Edisi Cetak Tribun Kaltim

Karet Produksi Petani Kaltim, Dipakai Pabrik Ban Michelin di Prancis

Sebanyak 70 persen dari karyawan pabrik merupakan petani lokal yang dilatih kemampuannya dari segi pengetahuan

Karet Produksi Petani Kaltim, Dipakai Pabrik Ban Michelin di Prancis
Tribun Kaltim

TRIBUNKALTIM.CO ‑ Adanya pabrik pengolahan karet di Jalan Trikora Handil Jaya, Palaran, diyakini akan memberi angin segar kepada petani sekitar wilayah tersebut.

Hal ini tak lepas dari dilakukannya Grand Opening Pabrik Karet milik PT Multi Kusuma Cemerlang, yang didapuk berkapasitas produksi per tahun mencapai 27 ribu ton olahan karet, Senin (11/12).

PT MKC sendiri, merupakan anak perusahaan dari PT. Royal Lestari Utama, perusahaan joint venture antara Barito Pasific Grup dan Michelin Grup. Disebut, adanya nama Michelin Grup ini juga secara tak langsung membuka pasar ekspor dari hasil petani karet lokal untuk diproduksi ke luar negeri untuk bahan baku ban dari Michelin.

Baca: Gol dari Bek Muda Bawa Milan Taklukkan Lazio di San Siro

"Arahnya juga ke sana. Karena kami memenuhi pasokan karet untuk ekspor dan impor, bahkan juga untuk bahan baku Michelin Grup di Perancis. Hasil produksi karet akan kami dapatkan dari dua sumber, yakni petani lokal, serta perkebunan milik kami sendiri yang berlokasi di Bengalon, Kutai Timur," ujar Direktur PT MKC, Meizany Irmadhiany, saat ditemui di lokasi pabrik PT. MKC.

Adanya kemungkinan hasil petani karet lokal Palaran untuk bisa menyuplai bahan baku untuk pabrik tersebut, juga tak lepas dari komitmen perusahaan untuk memperkerjakan sekitar 70 persen karyawannya dari penduduk sekitar.

"Sebanyak 70 persen dari karyawan pabrik merupakan petani lokal yang dilatih kemampuannya dari segi pengetahuan tentang industri karet," ucapnya.

Baca: Cucu Soeharto ini Terkenal Punya Paras Rupawan dan Pernah Pacari Laudya Cynthia Bella

Dioperasionalkannya pabrik karet yang didapuk satu‑satunya di Kaltim ini, juga dikomentari Ujang Rachmad, Kepala Dinas Perkebunan Kaltim di saat yang sama. Diyakini, pabrik baru juga membuat penghasilan petani meningkat. Selama ini, tak adanya pabrik pengolahan karet di Kaltim,membuat petani‑petani lokal lebih banyak menjual hasil karetnya ke daerah‑daerah jauh, seperti Surabaya, maupun Kalsel. Otomatis, biaya akan terpotong, untuk transportasi dan lainnya.

"Nilai tambahnya tidak kami peroleh. Harga di tingkat petani itu hanya Rp 2 ribu / kg. Nah dengan adanya pabrik ini, nilai jual bisa tinggi, mencapai Rp 10 ribu/ kg, jika kualitasnya bagus. Nah, peran kami di nantinya memitrakan antara pabrik dan petani. Pabrik bisa berikan pembinaan agar kualitas pabriknya bisa memenuhi standar yang ditetapkan pabrik ini," katanya.

Halaman
123
Penulis: tribunkaltim
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved