Tim Gabungan Patroli di Area Budidaya Rumput Laut dan Tangkapan Nelayan

harga rumput laut saat ini sedang menguat. Pembudidaya meresponnya dengan intensitas budidaya yang tinggi.

Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kabupaten Nunukan
Nelayan memanen rumput laut yang dibudidayakan di Perairan Nunukan. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Tim pengawas gabungan yang terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara, Direktorat Polairut Polda, dan Lantamal bakal mengintensifkan patroli pengawas area budidaya rumput laut di berbagai wilayah perairan di Kalimantan Utara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Utara Amir Bakry menjelaskan, langkah itu diambil menyusul seringnya terjadi konflik di jalur budidaya rumput laut dan jalur tangkapan nelayan.

"Kita akan awasi di lapangan. Sama-sama harus kita awasi agar budidaya rumput laut dan tangakapan ikan nelayan bisa berjalan beriringan," kata Amir Bakry kepada Tribun, Kamis (24/5/2018).

Amir mengatakan, harga rumput laut saat ini sedang menguat. Pembudidaya meresponnya dengan intensitas budidaya yang tinggi.

"Pembudidaya sedang semangat-semangatnya. Nelayan juga demikian. Kita akan awasi agar semuanya berjalan dengan baik," katanya.

Harga rumput laut kering kata Amir sudah hampir mencapai Rp 20 ribu per kilogram. Hal itu kata Amir yang akan mengungkit perekonomian masyarakat.

Selain mengawasi, kebijakan pengaturan pemanfaatan wilayah pesisir dan perairan kata Amir sebentar lagi diimplementasikan. Perda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) masih tahap konsultasi di Kementerian Dalam Negeri.

"Di situ sudah diatur semua zonasi wilayah tangkapan, budidaya rumput laut, dan lainnya," katanya.

Dalam dokumen itu kata Amir, sudah ditetapkan beberapa area budidaya rumput laut di Tarakan, Bulungan, dan Nunukan. Namun ia belum mengetahui persis luasannya.

Produksi rumput laut Kalimantan Utara mencapai 5.000 ton per bulan, masing-masing 2.500 ton di Nunukan dan Tarakan. "Di Bulungan ada areanya tetapi belum dibudidayakan," sebutnya.

Di daerah Binalatung, Kota Tarakan lanjutnya sudah ada pabrik pengolahan rumput laut yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hanya saja, sarana hilirisasi itu masih terkendala air bersih.

"Akan kita upayakan pemenuham air bersihnya. Mungkin nanti semacam sumur bor. Kalau itu berfungsi, kita bisa kirim tepung rumput laut ke luar. Sekarang kan masih rumput laut kering kita ekspor. Itupun melalui Surabaya atau Makassar dulu baru diekspor ke luar," sebutnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved