Penduduk Miskin Berau Bertambah

Jumlah penduduk miskin di Berau pada tahun 2014 sebanyak 9.770 jiwa atau sebesar 4,76 persen, kemudian di tahun tahun 2015

TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
KEMISKINAN MENINGKAT - Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo saat menyambangi dan memberikan bantuan kepada warga tidak mampu. Peningkatan jumlah penduduk miskin tidak hanya terjadi di Kabupaten Berau, namun juga terjadi di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Sejak tahun 2014, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Berau terus meningkat. Diperkirakan, meningkatnya jumlah penduduk miskin tersebut merupakan dampak krisis ekonomi yan terjadi secara nasional.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, Hotbel Purba melalui Kasi Statistik Sosial Berau, Mambaus Saadah mengatakan, jika dilihat dari tahun 2014 hingga tahun 2016, jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan sebesar 5,37 persen.

“Jumlah penduduk miskin di Berau pada tahun 2014 sebanyak 9.770 jiwa atau sebesar 4,76 persen, kemudian di tahun tahun 2015 sebanyak 11.210 jiwa atau naik sebesar 5,33 persen dan tahun 2016 sebanyak 11.470 jiwa atau sebesar 5,37 persen,” paparnya.

Namun peningkatan jumlah penduduk miskin ini, menurutnya tidak hanya terjadi di Kabupaten Berau, namun juga terjadi di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Secara keseluruhan, di wilayah Kaltim, Kabupaten Berau berada diurutan keempat yang tingkat kemiskinannya tergolong rendah. Selain Berau, ada Kota Balikpapan, Samarinda dan Bontang.

Saadah menambahkan, kemiskinan merupakan ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk mengakses kebutuhan dasar seperti makanan dan non makanan.

Data kemiskinan menurut versi BPS, di dapat dari garis kemiskinan berdasarkan penjumlahan garis kemiskinan makanan dan non makanan.

“Penduduk dikategorikan miskin itu, jika pengeluaran rumah tangganya di bawah garis kemiskinan. Untuk Kabupaten Berau, pada tahun 2016, garis kemiskinannya secara nominal sebesar Rp 465.161 per kapita per bulan atau sekitar Rp 15.500 per kapita per hari. Misalnya, di dalam rumah tangga ada 6 orang, maka pengeluaran di rumah tersebut Rp 93.000 per hari. Jika di bawah Rp 93.000, maka rumah tangga tersebut dikategorikan miskin,” jelasnya.

Jika dibandingkan, garis kemiskinan Berau, dibandingkan kabupaten/kota lain di Kaltim, masih jauh lebih rendah.

“Di berau persentasenya berkisar 4,76 persen hingga 5,37 persen. Angka kemiskinan ini bisa jadi adalah kemiskinan yang sifatnya fundamental, artinya meski diberi bantuan, mereka tetap saja miskin,” katanya.

Berdasarkan Indeks Kedalaman Kemiskinan tahun 2016 sebesar 0,97 dan Indeks Keparahan Kemiskinan sebesar 0,23.

Data kemiskinan ini mestinya menjadi acuan bagi pemerintah guna menerapkan program pengentasan kemiskinan.

“BPS hanya melakukan pemotretan dan mendata di lapangan, tinggal peran dari pemerintah daerah, aparat kampung dan masyarakat bekerjasama dalam mengurangi tingkat kemiskinan, melalui program-program yang sudah dibuat untuk kampung-kampung,” tandasnya. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved