Harga Telur Melonjak, Pedagang Usulkan 2 Solusi yang Bisa Dilakukan Pemerintah

Harga telur ayam akhir-akhir mengalami kenaikan. Para pedagang pun mengaku tidak mengetahui kapan harga telur ayam akan turun

Harga Telur Melonjak, Pedagang Usulkan 2 Solusi yang Bisa Dilakukan Pemerintah
TRIBUN KALTIM / FEBRIAWAN
ILUSTRASI - Seorang pedagang telur di pasar Jaras, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur menyusun barang dagangannya, Rabu (3/6/2015). 14 hari menjelang Ramadan, harga kebutuhan pokok di Kutai Barat sudah mengalami kenaikan hingga mencapi 40 persen. 

TRIBUNKALTIM.CO — Harga telur ayam akhir-akhir mengalami kenaikan.

Para pedagang pun mengaku tidak mengetahui kapan harga telur ayam akan turun.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri meminta pemerintah untuk segera mengatasi persoalan tersebut.

"Enggak berani kami prediksi ya kapan turunnya karena anomali tahun ini, semua komoditas naik. Kalau dua tahun lalu saya masih bisa prediksi kemungkinan turun dari peternak akan keluar. Sekarang enggak bisa, peternak pun saya tanya enggak bisa prediksi," sebut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri kepada Kompas.com, Senin (16/7/2018).

Baca: Idul Fitri Sudah Usai Harga Telur Masih Mahal, Begini Analisis KPPU Balikpapan

Dia menyebutkan, setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan pemerintah saat ini.

Pertama, pemerintah harus bisa menyiapkan grand strategy untuk memecahkan masalah telur ini setidaknya untuk kurun waktu setahun ke depan.

"Contohnya adalah bagaimana pembibitannya, berapa banyak pembibitannya, terus bagaimana pemerintah menerapkan teknologi dan kajian baru tentang itu. Jadi, banyak hal yang harus dilakukan pemerintah termasuk komunikasi dengan semua pihak," sebutnya.

Baca: Kantor BNN Balikpapan Membeludak Didatangi Ratusan Orang Sejak Pagi

Yang kedua, Abdullah menyarankan agar pemerintah memiliki perusahaan sendiri, misal BUMN atau anak perusahaannya yang fokus pada pakan ayam termasuk pada produksinya.

"Kenapa begitu? Karena produksi ayam itu perusahaannya itu-itu saja. Jadi kurang banyak alternatif," sambungnya.

Di sisi lain, Abdullah mengakui bahwa kenaikan harga telur ini telah membuat khawatir para pedagang.

Pasalnya, dalam seminggu terakhir penjualan telur ayam di pasar rata-rata turun hingga lebih dari 20 persen.

"Selama seminggu ini penjualan telur ayam turun 30 persen di pasar-pasar. Konsumen beralih ke komoditas lainnya, seperti ikan, tempe, dan tahu. Ketiganya naik 30 persen penjualannya," sebutnya.

Baca: Jumlah Penduduk Miskin Kaltim Bertambah 230 Orang, namun Secara Persentase Turun 0,05 Persen 

Sebagai informasi, harga telur ayam ras negeri di Pasar Palmerah pada Jumat (13/7/2018), mencapai Rp 29.000.

Sementara di salah satu hipermarket di Ciledug, Tangerang, Minggu (15/7/2018), harga telur mencapai Rp 28.900 per kilogram.

Kenaikan harga telur ayam mencapai Rp 5.000 sampai Rp 7.000 per kilogram dari harga normal sekitar Rp 22.000 sampai Rp 24.000. (*)

Baca: Naiknya Harga Telur di Balikpapan Disebut karena Pengaruh Dolar



Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga Telur Meroket, Ini Kata Pedagang", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/07/17/093700526/harga-telur-meroket-ini-kata-pedagang. Penulis : Ridwan Aji Pitoko.
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved