Opini

Tugas Berat Gubernur Kaltim 2018, Menghindarkan Rakyat Dari Kutukan Sumberdaya Alam

kekayaan tersebut bukan saja menjadi berkah bagi Kaltim melainkan juga dapat menjadi sumber kutukan atau resource curse

Tugas Berat Gubernur Kaltim 2018, Menghindarkan Rakyat Dari Kutukan Sumberdaya Alam
Tribun Kaltim/Nevrianto
Sebuah tug boat menarik tongkang batu bara melintas di perairan sungai Mahakam, Samarinda, Selasa (24/4/2018). Anjloknya harga batubara di pasar global telah membuat ekonomi kaltim turut tersungkur dalam beberapa tahun terakhir. 

Perekonomian Kaltim secara langsung dan tidak langsung disumbangkan oleh sektor pertambangan dan migas, sehingga setiap penurunan produksi maupun harga terhadap migas dan tambang batubara akan memberi efek terhadap penerimaan daerah baik dari Dana Perimbangan maupun penerimaan tidak langsung lainnya.

Sejak tahun 2015 ekonomi Kaltim jatuh dan terdegradasi yaitu minus 3,5 ditahun 2016 sampai minus 1,8 ditahun 2017 dan tahun 2018 ada pertumbuhan positif 2,8%. Jatuhnya perekonomian diikuti dengan persoalan-persoalan lingkungan yang semakin masive seperti banjir, kekeruhan sungai, tumpahan minyak, kemusnahan sumber daya, dan kehilangan akses publik terhadap sumber daya alam adalah melengkapi apa yang disebut dengan kutukan sumber daya alam.

Mengapa SDA dapat menjadi kutukan bagi Kaltim? Pertanyaan ini dapat terjawab dengan alasan berikut. Pertama, adalah apabila hasil-hasil atau penerimaan dari SDA selama ini tidak mampu merubah struktur perekonomian Kaltim dari miskin menjadi sejahtera atau makmurKedua adalah apabila pemerintah daerah tidak mampu mempersiapkan pengalihan atau perpindahan (transformasi) sumber-sumber pendapatan dari SDA ke sumber daya terbarukan, dan yang ketiga adalah apabila pemerintah pusat tidak mampu mempertahankan dana transfer ke Kaltim dalam jumlah yang setidaknya sama ketika masih ada produksi SDA dengan tanpa produksi SDA oleh Kaltim.

Sekarang mari kita lihat alasan pertama. Apakah penerimaan Kaltim dari SDA selama ini telah mampu memberikan kesejahteraan atau kemakmuran bagi Kaltim?. Jawabnya belum, mengapa belum karena fakta menunjukkan bahwa dari berbagai indikator ekonomi dan pembangunan baik yang berupa fisik maupun non-fisik Kaltim masih berada jauh dari rata-rata nasional seperti infrastruktur jalan, akses antar kabupaten dan kota, akses antar kecamatan, apalagi akses antar desa masih sangat buruk bahkan belum tersedia.

Demikian juga kesehatan dan pendidikan jika dibandingkan Kaltim sebagai penghasil SDA dengan beberapa provinsi lain yang bukan penghasil SDA justru rangking Kaltim lebih rendah. Stunting maupun balita giji buruk masih banyak ditemukan di Kaltim, akses terhadap air bersih sangat rendah, PPU misalnya baru sekitar 15%, Samarinda baru sekitar 67%, Balikpapan lebih buruk lagi jika musim kemarau.

Pertanyaan lanjutannya mengapa Kaltim masih menjadi sarang kemiskinan baik kemiskinan infrastruktur maupun kemiskinan dalam arti kekurangmampuan daya beli adalah karena apa yang diterima oleh Kaltim dari hasil SDA selama ini masih terlalu kecil dibandingkan dengan pendapatan negara dari SDA Kaltim. Juga jika dibandingkan dengan kebutuhan dana pembangunan Kaltim.  

Apalagi jika dibandingkan dengan kebutuhan untuk mengangkat derajat kesejahteraan rakyat Kaltim. Penyebab lainnya mengapa SDA belum mampu mensejahterakan rakyat Kaltim juga oleh manajemen pemerintahan yang kurang memperhatikan skala prioritas dalam pembangunan sehingga banyak proyek yang menghabiskan uang namun tidak memiliki efek atau linkage terhadap pertumbuhan ekonomi.

Masih ditemukan ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mendisain beberapa proyek dimana kurang memenuhi hajat hidup orang banyak, namun cenderung berorientasi proyek semata alias menghabiskan anggaran.

Dua sebab diatas yaitu dana bagi hasil yang terlalu kecil terutama dari migas, dan pengelolaan keuangan yang kurang berbasis prioritas telah mengakibatkan pemborosan anggaran dan mengancam keberlanjutan pembangunan itu sendiri. Seperti sekarang pemprov Kaltim tidak mampu merawat dan memanfaatkan Stadion Palaran, Hotel Atlet maupun Samarinda Convention Center, lebih banyak kosong alias nganggur dibanding termanfaatkan. Patut disayangkan investasi trilliunan rupiah diketiga proyek tersebut harus dibayar mahal dengan kembali menggelontorkan dana yang besar untuk pemeliharaan tanpa pendapatan yang berarti.

Penyebab kedua mengapa SDA bisa menjadi kutukan bagi Kaltim adalah, apabila pemerintah gagal dalam melakukan transformasi ekonomi maka kemiskinan yang mulai tumbuh sejak tahun 2016 akan kembali menyerang Kaltim dengan gempuran yang lebih dasyat.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved