Kisah di Balik Bergugurannya Supermarket Giant, Apakah Ini Pertanda Turunnya Ekonomi Malaysia?

Pemerintah Malaysia segera merespons tutupnya sejumlah gerai supermarket Giant pada 5 November mendatang.

Pengunjung memilih barang obral di Giant Shah Alam City Centre Mall, Malaysia, Sabtu (28/10/2017). (Hasnoor Hussain untuk The Malaysian Insight) 

TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah Malaysia segera merespons tutupnya sejumlah gerai supermarket Giant pada 5 November mendatang. Bagaimana komentarnya?

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak lima cabang Giant tutup menyusul langkah perusahaan untuk tidak memperpanjang kontrak leasing mereka.

Dalam pernyataan resminya, GCH Retail Malaysia selaku pemilik Giant Malaysia mengatakan, keputusan menutup toko tak terhindarkan sebagai upaya "menata kembali operasional untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas".

Pengumuman tutupnya lima toko Giant itu sontak menjadi viral di media sosial. Warganet Malaysia umumnya mengaitkan peristiwa itu dengan turunnya kondisi perekonomian negeri jiran.

Terkait hal tersebut, Menteri Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi, dan Konsumerisme Malaysia Datuk Seri Hamzah Zainudin membantah anggapan bahwa kondisi ekonomi menjadi penyebab utama tutupnya Giant.

Ia mengatakan, keputusan penutupan lima gerai Giant murni dibuat oleh GCH Retail Malaysia selaku pemilik Giant di negara tersebut. Penutupan itu, lanjut Hamzah, merupakan bagian dari strategi bisnis perusahaan.

"Mereka (GCH Retail Malaysia) ingin merampingkan gerai mereka dan mencari tempat lain yang lebih kecil. Mereka masih bernegosiasi dan ini tidak ada kaitannya dengan ekonomi negara,” tutur Hamzah seperti dilansir New Straits Times, Selasa (31/10/2017).

Menurut Hamzah, publik selayaknya memahami bahwa setiap pengusaha perlu mengambil risiko saat berbisnis. Dalam kasus tutupnya Giant, risiko tersebut adalah menghadapi persaingan dengan peritel maupun supermarket lainnya.

Giant di Malaysia(Bernama)
Giant di Malaysia(Bernama) 

Selain itu, kata dia, tren saat ini adalah menjamurnya belanja daring (online) di kalangan masyarakat. Hal tersebut membuat peritel mesti lebih kompetitif untuk menarik pelanggan.

"Tesco telah menjual hipermarket mereka di Korea Selatan, apakah itu berarti negaranya akan bangkrut? Itu adalah strategi pemilik perusahaan untuk menjamin kelanjutan bisnis mereka,” cetusnya.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved