Breaking News
Senin, 20 April 2026

Hyperbaric Chamber, Terapi Setara dengan Menyelam di Spot Paling Ekstrem!

Hyperbaric Chamber berbentuk tabung besar menyerupai kapal selam ini memiliki kapasitas 7 orang.

TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
Tidak hanya menyebuhkan penyakit dekompresi akibat menyelam, terapi hyperbaric chamber juga dapat menyegarkan kondisi tubuh dengan melancarkan peredaran darah dan meregenerasi sel-sel di dalam tubuh. 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Geafry Necolsen

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Akhir pekan ini sejumlah jurnalis yang juga tergabung dalam komunitas Berau Journalist Divers, memiliki kesempatan untuk menjajal fasilitas hyperbaric chamber di Pusekesmas 24 jam, Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan.

Ada 7 anggota Berau Journalist Divers yang menjajal fasilitas ini, yakni Robitoh Johan Palupi, Genaral Manajer Berau Post, Edi Akbar Citizen Journalist Net Tv, Agus dari Samarinda Post, Yudi Rizal dari Isomoto, Samuel Sitompul dari Humas Pemkab Berau dan saya sendiri, Geafry Necolsen dari Tribunkaltim.co.

Hyperbaric chamber merupakan fasilitas terapi oksigen Hiperbarik (Hyperbaric Chamber), yang biasa digunakan untuk memulihkan penyakit dekompresi akibat menyelam.

Baca: RESEP - Si Imut Cake Pisang Kismis, Bikinnya Gampang Si Kecil Pasti Suka!

Hyperbaric Chamber berbentuk tabung besar menyerupai kapal selam ini memiliki kapasitas 7 orang.

“Dalam satu sesi maksimal memang untuk tujuh orang,” kata Gideon Pujo, operator hyperbaric chamber, Minggu (27/4/2018).

Ada dua jenis terapi yang biasa menggunakan hyperbaric chamber, selain untuk mengatasi penyakit akibat dekompresi untuk para penyelam, juga ada terapi pengobatan jenis penyakit lain yang menggunakan tabel Kinwall.

Baca: Dianggap Tegas dan Berani, Buwas yang Diangkat Jadi Dirut Bulog Diharapkan Bisa Bongkar Mafia Pangan

Kebetulan saya sendiri mengalami dekompresi akumulatif dari beberapa kali menyelam di perairan Pulau Maratua, Gideon mendiagnosa saya terkena dekompresi tingkat 1, kategori ringan yang menyebabkan saya mengalami sakit kepala setiap menyelam dan beberapa kali serangan sesak nafas.

Sedangkan terberat yaitu tingkat 2 dengan ciri-ciri nyeri syaraf dan kelumpuhan.

Untuk mengatasi dekompresi ringan ini, Gideon menyarankan kami untuk menjalani terapi selama 2,5 jam.

Namun karena keterbatasan waktu yang kami miliki, Gideon akhirnya memberikan terapi selama 70 menit.

Baca: Menteri Rini dan Dirut PLN Bagi-bagi Saham, Ini Cuplikan Rekamannya yang Beredar

Kesannya sederhana, pasien masuk ke dalam ruang atau chamber sembari duduk dan menghirup oksigen murni.

Namun dalam prosesnya, dibutuhkan pengalaman dan keterampilan menyelam.

Terutama equalizing, yakni tehnik mentralkan tekanan di telinga.

Terapi yang kami jalani menurut Agus, setara dengan menyelam di lokasi penyelaman paling ekstreme, yakni di Spot Diving Chanel.

Bahkan Robi beberapa kali memejamkan matanya karena menahan rasa sakit yang luar bisa di bagian telinga saat menjalani terapi ini.

Baca: Ramaikan CFD, Warga Berkaus dan Topi #2019GantiPresiden, Ini Alasannya

Equalizing ini harus dilakukan terus menerus, karena setara dengan menyelam dari kedalam 0 sampai 18 meter dalam waktu 3 menit.

Setelah proses memberi tekanan dalam chamber selesai, melalui pengeras suara, Gideon menginstruksikan kami agar mengenakan regulator.

Ada dua 2 jenis regulator yang melekat di wajah kami, di sisi kanan memompa oksigen murni, di sisi kiri menyerap sisa pernafasan.

Edi Akbar, Samuel dan Yudi Rizal tertawa terpingkal-pingkal, ketika saya berbicara. Karena suara saya mirip dengan tokoh donal bebek, akibat tekanan udara yang besar.

“Pop!” para ‘pasien’ di dalam chamber sempat terkaget-kaget saat membuka botol air mineral yang meletup dan mengeluarkan suara mirip botol anggur yang dilepas tutup gabusnya.

Tekanan udara di dalam chamber rupanya juga membuat air mineral dalam botol plastik mengalami tekanan dan membentuk gas.

Gas dalam botol air mineral tadi, pada dasarnya, mirip dengan penyakit dekompresi ekstreme.

Saat menyelam di kedalaman yang sama dan tiba-tiba naik kepermukaan, gas ini yang merobek jaringan pembuluh darah dan mengakibatkan kelumpuhan dan kematian.

“Jadi prinsip hyperbaric chamber ini mengeluarkan nitrogen dari dalam tubuh dengan memasukan oksgen murni,” jelas Gideon.

Keberadaan Hyperbaric Chamber ini dirasa cukup tepat untuk ditempatkan di Tanjung Batu, pasalnya, Tanjung Batu merupakan pintu masuk pariwisata.

Terlebih lagi, di wilayah ini ada puluhan titik penyelaman.

Namun hyperbaric chamber ini tidak hanya untuk mengatasi penyakit dekompresi, fasiltas terapi yang menggabungkan oksigen murni dan tekanan udara di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT) juga banyak dimanfaatkan untuk terapi berbagai jenis penyakit.

Dengan terapi oksigen murni dan tekanan udara dalam chamber, dapat meningkatkan kadar oksigen dalam seluruh jaringan tubuh, membantu pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis), juga mengurangi reaksi radang dan pembengkakan hingga kemampuan meningkatkan sistem kekebalan melawan infeksi tertentu.

Selain itu, terapi hiperbarik juga dapat menetralkan keracunan karbon monoksida, membantu pemulihan luka akibat kecelakaan, anemia, infeksi pada tulang, komplikasi terapi radiasi, pencangkokan kulit dan luka bakar dan sebagainya.

Berbeda dengan terapi dekompresi untuk penyelam, terapi kesehatan tidak terlalu ekstreme, karena pasien akan mendapat tekanan secara perlahan-lahan.

Nah, Jika berada di Kabupaten Berau, tidak ada salahnya mencoba terapi ini, dijamin, akan membuat badan jadi lebih segar setelah berwisata. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved