LPG, Bahan Bakar, dan Listrik Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar 2017

Kelompok administered prices, memberi tekanan terbesar ke inflasi Kaltim 2017, yakni sebanyak 8,35 persen

LPG, Bahan Bakar, dan Listrik Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar 2017
INTERNET
Ilustrasi 

SAMARINDA, TRIBUN - Kelompok administered prices, atau kelompok harga yang ditentukan pemerintah, contohnya LPG, bahan bakar, tarif listrik, memberi andil utama terhadap inflasi di Kaltim, sepanjang 2017 ini.

Berdasarkan rilis yang diterbitkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Selasa (2/1) malam, kelompok administered prices, memberi tekanan terbesar ke inflasi Kaltim 2017, yakni sebanyak 8,35 persen, dibanding tahun sebelumnya (yoy).

Sedangkan tingkat inflasi inti (core inflation) tercatat sangat stabil yakni sebesar 2,46 persen (yoy). Di sisi lain, kelompok bahan makanan yang harganya berfluktuatif (volatile food) mencatatkan deflasi sebesar minus 0,34 persen (yoy). Hal tersebut tercermin dari tren deflasi bulanan di Kaltim yang terjadi sejak bulan Agustus hingga November 2017.

Baca: Panen Raya Bawang Merah PPU, Langkah Taktis Pengendalian Inflasi

Baca: Bagaimana Perekonomian Kaltim 2018? Begini Paparan Kepala Kantor Bank Indonesia Kaltim

"Sesuai dengan pola historisnya, provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami inflasi sebesar 1,02 persen (mtm) pada bulan Desember 2017, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya di mana Kaltim mengalami deflasi sebesar minus 0,16 persen (mtm)," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim, Muhammad Nur, dalam rilisnya.

Beberapa kendaraan mulai mengisi BBM di SPBU Jalan Sengkawit, yang baru beroperasi, Rabu (22/2/2017).
Beberapa kendaraan mulai mengisi BBM di SPBU Jalan Sengkawit, yang baru beroperasi, Rabu (22/2/2017). (tribunkaltim.co/doan e pardede)

Berdasarkan kota pembentuknya, Samarinda dan Balikpapan mengalami inflasi masing masing sebesar 0,73 persen (mtm) dan 1,41 persen (mtm). Secara tahunan inflasi pada kedua kota tersebut masing-masing sebesar 3,69 persen (yoy) dan 2,45 persen (yoy).

Inflasi di Desember 2017 disebabkan peningkatan indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 2,78 persen (mtm) serta kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 2,14 persen (mtm). "Hal tersebut sejalan dengan pola musiman di mana pada periode akhir tahun kerap terjadi kenaikan harga yang disebabkan oleh peningkatan permintaan terhadap beberapa komoditas terkait dengan perayaan Hari Besar Keagamaaan serta hari libur nasional di Desember," kata Nur.

Baca: Ingin Berkontribusi Cegah Inflasi, Perusda Lirik Potensi Bisnis Pangan di Kota Tepian

Baca: Tambah Amunisi Piala Presiden 2018, Borneo FC Gaet Eks Pemain Timnas Singapura

Secara keseluruhan tahun 2017, tingkat inflasi Kaltim tercatat sebesar 3,15 persen (yoy), lebih rendah dari angka inflasi tahun 2016 yakni 3,39 persen (yoy). "Tingkat inflasi Kaltim 2017 juga lebih rendah dibanding tingkat inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,61 persen (yoy), sekaligus menandakan bahwa tingkat inflasi Kaltim 2017 berada di bawah target inflasi nasional dikisaran 4 persen," katanya lagi.

Nur menjelaskan, pencapaian inflasi Kaltim 2017 yang terkendali merupakan hasil koordinasi antara pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). BI, kata Nur, bersama stakeholders lainnya telah melakukan berbagai upaya serta program pengendalian inflasi.

"Ke depan, BI akan terus melaksanakan koordinasi yang baik dengan seluruh stakeholders di daerah dalam rangka menjaga kestabilan harga serta memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas. Bank Indonesia juga secara konsisten akan melakukan asesmen terkait perkembangan perekonomian dan inflasi Kaltim untuk menuju sasaran inflasi tahun 2018 dikisaran 3,5 persen. (rad)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved