Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Terus Tertekan, Tahura Bukit Soeharto Bisa Disulap Jadi Kawasan Seperti Ini

"Pemprov, Pemkab, KLHK dan KHDTK harus duduk bersama. Menginventarisasi masalah sebagai dasar tindakan selanjutnya," kata Wiratno.

Tayang:
Penulis: Rafan Dwinanto |
TRIBUN KALTIM / RAFAN DWINANTO
Dirjen Konservasi KLHK, Wiratno bersalaman dengan Rektor Unmul Masjaya 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kawasan konservasi di Kaltim, salah satunya Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, kondisinya terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Studi Reboisasi Hutan Tropis Humida (Pusrehut), Universitas Mulawarman, Sukartiningsih, dalam Workshop Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Bukit Soeharto, Sabtu (7/4/2018).

Sukartiningsih mengungkapkan, Bukit Soeharto terus mendapat tekanan. Tidak hanya secara ekologis, namun sekarang tekanan juga datang dari sisi sosial.

"Ada kebun masyarakat, ada sawit, batubara, dan lainnya," kata Sukartiningsih.

Menurut Sukartiningsih, kondisi demikian menjadi tantangan untuk memulihkan kondisi Bukit Soeharto yang di dalamnya terdapat Hutan Pendidikan dan Pemikiran Unmul seluas 20.271 hektare.

"Kondisi ini jangan membuat kita pesimis. Justru harus optimis dalam rangka membangun hutan dan kehutanan di Indonesia. Tentunya, harus dengan kesadaran kolektif," ujarnya.

Workshop kehutanan ini menghadirkan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno sebagai pembicara utama.

Menurut Wiratno, persoalan di Tahura Bukit Soeharto harus dibahas bersama.

"Pemprov, Pemkab, KLHK dan KHDTK harus duduk bersama. Menginventarisasi masalah sebagai dasar tindakan selanjutnya," kata Wiratno.

Bukit Soeharto, kata Wiratno, juga bisa dijadikan sebagai destinasi ekowisata layaknya di Tangkahan.

"Tapi harus ada pengelolanya. Dalam hal ini KHDTK harus membangun unit-unit pengelola. Contohnya unit pengelola ekowisata, restorasi, dan pemberdayaan masyarakat," jelas Wiratno.

Sejatinya, kata Wiratno, Tahura merupakan kawasan koleksi tumbuhan. Seperti di Tangkahan, Tahura bisa dilengkapi dengan spot pengamatan, tracking, hingga jalur sepeda.

"Orang bisa mengamati burung, tracking dan lainnya. Tapi, itu semua harus dilakukan pengelola bersama masyarakat di desa terdekat," ujar Wiratno. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved