Miris, Inflasi di Negeri Kaya Minyak Ini 6.000 Persen, 90 Persen Rakyatnya Tak Mampu Beli Sembako

Krisis yang terjadi di Venezuela akibat kesalahan pengelolaan ekonomi dan harga minyak dunia yang jatuh

Ratusan warga permukiman kumuh berunjuk rasa menuju ke Istana Presiden Venezuela di Caracas untuk mempertanyakan kelangkaan bahan makanan di negeri itu. JUAN BARRETO / AFP 

TRIBUNKALTIM.CO, CARACAS - Inflasi tahunan di Venezuela hingga akhir Februari 2018 lalu mencapai 6.147 persen.

Angka ini berdasarkan estimasi yang dilakukan Majelis Nasional yang dipimpin partai oposisi, dirilis baru-baru ini dan sejalan dengan angka yang diprediksi para ekonom independen.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/3/2018), inflasi indeks harga konsumen (IHK) Venezuela pada bulan Februari 2018 saja tercatat sebesar 80 persen.

Hal ini seiring dengan krisis ekonomi yang menyebabkan jutaan warga Venezuela kesulitan membeli bahan-bahan pangan dasar dan obat-obatan.

"Jika kenaikan harga terus berlanjut, bersiap-siaplah inflasi mencapai 131.985 persen pada tahun 2018," kata pejabat oposisi dan ekonom Angel Alvarado dalam cuitan pada akun Twitter pribadinya.

Sejumlah kritik pun menuding kontrol mata uang yang ketat dan pencetakan uang secara berlebihan menjadi biang keladi inflasi hingga mencapai ribuan persen. Kebijakan kontrol mata uang secara berlebihan dimulai 15 tahun lalu oleh mendiang presiden Hugo Chaves.

Nilai tukar mata uang bolivar pada tahun 2017 saja melemah 98 persen terhadap dollar AS. Artinya, upah minimum di Venezuela hanya setara beberapa dollar AS dalam sebulan.

Pemerintahan Presiden Nicolas Maduro menyalahkan bencana ekonomi yang dialami Venezuela karena masalah perang dagang yang disulut oposisi dan para pemimpin bisnis.

Nicolas Maduro
Nicolas Maduro ((AFP Photo / Leo Ramirez))

Kondisi ini, kata pemerintahan Maduro, didukung pula oleh AS. Selama dua tahun terakhir, pemerintah tidak merilis data resmi terkait inflasi. Menurut kalkulasi Majelis Nasional, pada akhir tahun 2017 lalu Venezuela telah memasuki kondisi hiperinflasi.

Sementara itu, jatuhnya perekonomian di Venezuela telah menggiring negara kaya minyak tersebut pada bencana kelaparan massal. Hampir 90 persen, yakni 87 persen warga Venezuela, menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai uang untuk membeli makanan yang layak.

Persentase tersebut didasarkan pada penghitungan standar hidup layak yang dibuat oleh Simon Bolivar University.

Dilaporkan pula oleh Center for Documentation and Social Analysis bahwa 72 persen penghasilan bulanan dialokasikan hanya untuk membeli bahan pangan. Segala kesulitan terkait pangan pun menimbulkan gejolak di masyarakat.

Dalam waktu dua minggu, ada sekitar 50 kerusuhan dan unjuk rasa terkait pangan.

Krisis yang terjadi di Venezuela akibat kesalahan pengelolaan ekonomi dan harga minyak dunia yang jatuh. Venezuela, anggota OPEC dan pemilik cadangan minyak terbesar dunia, amat mengandalkan ekonominya pada pendapatan ekspor minyak.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved