Satgas Pamtas Menjelajah 363 Km, Untuk Pastikan Patok di Perbatasan Malaysia

Pasukan penjelajah ini telah menjalankan misi selama 11 hari sejak keberangkatan mereka pada 15 Januari 2018 lalu.

Satgas Pamtas Menjelajah 363 Km, Untuk Pastikan Patok di Perbatasan Malaysia
istimewa
Tim Pencari dan Penjelajah Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri 621/Manuntung memastikan keberadaan patok di wilayah Kecamatan Lumbis. 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim,co, Niko Ruru

 TRIBUNKALTIM.CO,NUNUKAN- Tim Pencari dan Penjelajah dibentuk Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri  621/Manuntung untuk memastikan keberadaan patok- patok perbatasan di blank spot area.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri  621/Manuntung, Letkol Infanteri Rio Neswan mengatakan, tim tersebut melaksanakan misi untuk menembus kawasan yang selama ini belum terjamah Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI- Malaysia sebelumnya.

Baca: Jelang Sidang Cerai Perdana, Teman SD Justru Blak-blakan Tentang Kelakukan Ahok

Tim akan melakukan perjalanan sejauh  363 kilometer di kawasan Kecamatan Lumbis. Untuk itu, tim telah menyiapkan diri sejak dua bulan sebelum melaksanakan misi berat dimaksud.

"Ada 368 patok di kawasan tersebut yang harus kami pastikan masih utuh,"ujarnya, Jumat (26/1/2018).

Pasukan penjelajah ini telah menjalankan misi selama 11 hari sejak keberangkatan mereka pada 15 Januari 2018 lalu.

Untuk menuju lokasi, butuh longboat mengarungi sungai dengan tantangan melewati dua buah jiram besar yang berbahaya. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 12 hari untuk mencapai target sasaran.

Baca: Ingat Arya Bocah Obesitas yang Pernah Viral hingga Mancanegara? Kini Ia Berubah, Sudah Bisa Berlari

"Begitu sampai blank spot area, kami butuh 4 hari lagi untuk menjelajahi letak patok. Total selama 16 hari. Kalau bolak balik sebulan. Itu waktu untuk menyelesaikan misi ini," ujarnya.

Tim dibekali telepon satelit untuk melaporkan misinya setiap dua hari sekali. Panjangnya waktu dan beratnya perjalanan menembus area hutan memaksa pasukan tersebut memaksimalkan kemampuan mental sekaligus fisik sebagai TNI. Penghitungan matang sangat dibutuhkan termasuk untuk penggunaan telepon satelit.

Baca: Laga Hidup Mati Lawan Mitra Kukar, Pelatih Barito Putra Enggan Membebani Anak Asuhnya

"Mereka harus hemat baterai. Saya perintahkan cukup laporkan kondisi terakhir. Detail kondisi patok seperti apa? Nanti kalau mereka sudah kembali dari misi," ujarnya.

Penulis: Niko Ruru
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved