Tragis, Gegara Kelalaian Sepele Petugas Medis Seorang Pria Meninggal Saat Dipindai di Mesin MRI

Seorang pria dilaporkan meninggal dunia saat berada di ruangan Magnetic Resonance Imaging (MRI) di sebuah rumah sakit

Tragis, Gegara Kelalaian Sepele Petugas Medis Seorang Pria Meninggal Saat Dipindai di Mesin MRI
Radiology
Ilustrasi mesin MRI 

TRIBUNKALTIM.CO - Seorang pria dilaporkan meninggal dunia saat berada di ruangan Magnetic Resonance Imaging (MRI) karena membawa tabung oksigen logam. Kecelakaan di ruangan MRI itu bukanlah kali pertama di India.

Rajesh Maru, 32, mengunjungi kerabatnya di sebuah rumah sakit di Mumbai, India. Salah satu petugas meminta tolong untuk membawa tabung gas logam ke ruangan MRI setelah mesin MRI dimatikan.

Setelah masuk ke ruangan MRI, tabung gas yang dibawa Maru tersedot mesin magnet yang ternyata masih berfungsi. Maru meninggal setelah menghirup oksigen cair dari tabung yang rusak akibat tertarik mesin magnet di MRI tersebut.

Sebelumnya, kecelakaan di ruang MRI juga pernah terjadi pada tahun 2014. Dua pekerja rumah sakit menderita luka-luka ketika mereka terjepit antara mesin MRI dan tangki oksigen logam selama empat jam di sebuah rumah sakit di New Delhi.

Pada tahun 2001, seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang menjalani pemeriksaan MRI di New York juga meninggal saat sebuah tangki oksigen logam terbang ke arah mesin dan menghancurkan tengkoraknya.

Alat pemindai MRI atau Magnetic Resonance Imaging adalah mesin yang menggunakan medan magnet kuat untuk menghasilkan gambar di organ tubuh. Benda logam akan ditarik ke arahnya dan bisa berakibat fatal.

Kekuatan medan magnet di MRI mencapai 1.000 kali kekuatan magnet di kulkas rumah kita sehingga pasien yang memiliki alat pacu jantung tidak bisa melakukan pemindaian MRI, tulis Live Science, Senin (29/1/2018).

Saat ini, polisi di India sudah menahan perawat rumah sakit karena dianggap melakukan kelalaian. Ramesh Bharmal, Kepala Rumah Sakit juga sudah menyerahkan rekaman CCTV kepada pihak berwajib untuk penyelidikan lebih lanjut, dikutip dari AFP, Senin (29/1/2018).

[Michael Hangga Wismabrata, Kompas.com/Live Science/AFP]

Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved