Relokasi Warga Sungai Karang Mumus

Pegiat SKM di Samarinda Sarankan Pemerintah Beli Jalur Hijau di Sempadan Sungai

Misman melanjutkan, sungai yang sehat adalah sungai yang terawat riparian, tumbuhan atau vegetasinya.

Penulis: Rafan Dwinanto | Editor: Trinilo Umardini
ISTIMEWA
Begini penampakan salah satu spot di Sungai Karang Mumus yang masih asri. 
Laporan Tribun Kaltim Rafan A Dwinanto
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pemerintah  diminta membeli jalur hijau di sepanjang aliran sungai.
Tujuannya, tak lain untuk penyelamatan sungai.
Hal ini diungkapkan Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Misman, Selasa (19/6/2018).
Menurut Misman, untuk mengembalikan sungai menjadi bersih dan sehat seperti dulu, maka pemerintah pusat, provinsi, maupun Pemkot Samarinda harus menyisihkan anggaran guna membebaskan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS).    
"Pemerintah harus membeli jalur hijau jika ingin menyelamatkan sungai dan menghindari bencana lebih besar lagi, karena jalur yang sebenarnya masuk DAS itu sudah dikuasai masyarakat," kata Misman.
Misman melanjutkan, sungai yang sehat adalah sungai yang terawat riparian, tumbuhan atau vegetasinya.
"Sedangkan tumbuhan yang harus dirawat terdiri atas tumbuh di aquatik (kawasan air), tumbuhan di tepi sungai (ampibi), dan tumbuhan yang hidup di daratan atau rawa area pasang surut sungai," katanya lagi.
Rawa, kata Misman, masuk di dalam DAS. Sehingga kawasan ini semestinya dijaga.
Jangan sampai dialihfungsikan, dan bukan pula dianggap sebagai lahan tidur.
"Karena rawa merupakan layanan ekosistem bagi makhluk hidup dan lahan pertanian yang pada akhirnya juga untuk kepentingan manusia," ucapnya.
Tidak hanya itu, lanjut Misman, rawa juga berfungsi sebagai penahan air agar tidak langsung ditumpahkan ke sungai ketika hujan deras.
Sehingga fungsi rawa sangat banyak, yakni selain tempat berkembangnya berbagai jenis ikan dan aneka flora, juga berfungsi mengurangi banjir.
"Itulah sebabnya mengapa Samarinda sering banjir ketika hujan, karena DAS habis dialihfungsikan dan rawa yang merupakan tempat penampung air beralih fungsi menjadi pemukiman, termasuk perbukitan yang merupakan DAS juga menjadi perumahan," tuturnya.
Namun demikian, Misman mengungkapkan, masih ada beberapa titik DAS yang masih alami, namun sudah dikuasai oleh masyarakat.
Sehingga, jika Samarinda ingin menghindari bencana yang lebih besar, maka jalan yang harus ditempuh adalah membeli lahan tersebut dari uang APBD.
Sekaligus menjaga agar rawa tidak diganggu oleh masyarakat.
"Setelah rawa dikuasai pemerintah, masyarakat masih bisa mengambil manfaatnya tapi terbatas, seperti boleh mengambil ikan dengan cara memancing namun tidak boleh dengan cara menyetrum atau meracuni dengan tujuan agar tidak merusak layanan ekosistem bagi makhluk lainnya," tegas Misman.
Terkait dengan menjaga SKM di aquatik dan tepi atau bibir sungai, GMSS-SKM hanya mampu melakukan semampunya.
Yakni memungut sampah, mengurangi tumbuhan liar di air, menjaga tumbuhan di bibir sungai, dan menanam pohon spesies sungai di tepi sungai untuk membantu menyehatkan sungai karena tumbuhan dan tanaman sungai mampu menyerap polutan.
"GMSS-SKM bersama masyarakat terus berbuat semampunya menjaga dan merawat sungai agar tumbuhannya tidak rusak, sehingga kelak anak cucu kita memiliki sungai yang sehat bukan hanya untuk manusia, namun juga sehat bagi makhluk lain baik yang hidup di dalam sungai maupun di sekitar sungai, termasuk sehat bagi satwa yang masih banyak mencari makan di sekitar SKM," tutur Misman. (*)
Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved