Kisah Penyelam Ikut Proses Pengangkatan Pipa Bawah Laut, Sempat Alami Dekompresi

Setiap profesi yang dijalani seorang pasti memiliki resiko, baik resiko kecil sampai yang bisa membahayakan jiwanya.

Kisah Penyelam Ikut Proses Pengangkatan Pipa Bawah Laut, Sempat Alami  Dekompresi
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Penyelam PT Dewi Rahmi melompat ke perairan untuk memasang kabel yang digunakan mengangkat potongan pipa Pertamina di Teluk Balikpapan, Kamis (19/4/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Setiap profesi yang dijalani seorang pasti memiliki resiko, baik resiko kecil sampai yang bisa membahayakan jiwanya. Termasuk proses sebagai penyelam profesional yang dijalani Imam dan Robi.

Keduanya penyelam tim dari PT Dewi Rahmi berjuang memasang kabel sling di potongan pipa minyak Pertamina di kedalaman sekitar 26 meter dari permukaan laut. Pipa akan diangkat ke geladak kapal Sea Haven, di perairan Teluk Balikpapan, Kamis (19/4).

Imam dan Robi merupakan dua penyelam dari kelompok kedua tim pengangkatan patahan pipa Pertamina di tengah arus Teluk Balikpapan yang kencang. Bagi mereka berdua dan tim yang berjumlah 27 orang dengan 19 penyelam tugas di Balikpapan merupakan tugas paling berat yang pernah mereka lakukan.

Baca: Patahan Pipa Berhasil Diangkat, Ini Proses Pengangkatan Pipa dari Bawah Laut

Mereka berpengalaman menangani patahan pipa minyak dari seluruh daerah. “Beratnya tugas disini adalah karena kami menjalani tugas penyelaman yang continue dari pagi sampai malam.” kata Iwan yang ditemui Tribun di atas kapal Sea Haven

Selain waktu penyelaman padat, tugas di Balikpapan ini menjadi berat karena kondisi arus air tenang di Teluk Balikpapan jarang terjadi. Robi menambahkan, arus yang mereka temui selama penyelaman lebih banyak bertemu dengan arus kencang dari pada kondisi konda.

“Jadi selain kami dikejar waktu, yang berat bagi kami saat menyelam adalah arus di sini kencang terus, kalau pun tenang hanya sebentar” jelas Robi mendampingi Iwan

Baca: Rumah Berusia 60 Tahun Meledak Akibat Pipa Gas Ditabrak

"Tadi kami bahkan sempat mengalami dekompresi karena terlalu lama menyelam. Harusnya hanya 30 menit tetapi demi pekerjaan ini kami paksakan sampai 45 menit. Tapi tidak parah” ujar Iwan usai menceritakan resiko yang mereka alami usai menyelam di arus yang kencang. (*)

Penulis: Fachmi Rachman
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved