Pondasi Jembatan Sedulang di Kukar Dikomplain Warga, Ini Penyebabnya

pembangunan jembatan ini dikerjakan secara swadaya dibantu oleh pihak ketiga dengan melibatkan warga sekitar dalam proses pengerjaannya.

Pondasi Jembatan Sedulang di Kukar Dikomplain Warga, Ini Penyebabnya
Tribun Kaltim/Rahmad Taufik
Pondasi Jembatan Sedulang sudah mulai dikerjakan, namun dalam pengerjaannya mendapat komplain dari warga karena dianggap tidak kokoh sehingga penyangganya perlu diganti 

TRIBUNKALTIM. CO, TENGGARONG - Pondasi Jembatan Sedulang, Desa Sedulang, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sudah mulai dikerjakan.

Camat Muara Kaman Surya Agus mengemukakan progres di lapangan pembangunan jembatan sudah berjalan hampir sebulan.

"Target kita memang sebulan sudah selesai, tapi di lapangan ada hambatan 1-2 orang masyarakat menginginkan agar pondasi jembatan bisa dibangun lebih kokoh," kata Agus, Kamis (3/5/2018).

Baca: Penasaran Gaji Karyawan Industri Otomotif Indonesia? Ternyata Menggiurkan

Seperti diketahui, pembangunan jembatan ini dikerjakan secara swadaya dibantu oleh pihak ketiga dengan melibatkan warga sekitar dalam proses pengerjaannya. Secara teknis, Dinas PU ikut pula membantu.

"Pondasi jembatan ini dikomplain oleh sebagian warga, ada ukuran bahan penyangga yang tongkatnya itu di dalam RAB (Rencana Anggaran Biaya) atau gambar yang ditengah ukuran 15x15 cm, sedangkan di pinggir kanan-kiri dekat sungai 10x10 cm, scr teknis PU bertanggung jawab, satu-dua orang warga tidak menginginkan itu dan minta mengganti bahan itu, ini jadi permasalahan, mereka nggak mau melanjutkan pekerjaan sebelum bahan harus diganti dulu," ujarnya.

Sedangkan bahan ini sudah dibeli. Menurut Agus, kalau bahan diganti maka perlu biaya lagi. Apalagi ini bagian dari bantuan perusahaaan.

Baca: Dipindah ke Lapas Sukamiskin, Novanto Merasa Berada di Pondok Pesantren Bakal Belajar Agama

Selain itu, warga juga komplain terkait lebar jembatan kayu 6 meter. "Ada satu kapal punya masyarakat yang menggunakan jalur sungai itu, pengemudinya menginginkan lebar jembatan tidak 6 meter, melainkan harus 8 meter, secara teknis PU siap 7 meter, tapi ini belum tuntas. Pemilik kapal tidak ingin ketika lewat terganggu atau mengakibatkan terjadi benturan," tuturnya.

Saat ini pembangunan jembatan tetap berjalan tapi arah di samping pintu masuk, kalau naik jalan darat karena masyarakat di sana tidak ada masalah, cuma di dekat masjid tidak bisa dilanjutkan karena adanya tuntutan warga tadi. Dua permasalahan ini akan dituntaskan dalam waktu dekat.

Pembangunan Jembatan Sedulang menjadi kebutuhan mendesak bagi warga. Selama ini akses warga menggunakan transportasi feri tradisional untuk menyeberangi sungai dengan biaya Rp 5.000/orang.

Baca: Madura United Vs Persib, Ini Janji Raphael Maitimo Jika Bobol Gawang Maung Bandung

"Adanya jembatan nanti membuat akses warga lebih mudah, cepat dan yang terpenting aman," kata Agus.

Jembatan berkonstruksi kayu ulin ini dibangun secara keroyokan oleh 5 perusahaan perkebunan dengan anggaran sekitar Rp 450 juta, yakni PT Kencana Grup, PT Maju Kalimantan Hadapan, PT Surya Hutani Jaya, PT Cahaya Anugrah Plantation dan PT Hamparan Sentosa.

Jembatan kayu ini dibangun sepanjang 60 meter dan lebar 2 meter. Akses jembatan kayu ini akan menyambung 2 kampung di Sedulang yang terbelah oleh Sungai Sedulang yang agak lebar. Kampung ini dihuni sekitar 3.000 jiwa penduduk.

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved