Ekspor Lobster Kaltim Belum Terdongkrak Menguatnya Dolar, Ini Penyebabnya

Menguatnya nilai uang dolar AS terhadap rupiah ibarat koin bermata dua. Satu sisi komoditas impor diprediksi harganya naik

Ekspor Lobster Kaltim Belum Terdongkrak Menguatnya Dolar, Ini Penyebabnya
Wales News Service
Lobster berwarna oranye cerah 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Menguatnya nilai uang dolar AS terhadap rupiah ibarat koin bermata dua. Satu sisi sejumlah komoditas impor diprediksi harganya naik, sementara eksportir komoditas dari dalam negeri berharap mendapat berkah dengan kenaikan harga dolar tersebut.

Seperti diketahui, beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, bahkan sempat menyentuh Rp 15 ribu per 1 USD. Minggu siang (9/9) kemarin, kembali turun ke Rp 14.820.

Bagi eksportir udang dan lobster asal Kaltim, menguatnya dolar diharapkan bisa menjadi berkah, karena mereka menjual hasil laut ke luar negeri menggunakan mata uang dolar. Namun, sayang harapan mendapatkan ciprat berkah kenaikan dolar tak kunjung tiba. Ekspor lobster asal kaltim belum juga terdongkrak dolar.

Baca: Kedelai Impor, Perajin Tahu-Tempe di Balikpapan belum Terimbas Kenaikan Dolar

Menurut Makmur, salah satu eksportir lobster asal Kaltim, idealnya menungatnya dolar terhadap rupiah mempengaruhi pendapatan eskportir bahan mentah seperti dirinya. Lobster hidup yang ia beli dari nelayan lokal menggunakan rupiah.

Sedangkan, saat dikumpulkan eksportir besar di Jakarta dan diterbangkan ke Tiongkok, utamanya Hongkong dijual dengan mata uang dolar. Karenanya, pengusaha asal Kampung Baru Tengah, Balikpapan Barat ini rutin memantau harga jual lobster yang dikeluarkan pedagang dan pemerintah pusat.

Harga jual tiga jenis lobster liar yang ia kumpulkan dari sejumlah nelayan di tiga titik, yakni pesisir Kalimantan sampai Tanjung Aru Kabupaten Paser, Pulau Balikukup, Berau sampai Selat Makkasar itu, tergolong tinggi.

Tahun lalu, saat dolar menyentuh Rp 13 ribu-Rp 14 ribu, harga lobster jenis Mutiara ukuran 1 kg mencapai Rp 1,3 juta sampai Rp 1,5 juta per kg. Lobster Bambu dan Pakistan ukuran sama Rp 550 ribu per kg. Biasanya, dalam sebulan, ia mampu mengirim 3 gabus dengan total 200-250 kg.

Dengan tren kenaikan dolar selama dua bulan terakhir, menyentuh Rp 14.820, terhitung Minggu (9/9), harga jual ekspor ketiga jenis lobster malahan turun. Lobster Mutiara Rp 1,2 juta per kg, Bambu dan Pakistan Rp 420 per kg. Makmur sempat dibuat bingung, dengan kondisi ini, padahal, saat kenaikan dolar tahun lalu, harga lobster lebih mahal.

Baca: Dolar Terus Menguat, Ini Langkah Antisipasi Dilakukan SOGO Big Mall Samarinda

"Selama dolar Amerika naik (sekarang), belum ada kenaikan harga, malah sebaliknya turun. Kalau harga dolar naik, bisa selisih Rp 20 ribu-Rp 50 ribu per kg. Tiap hari kita terima harga dari Jakarta," katanya dihubungi lewat sambungan telepon saat berkunjung ke Maluku.

Selain keuntungan dari kenaikan dollar, keuntungan lain, ia dapat dari selisih harga jual dari nelayan tangkap.

Semisal, lobster Mutiara dibeli kisaran Rp 950 ribun sampai Rp 1,1 juta, tergantung harga jual di pasaran. Selisih keuntungan ini, digunakan untuk membayar gaji karyawan, biaya kargo dari Balikpapan ke Jakarta yang terhitung mahal dan cukup rawan mati.

Lobster yang dikirim dalam kondisi hidup, hanya dibungkus koran basah. Sebelum melewati tujuh jam ke Tiongkok dan disebar ke berbagai kota lainnya. Rerata per kg lobster yang ia ekspor ada selisi keuntungan Rp 100 ribu.

Karena lobster hidup menjadi pesanan utama, pilihan membekukan lobster bukan pilihan. Makmur menyebut, dengan permintaan tertentu ini, eksportir lobster terpaksa memenuhi pemesanan tertentu, walaupun terpaksa menjual lobster glondongan, istilah lobster tangkapan dengan ukuran tak memenuhi standar ekspor.

Ia pun rutin komunikasi dengan pengepul dan eksportir besar di Jakarta terkait harga. Makmur menduga, berkah kenaikan dolar yang belum menyiprat ini, dikarenakan beberapa faktor. Utamanya hukum pasar.

Baca: MotoGP San Marino 2018 - Akui Duo Ducati Perkasa, Rossi Sebut Lorenzo Favorit Juara

Masih surutnya konsumsi lobster di daerah tujuan, semisal kurangnya pesta makanan kelas atas. Biasanya, lonjakan baru terasa menjelang hari raya Imlek. Faktor lain, serbuan lobster budidaya yang masuk ke Tiongkok, biasanya berasal dari Amerika Serikat dan Australia, dengan harga lebih murah ketimbang lobster hidup liar. (*)

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved