Cara Watimah Membina Pemuda di Kampungnya, Ajak Bikin Pot dari Ban Bekas
Watimah, perempuan mandiri dan kreatif tak hanya sukses mengembangkan usaha rumahan dengan bahan baku olahan lele.
Penulis: Rahmad Taufik | Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO - Watimah, perempuan mandiri dan kreatif tak hanya sukses mengembangkan usaha rumahan dengan bahan baku olahan lele.
Dia juga aktif membina remaja dan pemuda di kampungnya, Dusun Batu Hitam RT 17, Desa Loa Duri Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kukar, dalam beberapa kegiatan positif agar mereka tidak terjerat dalam bahaya narkoba, miras dan seks bebas.
Perempuan yang dikenal peduli ini mengajak anak-anak muda menggeluti usaha bikin pot bunga dari bahan baku ban motor serta mengelola kompos.
Gusyandi (26) menjadi ketua dalam kelompok pemuda yang aktif membuat kerajinan pot bunga. Ia memanfaatkan rumahnya sebagai bengkel tempat kawan-kawannya berkreasi.
Baca: VIDEO – Begini Simulasi Penanganan Bencana Bila Terjadi Kegagalan Teknologi
"Tiap hari libur, kami sering kumpul untuk buat pot bunga. Kalau hari biasa, kami kerjakan pada malam hari," ujarnya.
Maklum, sebagian besar pemuda yang terlibat dalam usaha rumahan ini berstatus pelajar. Jadi mereka belajar di sekolah pada pagi hingga siang harinya. Jumlah mereka mencapai 30 orang yang terlibat dalam usaha ekonomi kreatif itu.
Mereka mengandalkan bahan baku ban motor. "Harga satu ban motor bekas kami beli Rp 10 ribu," tuturnya.
Satu produk pot bunga bisa dikerjakan seorang diri atau berdua. Dalam semalam, mereka bisa menghasilkan 5-6 pot bunga. Mereka juga memiliki mesin kompresor untuk proses pewarnaannya nanti. Harga satu pot dijual Rp 20 ribu-Rp 35 ribu tergantung ukurannya. Selain buat modal, hasil penjualan pot bunga digunakan untuk biaya sewa lapangan futsal.
Baca: Timnas Garuda Akan Lawan Islandia, Timnas Thailand Bakal Bertandang ke Eropa Timur
Bagi mereka, futsal menjadi hiburan di waktu senggang, selain menjaga kebugaran mereka. "Kami main futsal seminggu sekali. Kami bayar sewa futsal Rp 900 ribu/bulan dari hasil penjualan pot bunga," katanya. Produk mereka ini dijual ke Kecamatan Anggana hingga Samarinda.
Di waktu senggang, puluhan remaja ini terlibat dalam pengolahan media tanam dan kompos di bawah binaan Watimah. "Kegiatan para remaja ini masih sangat berkaitan, yakni bikin pot bunga dan mengelola kompos serta media tanamnya. Jadi masih satu paket," ujar Watimah.
Pembuatan kompos memakan waktu 15 hari dari bahan campuran sekam, bibit bakteri dan kotoran ayam atau kambing. Sedangkan media tanam diolah dari campuran tanah dan pupuk. Harga kompos ditawarkan Rp 25 ribu sekarung dan media tanam Rp 35 ribu sekarung. Kedua produk ini memiliki pasar tetap, yakni Anggana dan Samarinda.
Baca: Parah! Wanita Cantik yang Temani Pilot Nyabu di Hotel Diduga Sudah Bersuami
"Kami ingin merangkul anak muda di kampung ini lewat kegiatan positif seperti ini agar mereka tidak terjerat dalam bahaya narkoba yang saat ini makin marak," kata Watimah yang juga Ketua Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) di Desa Loa Duri Ulu.
Para anak muda kreatif ini juga aktif dalam kegiatan Ikatan Remaja Masjid (IRMA). Sehingga beberapa kegiatan keagamaan berjalan sukses berkat sumbangsih pikiran dan tenaga mereka selama ini. Watimah sangat dekat dengan anak-anak binaannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ikan-lele_20171202_001848.jpg)