Ngeri, Pulang ke Bumi Para Astronot Alami Kelainan Otak Akibat Terpapar Gravitasi Nol

Sepulangnya dari perjalanan ruang angkasa, para astronot rupanya mengalami perubahan pada struktur otak.

Ngeri, Pulang ke Bumi Para Astronot Alami Kelainan Otak Akibat Terpapar Gravitasi Nol
Scott Kelly, astronot AS, menghabiskan 340 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2015 hingga 2016 lalu. Ia adalah orang Amerika terlama di luar angkasa dan orang keempat terlama di dunia. [NASA.GOV] 

TRIBUNKALTIM.CO - Menjadi seorang astronot yang menjelajahi ruang angkasa merupakan pekerjaan yang istimewa, tetapi juga berisiko. Sepulangnya dari perjalanan ruang angkasa, para astronot rupanya mengalami perubahan pada struktur otak.

Hal tersebut diungkapkan oleh para peneliti yang memindai otak dari 34 astronot sebelum dan sesudah mereka menjalankan misi di luar angkasa.

18 astronot mengikuti misi jangka panjang yang rata-rata berdurasi selama enam bulan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), sedangkan sisanya pergi dalam misi jangka pendek yang rata-rata berlangsung selama dua minggu.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar astronot yang ikut dalam misi jangka pangjang mengalami pergeseran otak ke atas tengkorak mereka. Lalu, terjadi penyempitan ruang cairan serebrospinal (CSF) yang mengalir di antara otak dan penutup luarnya.

Gejala-gejala ini tidak terjadi pada astronot dengan misi jangka pendek.

Selain itu, 94 persen astronot dengan misi jangka panjang mengalami penyempitan sulkus tengah otak, sebuah alur di dekat bagian atas otak yang memisahkan lobus frontal dan parietal. Sebaliknya, hanya 19 persen astronot yang ikut dalam penerbangan jangka pendek mengalami hal serupa.

Para astronot juga mengalami penurunan fungsi penglihatan dan pembengkakan piringan optik mata, serta tekanan di dalam tengkorak. Kondisi ini dikenal dengan “sindrom tekanan intrakranial gangguan penglihatan” atau sindroma VIIP.

"Perubahan yang telah kita lihat mungkin bisa menjelaskan gejala tidak biasa yang dialami oleh astronot yang kembali ke bumi," kata Dr. Michael Antonucci, seorang neuroradiologist di Universitas Kedokteran South Carolina (MUSC) seperti dikutip Live Science pada Rabu (1/11/2017).

Dia melanjutkan, penelitian ini mungkin juga akan dapat membantu mengidentifikasi isu-isu penting dalam perencanaan eksplorasi antariksa yang lebih lama, termasuk misi ke Mars

Sejauh ini, belum ada penjelasan utuh terkait penyebab terjadinya sindroma VIIP.

Halaman
123
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved