Film

Tayang di Indonesia Hari Ini, Crazy Rich Asians Lebih Bagus Dibanding The Nun?

Crazy Rich Asians telah menyita perhatian penonton di seluruh dunia dan mendapatkan apresiasi yang baik.

Alberto E. Rodriguez/Getty Images
Para pemeran film Crazy Rich Asians. 

TRIBUNKALTIM.CO -- Crazy Rich Asians telah menyita perhatian penonton di seluruh dunia dan mendapatkan apresiasi yang baik.

Film ini tayang di Indonesia mulai tanggal 11 September 2018.

Crazy Rich Asians diadaptasi dari novel berjudul sama karya Kevin Kwan.

Film ini mendapatkan kritik positif dari para kritikus film.

Baca: Ditanya Apakah Bakal Setia Seumur Hidup dengan Raffi Ahmad, Begini Jawaban Nagita Slavina

Bahkan film yang karya sutradara Jon M Chu ini menjadi populer dan mendapatkan rating tinggi di sejumlah situs.

Lantas apa yang membuat film Crazy Rich Asians dinilai bagus dan menjadikannya satu tontonan yang sayang untuk dilewatkan, apakah lebih baik dari The Nun?

Tribun Style melansir dari Kompas.com (10/9/2018) berikut ini 5 info menarik tentang film Crazy Rich Asians:

1. Punya makna sejarah dan budaya


Crazy Rich Asians karya sutradara Jon M Chu
Crazy Rich Asians karya sutradara Jon M Chu (Warner Bros.)

Crazy Rich Asians bercerita tentang seorang profesor ekonomi di New York, Rachel Chu (Constance Wu) yang melakukan perjalanan ke Singapura bersama kekasihnya, Nick Young (Henry Golding).

Di sana ia baru mengetahui keluarga Young adalah salah satu dari orang terkaya di Asia dan ternyata ibu kekasihnya itu tak menyukainya.

Crazy Rich Asians disebut sebagai film pertama dalam 25 tahun di Hollywood yang semua pemainnya keturunan Asia.

Awkwafina yang memerankan sahabat Rachel dalam film itu mengatakan kepada Good Morning America bahwa bagi sebagian penonton, melihat diri mereka terwakili di layar lebar adalah pengalaman yang luar biasa.

“Saya melihat orang keturunan Amerika-Asia, menangis setelah menonton film ini. Saya bicara dengan salah satu dari mereka dan dia bilang, 'Saya tidak tahu mengapa, saya hanya perlu menangis'. Ada rasa senang yang tak bisa ia jelaskan dan itu adalah perasaan keterwakilan," ujar Awkwafina.

Menurut penelitian terbaru dari Universitas Southern California Annenberg, ada perubahan dalam jumlah penggambaran yang beragam dalam film-film populer selama dekade terakhir.

Halaman
1234
Sumber: TribunStyle.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved