Opini

Dinamika dan Tantangan Pengelolaan Sumberdaya Alam Gubernur Baru

Para pemilih menaruh harapan besar agar kandidat yang terpilih nanti akan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat

Dinamika dan Tantangan Pengelolaan Sumberdaya Alam Gubernur Baru
Kolase
Niel Makinuddin dan Saipul Rahman 

Dalam banyak paparan yang disampaikan oleh Pemerintah Provinsi Kaltim, provinsi ini telah mengalami berbagai periode pembangunan Kaltim yang terlalu bergantung pada sumber daya alam. Pada era tahun 1970-1990, Kaltim bergantung pada sektor perkayuan, dengan laju pertumbuhan ekonomi 7,42%.

Pada periode selanjutnya (1990-2010), pembangunan Kaltim lebih banyak  bergantung pada industri pertambangan seperti minyak bumi dan gas alam serta batu bara. Saat era migas berjaya ternyata tingkat pertumbuhan ekonomi justru relatif lebih rendah, yaitu maksimal sebesar 5,71%.

Anjloknya harga batu bara beberapa tahun terakhir membuat pertumbuhan ekonomi Kaltim sempat menyentuh -0,38% pada tahun 2016. Hal ini memberikan isyarat bahwa Kaltim tidak boleh lagi tergantung hanya pada sumber pendapatan berbasis sumber daya alam yang tidak memberikan jaminan keberlanjutan.

Kapal Tugboat menarik tongkang berisi batubara melintasi Sungai Mahakam setiap harinya, difoto (22/2/2018).
Kapal Tugboat menarik tongkang berisi batubara melintasi Sungai Mahakam setiap harinya, difoto (22/2/2018). (TRIBUN KALTIM / NEVRIANTO HARDI PRASETYO)

Kaltim perlu mempersiapkan sumber ekonomi berbasis jasa dan manufaktur yang sesuai dengan potensi sumber daya alam Kaltim dan dapat dikelola secara berkelanjutan. Kaltim perlu segera melaksanakan transformasi ekonomi untuk mengubah ketergantungan ekonomi yang berbasis ekstraksi sumber daya alam ke ekonomi yang bersifat terbaharukan.

Namun sayangnya, menurut Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara tahun 2017, ketergantungan Kaltim terhadap sumber daya alam khususnya pertambangan justru semakin menguat.

Pada tahun 2000, pangsa industri pengolahan mencapai 41%, sementara pangsa pertambangan hanya sebesar 34%. Keadaan jauh berubah pada  tahun 2016 dimana pangsa pertambangan justru meningkat signifikan menjadi 46% dari total perekonomian yang diiringi dengan menurunnya pangsa industri menjadi 20%. Jika hal ini dibiarkan terus terjadi maka bisa jadi ekonomi Kaltim akan semakin terpuruk, seiring dengan habisnya cadangan sumber daya alam yang tersedia.

Ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap sumber daya alam sangat beresiko terhadap kualitas lingkungan hidup yang pada gilirannya juga akan berpengaruh pada kualitas kesehatan maupun keselamatan ekologis masyarakat Kaltim. Jika tidak dikelola dengan prinsip-prinsip lingkungan hidup yang benar, kegiatan ekstraktif akan mendatangkan bencana ekologis.

Beberapa contoh yang sering terjadi di Kaltim seperti bencana banjir, kebakaran hutan dan lahan, longsor, pencemaran udara, tanah dan air serta termasuk perubahan iklim yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di tingkat dunia adalah bukti bahwa kondisi ekologi lingkungan sudah terganggu.

Tidak hanya  itu, lebih dari 20 jiwa yang telah melayang di lubang tambang adalah realita pahit yang harus dicarikan solusi dan pencegahannya di masa mendatang oleh gubernur terpilih.

Aksi Kamisan yang digelar Jatam untuk menyuarakan duka para korban lubang tambang, Kamis (23/11/2017). Aksi ini sekaligus memeringati Hari Anak Internasional.
Aksi Kamisan yang digelar Jatam untuk menyuarakan duka para korban lubang tambang, Kamis (23/11/2017). Aksi ini sekaligus memeringati Hari Anak Internasional. (tribunkaltim.co/anjas pratama)

Terkait perubahan iklim, Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris (Paris Agreement) melalui Undang Undang nomor 26/2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai Perubahan Iklim).

Halaman
123
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved