Kayu Online Mulai Marak

Sekarang usaha kayu bangkit lagi, teman-teman yang buka warung kopi di pinggir jalan ngomong kalau banyak sopir truk

Kayu Online Mulai Marak
TRIBUN KALTIM/SARASSANI
INDUSTRI KAYU - Usaha kayu di Petangis Kecamatan Batu Engau yang dekat dengan jalur transportasi sungai ini sudah lama tidak aktif. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER – Pengiriman kayu masak ke luar daerah Kabupaten Paser mulai marak. Frekuensi pengiriman tergantung kondisi cuaca, ketika curah hujan tinggi pengiriman kayu melalui Jalan Negara sekitar satu kali seminggu.

Sebaliknya, saat kondisi di lapangan kering, dalam seminggu bisa dua tiga kali pengiriman. Pertanda membaiknya usaha kayu ini seperti disampaikan Iwan, warga Kecamatan Kuaro, Senin (4/12).

“Sekarang usaha kayu bangkit lagi, teman-teman yang buka warung kopi di pinggir jalan ngomong kalau banyak sopir truk yang cerita sering mengirim kayu. Kalau sempat nongkrong di Petung, truk-truk bermuatan kayu banyak yang lewat,” kata Iwan.

Karena urusan kehutanan di kabupaten menjadi kewenangan provinsi, mekanisme usaha ini kata Ian Sekripsian selaku Kasi Perencanaan dan Pemanfaatan Hasil Hutan (P2H2) pada UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kandilo.

Menurutnya, mulai dari dokumen asal usul kayu hingga transaksi penjualan kayu semua dilakukan secara online.

“Peraturan Menteri Lingkuhan Hidup dan Kehutanan P.42/Menlhk-Setjen/2015 di BAB 1 pasal 1 menyebutkan kegiatan pencatatan dan pelaporan perencanaan produksi, pemanenan atau penebangan, pengukuran dan pengujian, penandaan, pengangkutan/peredaran, serta pengolahan hasil hutan kayu yang dilaksanakan melalui SIPUHH,” kata Ian.

SIPUHH atau Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan merupakan serangkaian perangkat dan prosedur elektronik.

“Jadi mulai dari mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan menyebarkan informasi penatausahaan hasil hutan kayu melalui aplikasi SIPUHH secara online," ucapnya.

Dengan ketentuan tersebut, lanjut Ian, UPTD KPH Kandilo tak memiliki kewenangan menerbitkan semua dokumen perizinan hasil hutan kayu, termasuk asal usul kayu yang mereka dijual secara online.

Karena dari 4 perusahaan pemilik HPH di Paser, tak satupun yang aktif, sehingga mereka (perusahaan) tidak bisa menerbitkan asal usul kayu.

“Kita (KPH) tak punya peran apa-apa, semua mereka lakukan secara online. Masalah bahwa kita tahu darimana mereka mengambil kayu, bahwa perusahaan kayu seperti Telaga Mas, RKR, Griti dan Timberdana tidak aktif lagi, semua sudah kita laporkan ke BPPHP Samarinda hingga ke Jakarta,” ungkapnya membenarkan modus menebang di daerah A tapi dokumen asal usul kayu di daerah B. (*)

Penulis: Sarassani
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved