Disbun Kutim Ingatkan Peredaran Bibit Sawit Palsu, Petani Diminta Tak Tergiur Harga Murah

Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur, kembali mengingatkan petani kelapa sawit dalam membeli bibit sawit di pasaran.

TRIBUN KALTIM/MARGARET SARITA
Sekretaris Dinas Perkebunan Kutim, Kasiyanto 

Laporan wartawan Tribunkaltim.co, Margaret Sarita

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur, kembali mengingatkan petani kelapa sawit dalam membeli bibit sawit di pasaran.

Pasalnya peredaran bibit sawit masih cukup marak di wilayah Kutim. Bahkan hampir merata di setiap kecamatan.

Sekretaris Disbun Kutim, Kasiyanto mengatakan peredaran bibit palsu masih ditemukan jajaran pengawas Dinas Perkebunan Kutim.

Ia pun meminta petani memeriksa dengan teliti saat membeli bibit sawit.

Baca: Hot Couple di Hollywood Kompak Memotret Afgan di Singapura, Lihat Hasil Bidikan Mereka

“Kami sudah beri imbauan ke kelompok tani dengan mendatangi dan menggelar pertemuan. Selain itu, juga memasang spanduk di jalan, kantor desa, kantor Camat, serta tempat berkumpul warga lainnya. Jangan sampai tergiur dengan harga  bibit sawit yang murah, namun ternyata palsu,” ungkap Kasiyanto.

Pastikan, kata Kasiyanto, bibit yang dibeli memiliki dokumen. Karena bibit palsu tidak ada dokumennya.

Harga yang ditawarkan untuk bibit palsu juga lebih murah, yakni Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kecambah.

Sedangkan bibit asli, per kecambah dibandrol Rp 7.500 hingga Rp 9.000.

Baca: Suhu di Dieng Sentuh Minus 8 Derajat Celcius, Kentang yang Siap Panen Rusak

 “Selain harga dan dokumen yang berbeda, hasil panennya pun akan berbeda. Kalau bibit palsu, hanya bisa menghasilkan bobot sekitar 50 persen dibanding jika menanam bibit asli. Kualitas kandungan minyak, ketebalan tempurung juga akan beda. Petani sudah keluar uang untuk membeli bibit, sudah menanam dan memelihara dalam hitungan tahun, ketika panen, hasilnya tak memuaskan. Sudah rugi tenaga, rugi juga di biaya,” ujar Kasiyanto. 

Adanya penggunaan bibit palsu di Kutim, menurut Kasiyanto, akibat minimnya modal petani dan keinginan segera memperoleh hasil.

“Kami tidak bisa apa-apa. Karena modal milik petani. Kami hanya bisa mengimbau, untuk hasil maksimal, sebaiknya membeli bibit sawit yang asli,” ujar Kasiyanto.

Namun bagi masyarakat yang sudah telanjur menanam dengan bibit palsu, jika bersedia mendaftarkan lahannya untuk diremajakan (dipotong),  Kasiyanto mengatakan, ada kebijakan pemerintah pusat memberikan bantuan dana Rp 25 juta per hektare.

Baca: Kerajaan Inggris Sangat Berkuasa dan Kaya Raya, Pangeran Harry Kepergok Pakai Sepatu Berlubang

Dengan syarat usia tanam sudah umur 8 tahun dan produknya tidak lebih 10 ton per hektar per tahun.

"Warga sudah menyadari hasilnya kurang. Di Kecamatan Kaliorang sudah ada yang daftar, 2 hektar lahan sawitnya sudah siap ditebang," ungkap Kasianto.

Bibit sawit, menurut Kasiyanto, hanya dijual oleh toko yang ditunjuk Kementerian Pertanian dan ada izin tanda daftar dari Gubernur.

Baca: Mitra Kukar Vs Persib, 3 Laga Tandang Maung Bandung Tuai Hasil Positif

Bagi penjual bibit palsu juga bisa diancam sesuai Undang - Undang (UU) Nomor 12 tahun 1992,  tentang Sistem Budidaya Tanaman Pasal 60 huruf c, yang berisi bagi pengedar benih yang tidak sesuai dengan label akan dikenai sanksi pidana kurungan maksimal lima tahun dan denda Rp 250 juta. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved