Breaking News:

Edisi Cetak Tribun Kaltim

Peluang Bisnis, Potensi Industri Kreatif Game di Indonesia Mencapai Triliunan Rupiah

Google Play menganalisis, selama ini tidak ada hitungan jangka waktu seberapa lama sebuah game akan meledak dan bertahan lama.

Tribun Kaltim/Budi Susilo
Ribuan orang tumpah ruah dalam event Bekraf Developer Day di Kota Balikpapan, Sabtu (11/11/2017) 

TRIBUNKALTIM.CO - Pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia semakin melesat. Perkembangannya harus terus didukung, karena itu para talenta harus bisa memanfaatkan secara signifikan kesempatan dalam pengembangan diri.

Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) Hari Santosa Sungkari menjelaskan, Bekraf Development Day yang digelar di Kota Balikpapan antisuasinya sangat luar biasa, peserta yang hadir begitu besar. Hari mengimbau, mendalami ilmu ini tidak hanya cukup melalui event ini.

"Tidak cukup hanya datang saja, harus ada tindaklanjutnya terus kembangkan semua talenta yang dimiliki. Untuk pengusaha baru harus ikut semua program peningkatan kapasitas," ujarnya pada Sabtu (11/11) di Swissbel Hotel Balikpapan.

Baca: Woww, Game Horor Buatan Anak Grogot akan Dirilis di Pusat Game Terbesar di Dunia

Khusus di Balikpapan sejauh ini kerjasama dalam pengembangan ekonomi kreatif belum terlalu meluas. Semacam dengan perguruan tinggi baru bisa dibilang dihitung jari, hanya beberapa saja, tidak banyak.

"Saya termasuk orang yang tidak percaya hanya ikut sekali workshop atau ikut pogram satu minggu. Habis pengemabangan kapasitas perlu pendampingan. Perguruan tinggi juga perlu terlibat," tuturnya

Sekarang ini, Bekraf tengah berupaya bersama pemerintah kota untuk susun perencanaan stategis untuk membumikan ekonomi kreatif. "Bekraf kita akan bantu susun roadmap, susun bersama. Pemerintah pusat tidak mampu bekerja sendiri. Perlu ada keterlibatan dengan pemerintah daerah," ungkapnya.

Dia sendiri merasa optimistis ekonomi kreatif akan memberi sumbangsih bagi kemajuan negeri. Sebagai contoh, mengutip dari Tribunnews, belakangan pernah mencuat game Tahu Bulat, Om Telolet Om, serta fenomena-fenomena yang "meledak" di tahun 2016 ini tak kalah meledak di pasar games milik Google Play.

Baca: Ternyata Ini Alasan Bupati Irmansyah Pilih Islands of Love jadi Julukan Baru Kepulauan Seribu

Permainan yang populer di Google Play ini rupanya dibuat dengan modal yang bisa dibilang lumayan kecil. Meski sempat populer dan masih bertahan, para pengembang sudah selayaknya mempersiapkan diri bahwa sewaktu-waktu game mereka tidak lagi diminati.

Penyedia pasar games yaitu Google Play menganalisis, selama ini tidak ada hitungan jangka waktu seberapa lama sebuah game akan meledak dan bertahan lama. Game akan bertahan jika inovasi terus dilakukan dan membuat orang kecanduan. Tahu bulat dan game Om Telolet Om misalnya, dari modal "uang saku", kini pembuatnya menikmati pendapatan yang melimpah.

Baca: LIVE STREAMING - Rusia vs Argentina - Babak I Masih 0-0, Akankah Messi Cs Bisa Cetak Gol Duluan?

Menurut Hari, pendapatan dari sisi game saja pernah mencapai 321 dollar USA. Pada 2016 hampir sentuh angka 600 juta dollar USA, belum lagi dari sisi e-comerce sampai jutaan dollar. Menurut catatan Badan Pusat Statistik dan Bekraft, nilai industri games dalam negeri sudah lebih dari Rp 8 triliun di akhir 2016. Nilai ini melesat dari tahun 2014 yang hanya sekitar Rp 2,5 triliun. (Budi Susilo)

Penulis: tribunkaltim
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved