kota Tanjung Selor dan HUT ke-57 Kabupaten Bulungan digelar secara sederhana di komplek Kesultanan Bulungan, Kecamatan Tanjung Palas, Kamis (12/10).
Walau tak semeriah tahun-tahun sebelumnya, beberapa kegiatan seperti ritual adat atau dalam bahasa Bulungan disebut Bedibai tetap dilaksanakan.
Ritual Adat ini menjadi salah satu acara yang paling mendapatkan perhatian warga, khususnya tamu-tamu yang hadir.
Sesuai penjelasan pemandu acara, Bedibai ini merupakan salah satu agenda dalam Kesultanan Bulungan, yang biasa dilaksanakan saat perhelatan Pesta Rakyat Birau. Tujuannya, meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk menjaga keselamatan dan kesehatan, dan agar terhindar dari segala mara bahaya dan bencana. Juga sebagai doa agar para pemimpin tetap sejahtera, panjang umur, dan terhindar dari segala mara bahaya.
Beberapa perlengkapan dalam ritual adat ini antara lain Mahligai, miniatur Rumah Kayan, Biduk Babandung, Biduk Kayan, Kelengkeng, dan sesajen. Ritual adat ini dilaksanakan dalam bahasa Bulungan, diiringi musik, dan disebutkan berlangsung dalam suasana magis.
Nantinya, perlengkapan-perlengkapan ini akan disimpan di beberapa titik di Kabupaten Bulungan, di antaranya di Gunung Putih, Lapangan Agathis, Tugu Telur Pecah, dan di beberapa lokasi lainnya.
Dalam ritual adat ini, dengan diiringi alunan musik, sang nenek dengan kipas di tangan tampak menari mengitari replika Biduk Babandung, Rumah Kayan dan perlengkapan lainnya. Dalam beberapa kesempatan, sang nenek juga memasukkan lilin menyala ke dalam mulut, tak ubahnya seperti seseorang yang sedang merokok.
"Di dunia nyata nenek ini tidak bisa merokok dengan lilin. Ini karena ada roh yang masuk ke dalam tubuhnya," kata pemandu acara dalam penjelasannya kepada warga dan tamu yang hadir.
Sesekali, sang nenek juga menyampaikan beberapa kalimat dalam bahasa Bulungan, yang sesuai penjelasan pemandu acara adalah pesan-pesan dari para leluhur. Di antaranya, leluhur meminta agar ke depannya perayaan HUT ini bisa lebih meriah dari saat ini. "Sabar ya nek, di sini juga ada Pak Bupati dan Pak Wakil Gubernur," kata pemandu acara.
Lebih jauh, Ketua Lembaga Adat Bulungan (LAB), Datu Buyung Perkasa menjelaskan, ritual adat ini memang harus selalu ada dalam perayaan HUT setiap tahunnya. "Tujuannya, agar semua warga baik yang sakit, semua masyarakat yang ada, mendapat anugerah dari Yang Maha Kuasa," jelasnya.
Untuk lokas-lokasi penyimpanan perlengkapan ritual adat, masih-masing memiliki makna tersendiri. Seperti tempat para kerabat Sultan, untuk Adat Kayan, tempat Sultan dulu pernah bermukim dan berkebun. Khusus untuk penyimpanan di lapangan Agathis, agar berbagai kegiatan yang biasa dilaksanakan di tempat tersebut bisa berjalan dengan lancar, "Jadi ada 5 sesajen yang kita simpan, termasuk di rumah Perdana Menteri," jelasnya.
Bupati Bulungan, Sudjati mengakui bahwa karena APBD sangat terbatas, anggaran yang dialokasikan untuk perayaan HUT Kota Tanjung Selor dan HUT Kabupaten Bulungan tahun 2017 ini, memang sangat minim. Semangat yang ada saat ini, kata Sudjati, semata-mata agar peringatan HUT ini tidak dilupakan, atau bahkan hilang. "Anggaran kita alokasikan di Dinas Pendidikan. Tapi nggak seberapalah. Untuk selamatan ini saja," katanya.
Pemkab Bulungan juga berharap agar perayaan HUT di tahun-tahun berikutnya bisa lebih meriah. Oleh karena itulah, keuangan Pemkab Bulungan juga diharapkan bisa terus membaik. Dan tidak menutup kemungkinan, untuk perayaan di tahun-tahun yang akan datang, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Bulungan, khususnya perusahaan besar, akan diminta untuk turut memberikan kontribusi. "Tahun depan kita harapkan lebih baiklah," katanya.(*)
PERINGATAN HUT Kota Tanjung Selor dan HUT Kabupaten Bulungan tahun 2017 yang berlangsung sederhana di seputaran Museum Kesultanan Bulungan di Kecamatan Tanjung Palas, Kamis (12/10) ternyata mendapat perhatian khusus dari Wakil Gubernur Kaltara, Udin Hianggio.
Menurut Udin, pelestarian adat, budaya, yang sudah dicanangkan oleh para pendahulu, memang harus dipikirkan bersama-sama. Bukan hanya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Bulungan, tapi juga Pemprov Kaltara.
Dia juga mengaku mengapresiasi komitmen Pemkab Bulungan dan Lembaga Adat Kabupaten Bulungan, walau dengan kondisi anggaran yang sangat terbatas, tetap berupaya maksimal agar perayaan HUT bisa berlangsung setiap tahunnya.
"Mudah-mudahan ke depannya ada sinergitas antara kita, Kabupaten dan Provinsi dalam melestarikan budaya bangsa kita," kata Udin.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/hut-bulungan_20171012_173527.jpg)