Logistik Menipis, Didrop dari Helikopter Malah Jatuh di Wilayah Malaysia
“Makanya mereka takut ambil logistik. Kebetulan gilirannya saat itu tidak ada heli Malaysia,” ujarnya.
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru
TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Baru memasuki hari kesepuluh dari target perjalanan patroli selama 30 hari di blank post area perbatasan Republik Indonesia- Malaysia, personel Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri 621/Manuntung sudah kekurangan logistik.
Kecuali beras yang masih bisa untuk dikonsumsi selama 10 hari, persediaan lauk pauk hanya mampu bertahan untuk dua hari.
“Sebetulnya kami merencanakan cukup logistik untuk 25 sampai 30 hari. Namun hari ke 10 logistik menipis,” ujar Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri 621/Manuntung, Letkol Infanteri Rio Neswan, Rabu (21/2/2018).
Memasuki hari ke-14 sejak melakukan patroli pada 15 Januari 2018, personel melaporkan stok lauk pauk hanya cukup untuk dua hari.
“Empat hari kemudian baru saya suplai. Jadi mereka sudah dua hari hanya makan nasi dan garam saja,” ujarnya.
Hari ke-17, Rio Neswan menumpang helikopter untuk menyuplai logistik kepada sembilan personel yang sedang patroli itu.
“Saya sampaikan saat itu melalui telepon satelit yang mereka bawa, coba cari posisi untuk suplai logistik. Akhirnya mereka bilang, ada tempat yang agak terbuka. Tetapi mereka harus mundur sekitar 3 kilometer dari Patok C200 ke Patok C141. Kemudian mereka membersihkan untuk membuat helipad,” ujarnya.
Sayangnya saat helikopter sudah berada di sekitar lokasi drop logistik yang direncanakan, situasi di darat sedang berkabut.
“Kami juga tidak bisa kontak dibawah,” ujarnya.
Helikopter terus berputar-putar terbang rendah di sekitar lokasi yang sudah ditentukan. Namun upaya menemukan personel yang sedang melakukan patroli belum membuahkan hasil.
“Kami lama terbang rendah. Itu kalau terbang rendah powernya semakin tinggi, sampai indikatornya sudah kuning. Saya disampaikan oleh pilot, ini tidak bisa lama-lama terbang rendah. Dalam waktu lima menit lagi bisa crashes helinya,” ujarnya.
Akhirnya Rio Neswan mengambil keputusan untuk mendrop logistik dalam delapan kemasan dimaksud. Logistik di drop ke posisi yang kelihatan agak terang dengan membuangnya dari udara.
“Kami buang dari ketinggian sekitar 10 meter. Ada 250 kilogram logistik yang kami buang,” ujarnya.
Setelah mendrop logistik, Rio mengirimkan koordinat melalui telepon satelit yang dibawa personel yang sedang melakukan patroli.
Untuk meyakinkan, Rio juga sempat menanyakan kepada pilot, apakah lokasi tempat mendrop logistik tidak berada di Malaysia?
“Saya tanya, capt kita naroh logistik di Indonesia atau Malaysia? Dia bilang di Indonesia,” ujarnya.
Saat helikopter landing di Tarakan, ada telepon masuk. Saat itu, personel di lapangan memberikan koordinat.
“Waktu dalam perjalanan tidak dapat sinyal. Kebetulan di Tarakan ada staf logistik dia yang menerima SMS. Karena mereka ini tidak selalu hidup teleponnya. Mereka yang selalu menghubungi kita,” ujarnya.
Sesampainya di Tarakan, Rio kembali ingin memastikan, berada di posisi mana anggotanya?
“Saya bilang capt, coba lihat koordinat dari posisi anggota saya. Ternyata masuk Malaysia sampai satu kilometer. Makanya saya sempat berfikir, kok ini agar terang? Agak terbuka? Tidak mungkin,” ujarnya.
Kepanikanpun terjadi saat itu. Rio harus menelpon Komandan Korem untuk melaporkan kejadian dimaksud.
“Danrem menyampaikan kepada perwakilan Askar Malaysia. Terjadi pembicaraan army to army. Saya juga ditelepon terus, ditanyai pimpinannya siapa? Ditanya terus, beberapa menit ada lagi telepon,” katanya.
Saat pembicaraan dengan Tentara Diraja Malaysia sudah clear, anggota yang sedang patroli ternyata belum diberikan kabar soal itu.
Mereka pun harus berupaya secepatnya mengambil logistik yang berada di Malaysia untuk menghindari Tentara Diraja Malaysia yang juga sedang bertugas di perbatasan.
“Ketika mereka mau mengambil logistik, loh ini kok ke arah utara? Mereka menyadari ini di Malaysia. Akhirnya mereka bergerak cepat menghindari Tentara Malaysia,” ujarnya.
Kekhawatiran mereka itu tentunya sangat beralasan. Sebab, saat baru berangkat misi mereka sudah diikuti Tentara Diraja Malaysia.
Belum lagi helikopter Malaysia yang terus mengintai mereka hingga hari kesepuluh patroli.
“Makanya mereka takut ambil logistik. Kebetulan gilirannya saat itu tidak ada heli Malaysia,” ujarnya.
Berhasil mendapatkan logistik yang didrop melalui udara, bukan berarti persoalan selesai.
“Satu setengah jam kemudian, mereka sudah dapat logistiknya. Tetapi disampaikan ada 7. Saya bilang kurang itu, ada 8 semuanya. Karena saya bekali kapak supaya mereka leluasa membuat helipad untuk operasi berikutnya. Setelah ketemu, mereka kembali ke Patok C141,” ujarnya.Tim Pencari dan Penjelajah dibentuk Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia- Malaysia Batalyon Infanteri 621/Manuntung untuk memastikan keberadaan patok- patok perbatasan di blank post area.
Rio Neswan mengatakan, tim tersebut melaksanakan misi untuk menembus kawasan yang selama ini belum terjamah Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI- Malaysia sebelumnya.
Pasukan penjelajah menjalankan misi sejak 15 Januari 2018 hingga 14 Februari 2018.
"Danpos Lumbis SSK IV Lettu Inf Untung Hermanto dengan pendamping Patop Satgas Kapten Ctp Ari Wahana beserta 7 anggota berhasil melaksanakan patroli patok sesuai sektornya. Termasuk di wilayah blank post area yang sudah 41 tahun tidak dipatroli dari patok C 002 sampai C 481 dalam keadaan aman," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/logistik_20180221_164536.jpg)