Breaking News:

Divonis Mati di PN Tarakan Penasihat Hukum Andi Langsung Banding

kata Donny, di dalam persidangan para saksi menyatakan bahwa yang menyuruh mengambil sabu-sabu adalah pria bernama Hen

Penulis: Junisah | Editor: Mathias Masan Ola
Tribun Kaltim/Junisah
Andi terdakwa penyelundupan narkoba duduk mendengarkan vonis hukuman yang dibacakan majelis hakim di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Tarakan, Senin (9/4/2018) 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Donny Tri Istiqomah Ketua Tim Penasihat Hukum Andi bin Arif, salah satu terdakwa penyelundupan narkotika yang divonis mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tarakan menyatakan banding atas vonis terhadap klaiennya.

"Kami menyatakan banding, karena putusan hakim tidak berpijak kepada kebenaran materiil (kebenaran hakikih), sebagaimana yang terungkap dan menjadi fakta persidangan. Padahal kebenaran materiil menjadi syarat mutlak bagi hakim dalam memperoleh keyakinannya. Putusan hakim ini tidak berpijak pada kebenaran materiil sehingga klien kami dipidana atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya," tegas Donny, usai persidangan, Senin (9/4/2018).

Menurut Donny, putusan hakim sangat jelas melanggar pasal 6 ayat (2) UU Nomor 4/2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Hakim telah melakukan abuse of judicial power yakni sewenang-wenang menggunakan kekuasaan dan menjatuhkan hukuman mati tanpa ada bukti keterlibatan kliennya.

Donny menegaskan, kliennya tidak bersalah, karena berdasarkan bukti-bukti selama persidangan, Andi sama sekali tidak terlibat dalam penyelundupan sabu-sabu ini. Pasalnya Andi ini merupakan korban salah tangkap adanya konspirasi.

Tak hanya itu saja, kata Donny, di dalam persidangan para saksi menyatakan bahwa yang menyuruh mengambil sabu-sabu adalah pria bernama Hen, dan bukan Andi Bin Arif. Bahkan Amin, salah satu saksi juga mengaku Hen itu berperawakan hitam dan tinggi besar dan bukan pendek kecil seperti Andi.

"Tapi ternyata polisi BBN tetap memaksa para saksi mengakui, bahwa yang dimaksud Hen adalah klien kami dengan menunjukkan foto Andi bin Arif dengan cara paksa, intimidasi dan penganiayaan fisik, dipukuli sampai babak belur bahkan gigi Amin sampai patah," tegasnya.(*)

Berdasarkan Lima Alat Bukti
MENANGGAPI hal ini Ketua PN Tarakan Wahyu Iman Santoso mengatakan, dalam memutuskan suatu perkara majelis hakim berdasarkan lima alat bukti, yakni keterangan saksi, terdakwa, keterangan ahli, bukti surat dan keyakinan hakim.

Dari rangkaian lima alat bukti inilah majelis hakim membuat putusan perkara, karena ada kesesuain antara keterangan saksi dan terdakwa, sehingga munculah putusan hakim dan ini sesuai dengan faktas selama persidangan," ujarnya.

Seperti diketahui, tim BNN terlebih dahulu menangkap empat orang pelaku; Ary Permadi, Haryanto, Roniansyah dan Amin. Tim BNN melakukan interogasi terhadap empat orang ini dan akhirnya menangkap Andi bin Arif salah satu napi LP Tarakan. Tim BNN menyatakan Andi lah yang mengendalikan semua transaksi penyelundupan sabu-sabu 11,4 Kg dari LP Tarakan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved