OPINI

Quo Vadis Universitas Mulawarman?

Judul ini berupa pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang menyelidik. Menyelidik, karena ini bukanlah pertanyaan biasa

Quo Vadis Universitas Mulawarman?
TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HADI PRASETYO
Ilustrasi. Dua mahasiswi sedang melenggang menuju fakultasnya melewatii kantor Rektorat Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Unmul kini berupaya menjadikan diri sejajar dengan universitas-universitas top kelas dunia. 

Apabila kita cermati dari aspek sumber daya Dosen (indikator guru besar, doktor, lektor kepala dan rasio dosen mahasiswa)  yang merupakan aspek pertama dari   pengukuran pemeringkatan itu, ternyata sumber daya Dosen  Unmul merupakan yang terbaik  di Indonesia Bagian Timur (hanya di bawah Univ. Hasanuddin). Pada aspek ini, Unmul memiliki nilai baik. Jikalau  potensi sumber daya dosen yang besar ini dikelola dengan benar maka akan berkontribusi signifikan untuk peningkatan nilai aspek-aspek pengukuran  lainnya sehingga akan terjadi loncatan (akselerasi)  peringkat ke yang lebih tinggi/baik. Perlu perbaikan manajemen sumber daya manusia  (dosen dan tenaga kependidikan) untuk  menempatkan orang yang tepat pada tempat yang tepat.

Kedua, aspek kelembagaan, yakni bertalian dengan akreditasi. Pada saat pemeringkatan 2017,  dari 90 PS tidak satu pun yang Akreditasi A  di Unmul. Sungguh memprihatinkan, karena hampir  semua perguruan tinggi negeri (PTN)  di Indonesia dipastikan terdapat PS yang terakreditasi A pada tahun yang sama.   Dibandingkan dengan perguruan tinggi di Jawa,  sebagian besar telah Terakreditasi Internasional karena merupakan salah satu syarat meraih predikat World Class University. Jikalau Unmul bermimpi untuk memperoleh predikat   World Class University, semestinya sudah sejak dini mempersiapkan diri untuk memperoleh Akreditasi Internasional.

 Ketiga, aspek Kemahasiswaan, yakni yang bertalian dengan prestasi Mahasiswa  khususnya di tingkat nasional dan internasional. Prestasi Mahasiswa tahun 2017 adalah  nilai nol (0),  yang berarti tidak ada prestasi sama sekali. Sebetulnya,  terdapat prestasi mahasiswa Unmul di tingkat nasional dan internasional,  namun karena buruknya manajemen informasi prestasi mahasiswa tersebut tidak terlaporkan.   Rendahnya prestasi mahasiswa ini dapat disebabkan  oleh karena  minimnya dana yang disediakan dan belum memadainya pembinaan yang dilakukan pada Mahasiswa. Keempat, aspek penelitian dan pengabdian pada masyarakat, yakni bertalian dengan produktivitas   Penelitian, Pengabdian  dan  Jurnal Publikasi Ilmiah khususnya yang bereputasi Internasional seperti jumlah publikasi ilmiah terindeks scopus.

Khusus dari  kriteria manajemen sistem informasi, Unmul lebih jauh terpuruk ke urutan 118 berdasarkan pemeringkatan universitas terbaik  di Indonesia versi Webometrics Januari  2018(http://www.webometrics.info/en/Asia/indonesia ?page=1). Jauh tertinggal dari PTN di Indonesia Bagian Timur  yang masuk 100 besar seperti: Tadulako (26), Mataram (35), Tanjung Pura (40), Pattimura (73), Sam Ratulangi (85), Borneo Tarakan  (97) dan Papua Monokwari (99).  Posisi demikian menunjukkan buruknya penerapan teknologi dan manajemen sistem informasi di Unmul seperti penyediaan dan pemanfaatan website untuk universitas, fakultas dan jurusan/PS; penggunaan e-learning; penggunaan e-library dan lainnya.

 Unmul hingga sekarang ini masih kurang memiliki daya tarik yang menarik animo calon Mahasiswa untuk studi menimbah ilmu  di Unmul. Unmul hanya memiliki daya dorong, yakni daya dorong dari  luapan lulusan SMA/SMK mengakibatkan banyak   calon Mahasiswa memilih studi di Unmul. Banyaknya lulusan SMA/SMK di Kalimantan Timur dan sekitarnya itulah yang menjadi pendorong   untuk  studi di Unmul. Berbeda dari Unmul, perguruan tinggi di Jawa  misalnya ITB, IPB, UI, dan UGM adalah memiliki daya tarik (berprestasi, citra dan reputasi baik)  yang menarik minat calon Mahasiswa (dari berbagai daerah seluruh Indonesia termasuk dari  Kaltim)  untuk melanjutkan studi di sana. Mereka umumnya lebih berprestasi dan lebih siap dari sisi pembiayaan. Jika tidak lolos masuk  PTN  mereka  akan memilih PT Swasta yang bermutu.

Upaya peningkatan  prestasi, citra dan reputasi Unmul pada dasarnya  merupakan tanggungjawab dan sangat tergantung pada peran,  kinerja dan keterlibatan dari  segenap sivitas akademika dan  pemangku kepentingan (stakeholders  internal dan eksternal) seperti  dosen,  mahasiswa dan tenaga kependidikan,  lulusan/alumni, pengguna dan institusi terkait. Ada keterpadauan dan sinergi setiap sumber daya (fisik dan non-fisik)  mulai dari  tingkat PS/jurusan, fakultas dan universitas.  Kemampuan membangun sinergitas komponen sumber daya internal institusi dan kemampuan membangun jejaring kerja sama  ke eksternal  institusi merupakan kata kunci meraih  keberhasilan dari sebuah institusi (Unmul). Jadi, peran kepemimpinan (leadership) juga adalah sangat penting.

Peran Strategis Rektor

Belajar dari pengalaman  beberapa Perguruan Tinggi terkemuka (di Indonesia dan dunia), ternyata keberhasilan mereka lebih ditentukan oleh  dua hal, yaitu pertama, membangun  networking  dan lobbying yang kuat dan luas. Kemampuan  membangun jejaring kerja sama dan kemampuan mempengaruhi untuk memperoleh hasil yang  favorable. Jadi, tidak sekedar membuat  nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).  Kedua, kemampuan mengelola sumberdaya internal institusi secara sinergis untuk mencapai hasil kinerja tinggi. Diperlukan manajemen sumberdaya manusia (khususnya dosen dan tenaga kependidikan) dengan pendekatan budaya kerja profesional.

Rektor memiliki peran strategis dalam membangun mutu, prestasi,  citra dan reputasi sebuah institusi (Unmul). Seorang Rektor semestinya memiliki  mutu pemikiran yang strategis  jauh ke depan (visioner) dan mampu melembagakan visi dan  berbagi visi itu   pada semua pemangku kepentingan institusi sehingga mereka paham, termotivasi dan berkomitmen mewujudkan visi itu. Rektor mesti  memiliki kemampuan berbagi kepemimpinan (capacity for sharing leadership)  dan kemampuan menciptakan keterpaduan organisasi (syntality).  Rektor semestinya juga menunjukkan keteladanan membangun atmosfir  kampus yang kondusif bagi dosen agar  lebih  berperan sebagai  academic leader bukan justru berlomba-lomba mengejar jabatan struktural. Bangunlah tipe academic leader    yang mengapresiasi kepakaran dan bidang keilmuan dosen. Hindarilah slogan-slogan yang bombastis  seperti World Class University dan Unmul jadi pelopor revolusi mental yang justru mendegradasi citra Unmul.   Bangunlah reputasi dan citra misalnya,  lewat  laboratorium percontohan dengan kinerja tinggi  yang membanggakan dengan slogan  Membangun Unmul Sarat Prestasi, Unmul Bangun Desa Mandiri, Unmul Bangun Citra Guru,  dan lain-lain  sehingga kehadiran Unmul sungguh-sungguh dirasakan kemanfaatannya oleh   masyarakat Kaltim,  Indonesia bahkan Dunia.

Pimpinan Universitas semestinya memiliki keinsafan akan pentingnya mutu  dan berkomitmen  untuk membangun budaya mutu secara profesional. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) semestinya terstruktur dan terintegrasi dari tingkat universitas, fakultas, jurusan/PS termasuk sistem penjaminan mutu  laboratorium. Nama dan mekanisme kerja penjaminan mutu dari tingkat universitas, fakultas, jurusan/PS dan laboratorium semestinya harus terlegitimasi melalui surat keputusan di tingkat universitas. Kebijakan tertulis yang terdokumentasikan dengan baik itu disosialisasikan secara efektif dan dilaksanakan secara konsisten oleh segenap sivitas akademika dan tenaga kependidikan  pada tingkat universitas, fakultas dan jurusan/PS.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved