Ratusan Kapal Nelayan di Bontang Bakal Gunakan BBG

Walikota Bontang mengungkapkan sebanyak 113 nelayan tangkap dengan kapasitas 5 GT ke bawah akan menikmati konversi penggunaan BBM ke BBG.

Ratusan Kapal Nelayan di Bontang Bakal Gunakan BBG
TRIBUN KALTIM / AMANDA LIONY
Walikota Bontang, Neni Moerniaeni. 

BONTANG, TRIBUN - Upaya Pemkot Bontang melakukan konversi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) terus dilakukan. Setelah, sukses mendorong percepatan pembangunan jaringan gas alam (Jargas) untuk konsumsi rumah tangga, kini Pemkot Bontang memulai konversi penggunaan BBG di kalangan nelayan tangkap.

Walikota Bontang Neni Moerniaeni mengungkapkan, sebanyak 113 nelayan tangkap dengan kapasitas 5 GT (gross ton) ke bawah akan menikmati program konversi penggunaan BBM ke BBG. Program ini sepenuhnya akan didanai oleh pemerintah pusat melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Total ada 113 nelayan tangkap kita yang akan menikmati konversi penggunaan BBM ke BBG," ujar Walikota Neni, saat ditemui disela-sela acara rapat kordinasi Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesi (Apeksi) Komisariat Wilayah V, di Singkawang, Kalimantan Barat, Kamis lalu.

Baca: Patung Naga 27 Meter di Kukar tak Kunjung Selesai, Ini Sebabnya

Menurut Neni, program konversi penggunaan BBM ke BBG di kalangan nelayan, akan sangat membantu peningkatan perekonomian nelayan. Pasalnya, penggunaan gas sebagai bahan bakar kapal nelayan jauh lebih irit dibanding BBM sejenis solar yang selama ini digunakan. Selain itu, BBG juga ramah lingkungan lebih ramah lingkungan.

"Saya tidak tahu pasti perbandingannya. Yang pasti BBG ini lebih murah. Dengan demikian, biaya melaut bisa ditekan," ungkap Neni, yang didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Bontang, Aji Erlinawati.

Walikota berharap, program konversi penggunaan BBG ini terus berlanjut dan bisa menkover seluruh nelayan tangkap dengan ukuran kapal 5 GT ke bawah. Neni optimis, rencana tersebut akan mendapat dukungan dari Pemerintah pusat mengingat Kota Bontang, memang dikenal sebagai kota industri pengolahan gas terbesar di Indonesia.

"Saya mau program konversi penggunaan BBG ini terus berlanjut. Bukan hanya di sektor perikanan tangkap, tapi juga meluas ke sektor usaha kecil lain yang. Termasuk untuk kebutuhan kendaraan." katanya.

Sementara itu, Kepala DKP3 Bontang, Aji Erlinawaty menjelaskan, program konversi penggunaan BBG di kalangan nelayan sejatinya sudah diusulkan sejak tahun 2017. Aji mengaku sudah pernah mengajukan usulan konversi penggunaan BBG untuk 300 unit kapal nelayan. Hanya saja, baru 113 yang mendapat persetujuan dari Kementrian KKP.

"Anggaran untuk teknologi konversi penggunaan BBM ke BBG ini memang cukup besar, yakni sekitar Rp 8 juta per kapal," ungkap Aji.

Ia menuturkan, berdasarkan data nelayan yang terekam di DKP3 Bontang, jumlah nelayan di Bontang mencapai 3000-an orang. Dari jumlah tersebut, mayoritas adalah nelayan tangkap dengan jenis kapal 7 GT ke bawah.
"Hanya sedikit nelayan tangkap kita yang menggunakan kapal besar. Jadi memang butuh perjuangan untuk mewujudkan konversi penggunaan BBG secara menyeluruh," pungkasnya. (don)

Penulis: tribunkaltim
Editor: Adhinata Kusuma
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved