Perahu Mito Terbalik Dihantam Speeboat, Satu Penumpang Hilang

Pengakuan istri Mito yang juga masih ada hubungan keluarga dengan Andi, tidak bisa ditemui karena kondisinya yang masih trauma akan kejadian tersebut.

THINKSTOCK.COM
Ilustrasi tenggelam 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kecelakaan Air Laut (Lakalaut) terjadi di perairan sungai Banjar Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Karanegara, Jumat (16/3) sore sekitar pukul 17.00 wita.

Dalam kecelakaan tersebut  melibatkan satu perahu nelayan, berpenumpang tiga nelayan, Mito (43 th), Andi (22), dan Anas (53) dengan satu kapal cepat yang diduga dioperasikan oleh perusahaan migas.

Menurut informasi yang didapat Tribunkaltim.co, Mito bersama penumpang lain hendak pergi dari rumah singgah di daerah Kukar menuju perairan Laut Sungai Banjar untuk menangkap ikan dengan menggunakan perahu mesin.

Setelah menunggu hasil tangkapan, singkat cerita, sekitar pukul 17.00 wita, Mito dan teman-temannya yang tinggal di Desa Nenang, Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara tersebut hendak menyudahi aktivitasnya, membawa hasil tangkapannya ke darat.

Naasnya, kapal yang menurut pengakuan korban sedang membawa karyawan dari laut menuju darat tersebut melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah perahu Mito dari sisi kiri belakang. "Muncul tiba-tiba kapal mereka itu dari arah kiri belakang saya, dari arah laut menuju ke darat," ujar Mito kepada tribunkaltim.co saat ditemui di Rumah Sakit Siloam Balikpapan, Sabtu (17/3) sore.

Mito yang berada di sisi kiri perahu, menyadari ada kapal berkecepatan tinggi menuju dirinya, sontak ia berbalik badan untuk mencoba mengendalikan kemudi namun tidak sempat. "Saya waktu itu ada di kiri kapal (perahu).

Tahu ada kapal dari kiri belakang saya, saya langsung balik badan mau pegang kendali. Tapi tidak sempat akhirnya (kapal besar) menghantam lengan kanan saya, terlempar." ungkapnya.

Alhasil, perahu yang dinaiki Mito, terbalik. Akibat kejadian tersebut, Mito mengalami cedera pergeseran sendi lengan bagian kanan dan Andi mengalami luka-luka dan trauma akibat kejadian tersebut. Sementara Anas masih dalam proses pencarian oleh tim Basarnas di lokasi kejadian.

Setelah kejadian, korban lakalaut tersebut dilarikan ke klinik perusahaan migas di daerah Pulau Ubi sekitar Sungai Banjar. Kemudian pukul 00.00 wita, dari klinik menuju Handil sekitar 03.00 wita untuk dilanjutkan menuju Balikpapan untuk dirawat secara intensif di Rumah Sakit Siloam Balikpapan.

Menurut pengakuan korban, pengemudi kapal tersebut adalah seorang perempuan. "Tapi disana sudah ketemu, sudah minta maaf, saya (pengemudi kapal besar) mungkin kurang prepare juga tadi pak, kurang hati-hati," jelasnya menirukan perkataan pengemudi tersebut.

Kondisi terkini korban selamat atas nama Mito kini sudah berangsur membaik. "Tadi  sudah dibius, dikembalikan lokasinya (sendi lengan). Nanti mau diliat dulu keadaannya gimana. Kalau memungkinkan, nanti rawat jalan saja," jelasnya.

Sementara Andi, menurut pengakuan istri Mito yang juga masih ada hubungan keluarga dengan Andi, tidak bisa ditemui karena kondisinya yang masih trauma akan kejadian tersebut.

Kepada tribunkaltim.co, Mito menyesalkan kejadian tersebut. Pasalnya, kapal besar berkecepatan tinggi itu harusnya bisa menghindar. "Kalau dari nalar pikiran, kecepatan kapal saya, sejamnya hanya 7 mil. Kalau kapal mereka itu diatas 20 mil. Harusnya bisa menghindar," ujarnya.

"Waktu kejadian itu juga, cuaca lagi bersahabat. Teduh, cerah. Coba mungkin malam atau gelombang, bisa tidak keliatan. Masih di area bebas juga. Kalau sudah di sungai mungkin agak sulit. Kalau ini kan masih area bebas (luas)," jelasnya.

Untuk biaya pengobatan, Mito mengatakan bahwa semua ditanggung oleh pihak yang menabrak perahu.
"Dari sana sampai sini, perjalanan ditanggung. Tadi juga ada yang jaga disini dari pihak sananya (perusahaan)," ungkapnya. (*)

Penulis: Aditya Rahman Hafidz
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved