Bendungan Lawe-lawe di PPU Mangkrak, Warga Khawatirkan Hal Ini

Belum selesainya bendungan Lawe-lawe, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mulai dikhawatirkan warga setempat.

Bendungan Lawe-lawe di PPU Mangkrak, Warga Khawatirkan Hal Ini
samir paturussi/ tribun kaltim
bendungan Lawelawe. 

TRIBUNKALTIM.CO - Belum selesainya bendungan Lawe-lawe, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mulai dikhawatirkan warga setempat.

Bahkan mereka trauma karena sudah dua tahun berturut-turut terjadi banjir yang cukup besar yang diduga disebabkan pembangunan bendungan tersebut.

Sementara itu, Pemkab PPU melalui Dinas Pekerjaan Umum telah menghentikan proyek tersebut padahal sudah progres 85 persen.

Baca: Usai Pilkada Jumlah Perekaman e-KTP di PPU Menurun Drastis

Ketua LPM Lawe-lawe, Afian, Kamis (30/8/2018) menjelaskan, selama ini setiap memasuki musim hujan warga Lawe-lawe khususnya di RT 1, 04, dan 05 selalu khawatir terjadi banjir apalagi mereka berada di bantaran sungai Lawe-lawe.

Ia mencatat tahun 2017 lalu sekali terjadi banjir kemudian tahun ini sebanyak dua kali dan cukup besar.
Alfian menduga banjir yang menimpa tersebut disebabkan bendungan yang belum rampung 100 persen.

"Pintu bendungan itu kan berhadapan dengan pemukiman warga. Nah kalau sudah meluap jelas warga yang menjadi korban seperti tahun ini, karena dua kali terkena banjir," katanya.

Ia mengaku sudah pernah menyampaikan agar bendungan ini bisa diselesaikan, namun persoalan anggaran yang menjadi kendala.

Baca: Tiap Minggu Ada KRI Sandar, Kaltim Penting Punya Dermaga TNI AL

Untuk itu, pihaknya berharap agar ke depan bendungan ini bisa diselesaikan termasuk menggunakan anggaran provinsi maupun bantuan APBN.

Karena bila bendungan ini dibiarkan mangkrak, maka akan semakin mengkhawatirkan warga terutama di bantaran sungai karena bisa terkena secara langsung dampak meluapnya Sungai Lawe-lawe.

Sebelumnya, Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum PPU, Supardi menyampaikan bahwa bendungan Lawe-lawe terpaksa dhentikan karena terkena anggaran.

Bahkan sampai saat ini pihaknya masih berutang sampai Rp 90 miliar kepada kontraktor pelaksana.

Namun demikian, pihaknya masih terus berupaya agar proyek tersebut bisa dibiayai melalui anggaran APBN.

"Kami sudah usulkan mudah-mudahan nanti bisa dilanjutkan dengan menggunakan dana APBN," harapnya.

Penulis: Samir
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved