Disebut Salah Satu Penyebab Banjir, Organisasi Pengembang Minta Pemkot Lakukan Kajian Teknis

Banjir besar yang melanda Samarinda beberapa hari lalu disebut-sebut disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan

Disebut Salah Satu Penyebab Banjir, Organisasi Pengembang Minta Pemkot Lakukan Kajian Teknis
TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
Warga RT 17 membawa barang melintasi kawasan pemukiman jalan Barito Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda Kalimantan Timur, Kamis (22/3/2018). Ketinggian banjir di kawasan jalan Barito mencapai 1, 6 meter pasca hujan deras melanda lebih 5 jam. 

Laporan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto

TRIBUN KALTIM.CO, SAMARINDA - Banjir besar yang melanda Samarinda beberapa hari lalu disebut-sebut disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan yang tak terkendali. Satu diantaranya, pembukaan lahan untuk perumahan .

Diketahui, sebagian besar wilayah Samarinda, khususnya di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda Seberang, Palaran dan Loa Janan Ilir terendam banjir. Pj Walikota Samarinda, Zairin Zain menyebut penyebab banjir tak jauh-jauh dari aktivitas pembukaan lahan.

Baca: Tiga Heli Disiapkan Antar Panglima TNI dan Kapolri ke Daerah Perbatasan

Menanggapi hal ini, Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Kaltim, Bagus Susetyo meminta semua pihak, termasuk pemerintah tak buru-buru menyalahkan aktivitas pembukaan lahan untuk perumahan, sebagai biang penyebab banjir.

"Semestinya dikaji dulu kondisi curah hujan dan lamanya hujan. Kemudian dilihat eksisting polder dan saluran pembuangan yang ada. Baru diberi pendekatan masalah dari beberapa alternatif penyebab. Tidak serta-merta langsung menyebut A dan B yang menjadi penyebab banjir," kata Bagus, Senin (26/3/2018).

Bagus menjelaskan, kondisi tanah di Kaltim, termasuk Samarinda, didominasi jenis lempung. Sehingga, sedikit sekali menyerap air.

Baca: Mantan Ketua Panwas Diperiksa Lagi, Penangguhan Tahanannya Ditolak

"Kondisi tanah di Samarinda atau Kaltim itu tanah lempung atau clay. Artinya tanah yang kedap air. Jadi tidak semua air hujan bisa masuk meresap ke dalam tanah. Sehingga sebagian besar mengalir cari daerah yang rendah.
Kalaupun tidak ada kupasan, sedikit sekali yang masuk meresap," urainya.

Selain itu, lanjut Bagus, curah hujan yang mengguyur Samarinda dan mengakibatkan banjir besar tersebut, sangat tinggi. Begitu pula dengan durasi hujan yang berlangsung hampir 12 jam. Kondisi demikian, kata Bagus, tidak dapat ditampung oleh polder maupun drainase yang ada.

Baca: Kisah Dibalik Rhoma Irama Diberi Sawer Moge Harley Davidson, Ternyata Ini Kejadiannya

"Sehingga menjadi genangan dan meluap. Ditambah dimensi saluran dan sedimentasi yang tinggi di drainase kota yang kurang dipelihara," tuturnya.

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Januar Alamijaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved