Tim Pengendali Inflasi Beri Perhatian Khusus pada Cabai

Bank Indonesia (BI) Kaltim pun menginisiasi program Klaster Cabai Organik Terpadu sejak tahun 2014.

Tim Pengendali Inflasi Beri Perhatian Khusus pada Cabai
pixabay
Cabai merah 

SAMARINDA, TRIBUN - Dalam lima tahun terakhir, cabai secara secara persisten mempunyai andil terhadap inflasi di Kota Samarinda. Hal ini membuat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kaltim memasukkan cabai ke dalam komoditas volatile foods yang perlu mendapat perhatian khusus.

Selain menjaga ketersediaan pasokan, Bank Indonesia (BI) Kaltim pun menginisiasi program Klaster Cabai Organik Terpadu sejak tahun 2014. Klaster ini berlokasi di Sungai Siring, Kelurahan Lempake dan Desa Lubuk Sawah Mugirejo, Kota Samarinda.

"Sebagai kota jasa, Kota Samarinda saat ini mengandalkan pasokan bahan makanan dari luar. Akibatnya bila ada gangguan cuaca, gangguan panen dari daerah penghasil atau hambatan transportasi, maka harga komoditas pertanian langsung melonjak tinggi," kata Kepala BI Kaltim, Muhammad Nur, Rabu (24/1).

Baca: Kaltim Siaga Difteri, Jumlah Kasus Melonjak Hampir Empat Kali Lipat

Baca: HEBOH! Pasien Wanita Menangis, Tuding Petugas Rumah Sakit Berbuat Cabul

Sekadar catatan, inflasi di Samarinda pada tahun 2015 cukup tinggi, yakni 4,24 persen (yoy), dan inflasi volatile food (kelompok bahan makanan) sebesar 8,71 persen (yoy). "Inflasi Kaltim lebih didominasi oleh sisi penawaran dibandingkan tekanan inflasi sisi permintaan karena konsumsi masyarakat yang masih didominasi oleh konsumsi pangan," ujar Nur.

Faktor non fundamental seperti anomali cuaca, ekonomi biaya tinggi dan kebijakan energi pemerintah memengaruhi pencapaian inflasi terutama dari kelompok volatile food dan administered prices.

Sementara itu, merujuk Data Surplus dan Defisit Bahan Kebutuhan Pokok Provinsi Kaltim yang diterbitkan oleh Dinas Pertanian Provinsi Kaltim, 2013 produksi cabai defisit sebesar 5.342 ton dan pada tahun 2014 defisit 3.954 ton.

"Sedangkan inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Inflasi yang tinggi dapat langsung mengurangi daya beli masyarakat dan daya saing suatu negara sehingga pada gilirannya menggerus tingkat kesejahteraan masyarakat luas," kata Nur.

Di level mikro, lanjut Nur, kondisi tersebut akan mempengaruhi keputusan konsumsi, produksi, maupun invesitasi dari pelaku usaha dan individu. "Melihat besarnya dampak inflasi yang tinggi tersebut bagi masyarakat, adalah merupakan suatu keharusan bagi semua pihak untuk menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil," tegasnya. (rad)

Penulis: tribunkaltim
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved