Dr Adib Khumaidi: Antisipasi 'Secondary Disaster' dalam Penanganan Gempa

KETUA Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia, dr Mohammad Adib Khumaidi, Sp.OT mengingatkan 'Secondary Disaster' dalam penanganan gempa.

Dr Adib Khumaidi: Antisipasi 'Secondary Disaster' dalam Penanganan Gempa
ist
Dr Mohammad Adib Khumaidi, Sp.OT, Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia 

Dampak angka kejadian penyakit pasca  gempa adalah: Trauma (bedah ) , pasien non trauma (masalah penyakit dalam, anak, kebidanan, Psikiatri (post traumatic stress disorder -PTSD), public health (air, sanitasi, gizi, infeksi, penyakit menular, dll).

Keadaan di suatu daerah pascagempa mengguncang Lombok, 8 Agustus 2018. (REUTERS/Beawiharta)
Keadaan di suatu daerah pascagempa mengguncang Lombok, 8 Agustus 2018. (REUTERS/Beawiharta) ()

Angka kejadian penyakit non trauma yang paling banyak adalah:  Infeksi Saluran Nafas,  Gastroenteritis ( infeksi pencernan )  yaitu kholera, dysentri, campak ,malnutrisi serta  demam , malaria , leptopisrosis juga perlu diwaspadai.

Perlu diwaspadai juga pada saat fase akut bencana ( impact ) terutama pada kasus-kasus trauma adalah menghindari risiko infeksi pasca pembedahan. Bagaimana tindakan saat pembedahan yang mencegah dan mengurangi kejadian infeksi diikuti dengan pengawasan pasca pembedahan dan perawatan luka harus juga dilakukan . Kebutuhan ATS dan antibiotika serta alat kesehatan untuk rawat luka menjadi prioritas untuk disiapkan pada fase akut ini.

Tidak semua risiko kesehatan yang potensial dan aktual pascabencana akan terjadi di waktu yang bersamaan. Risiko itu cenderung muncul di waktu yang berbeda dan cenderung berbeda tingkat keparahannya  di wilayah yang terkena bencana.

Dengan demikian, jatuhnya korban biasanya terjadi di waktu dan tempat terjadinya dampak dan korban itu membutuhkan perawatan medis segera, sedangkan risiko meningkatnya penularan penyakit membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk berkembang dan risiko tersebut memuncak di tempat yang berpenduduk padat dan standar sanitasinya memburuk.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi korban gempa bumi di Lombok, Senin (13/8/2018) siang.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi korban gempa bumi di Lombok, Senin (13/8/2018) siang. (istimewa/ BNPB)

Resiko infeksi , penyebaran penyakit menular merupakan “ secondary disaster “ yang dapat terjadi dan akan menjadi masalah besar jika tidak dilakukan pencegahan dari awal. Penanganan yang baik saat tindakan trauma dan  perawatan pasca operasinya serta pemberian antibiotika yang adekuat .

Pengelolaan lokasi pengungsian dengan memperhatikan air bersih , lingkungan dan sanitasi yang baik terutama MCK . Memberikan makanan yang bergizi  serta air minum yang bersih dan tidak terkontaminasi . Program kesehatan masyarakat juga harus dijalankan sejak fase akut ini untuk pencegahan “ secondary disaster “.

Secara garis besar dalan program penangulangan bencana , perlu diperhatikan 2 hal pokok, yaitu: Medical Support yang pasti akan langsung bergerak terutama kelompok dokter dan tim tenaga kesehatan lainnya yang dilengkapi obat dan alat kesehatan sementara yang selanjutnya dukungan obat dan alkes harus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan yang sudah dilakukan . Tidak kalah pentingnya adalah Management support. Hal ini yang sepertinya  di Indonesia paling sering terjadi karena tidak ada koordinasi antara personel, lembaga pemerintah maupun swasta.

Dukungan jumlah besar di fase awal baik itu SDM dokter dan tenaga kesehatan dari luar daerah gempa , obat , alat kesehatan , makanan , pakaian dan lain sebagainya harus diselenggarakan dengan menajemen yang baik dalam pengelolaannya . Kesiapsiagaan yang ditunjang dengan koordinasi, kolaborasi dan saling berintegrasi dengan stakeholder yang terkait akan dapat menciptakan “SAFE COMMUNITY “ .(*)

Editor: Priyo Suwarno
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved