Inflasi 635% Indonesia Pernah Terpuruk. Ngeri, Di Negeri Kaya Minyak Ini Empat Kali Lebih Tinggi

gelombang krisis politik yang melanda Venezuela sejak tahun 2014 telah amat memberatkan kegiatan ekonomi.

Ratusan warga permukiman kumuh berunjuk rasa menuju ke Istana Presiden Venezuela di Caracas untuk mempertanyakan kelangkaan bahan makanan di negeri itu. JUAN BARRETO / AFP 

TRIBUNKALTIM.CO, NEW YORK - Inflasi indeks harga konsumen (IHK)Venezuela diprediksi bisa melonjak hingga lebih dari 2.300 persen pada tahun 2018.

Angka ini adalah prediksi tertinggi bagi sebuah negara oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Mengutip Bloomberg, Senin (16/10/2017), gelombang krisis politik yang melanda Venezuela sejak tahun 2014 telah amat memberatkan kegiatan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Venezuela diprediksi terkontraksi 6 persen pada tahun 2018.

Sementara itu, hingga akhir tahun ini, pertumbuhan ekonomi Venezuela ditaksir terkontraksi 12 persen.

Hal ini diungkapkan IMF dalam laporan teranyarnya bertajuk World Economic Outlook yang dipublikasikan pada pekan lalu.

Meskipun bank sentral Venezuela telah berhenti mempublikasikan data inflasi sejak Desember 2015, namun IMF menyatakan inflasi IHK negara kaya cadangan minyak tersebut mencapai 2.349,3 persen pada 2018.

Ini adalah estimasi tertinggi IMF bagi sebuah negara, diikuti oleh Republik Demokratik Kongo sebesar 44 persen.

Sejalan dengan merosotnya produksi minyak dan meningkatnya ketidakpastian, angka pengangguran di Venezuela diproyeksikan mencapai 30 persen pada 2018.

Ini juga merupakan estimasi tertinggi IMF, diikuti Afrika Selatan sebesar 28 persen dan Yunani sebesar 21 persen.

Venezuela saat ini sudah tidak memperbarui data-data statistik perekonomiannya lagi. Kondisi ini membuat para ekonom sulit memprediksi apa yang sebenarnya terjadi di negara itu karena lemahnya data.

Krisis politik di Venezuela berdampak kepada krisis ekonomi dan sosial yang parah. Mata uang bolivar terus melemah, warga Venezuela kelaparan dan terjangkit beragam penyakit karena minimnya persediaan makanan dan obat-obatan.

Sebagai perbandingan, Indonesia dalam sejarahnya pernah mengalami inflasi tertinggi sebesar 635 persen tahun 1966.

Dikutip dari Bank Indonesia, hal itu terjadi karena pemerintah mencetak uang baru dan terjadi perubahan nilai mata uang.  Meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk merealisasi program, baik di bidang politik maupun ekonomi juga turut memperparah kondisi.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved