Seminggu Sekali Terbang, Pesawat di Pedalaman Ini hanya Bawa 6 Penumpang

Dampak belum lancarnya program subsidi penerbangan dari APBD Malinau, penerbangan ke daerah pedalaman hanya sekali dilakukan dalam seminggu.

Seminggu Sekali Terbang, Pesawat di Pedalaman Ini hanya Bawa 6 Penumpang
TRIBUNKALTIM/PURNOMO SUSANTO
PESAWAT PERINTIS - Salah satu pesawat perintis saat melayani penerbangan subsidi di daerah perbatasan dan pedalaman. Foto diabadikan tahun 2017 lalu. 

"Yang penting ada saja penerbangan, kami tidak masalah dengan harga tersebut. Daripada seperti ini, kami ingin kembali ke desa tidak bisa. Bahkan, ada siswa yang sudah selesai melaksanakan UNBK di Tanjung Selor belum juga kembali pulang. Padahal, mereka sudah keluar dari kampung sejak bulan Maret lalu," ungkapnya.

"Saat ini kurang lebih 20-an orang masyarakat masih ada di Malinau, tidak bisa pulang ke Bahau Hulu. Sebelumnya malah lebih banyak. Hanya saja sudah banyak yang pulang dengan menggunakan cara lain, karena menunggu penerbangan tidak kunjung datang. Terlebih, sudah beberapa kali penerbangan juga tertunda," lanjutnya.

Lebih Murah Naik Pesawat

Menggunakan jalur lain selain jalur udara, masyarakat Bahau Hulu di Kabupaten Malinau, Kalimanta Utara bisa menghabiskan dana sebesar Rp 4,5 juta sekali berangkat.

Dengan total biaya perjalanan perorang tersebut, dinyatakan tokoh pemuda Bahau Hulu, Roni Manan, sangat memberatkan masyarakat. Sebab, biaya ini sangat jauh berbeda saat masyarakat menggunakan jalur udara.

"Kalau jalur udara, paling mahal masyarakat hanya membayar Rp 1,2 juta saja. Kalau menggunakan jalur lain, bisa habis Rp 4,5 juta sekali berangkat. Itu belum termasuk biaya nginap dan biaya makan dalam perjalanan. Sebab, kalau menggunakan jalur lain masyarakat harus menginap dan biaya makan diperjalanan. Kalau naik pesawat, tidak harus mengeluarkan biaya itu," paparnya.

 

Baca: Dipastikan tak diperkuat Pemain Kunci, Kabar tak Enak Juga Hampiri Persib Jelang Lawan Bali United

Dibeberkan Roni, menggunakan jalur lain selain jalur udara masyarakat harus menggunakan dua moda transportasi, yakni transportasi darat dan sungai.

Untuk sampai ke Bahau Hulu menggunakan jalur lain, dijelaskan Roni, seseorang harus menuju Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan terlebih dahulu. Kemudian, melanjutkan perjalanan menggunakan jalur sungai.

"Rute untuk ke Bahau Hulu dari Malinau menggunakan jalur lain, kita harus naik mobil travel ke Tanjung Selor dengan biaya Rp 250 ribu. Kemudian, kita naik long boat Tanjung Selor-Pujungan perorang membayar Rp 800 ribu. Lalu, dari Pujungan-Bahau Hulu menyewa ketinting dengan membayar uang senilai Rp 3,5 juta. Wajar perjalanan sungai itu mahal, sebab selain jauh jalur sungai juga sangat sulit. Belum lagi keluar biaya makan," jelasnya.

(Tribunkaltim.co/ink)

Penulis: tribunkaltim
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved