UKM Sukses Ditopang Kurir JNE

Sambelado Kepiting Balikpapan Tembus Eropa

Idenya adalah mengkreasi Sambelado Kepiting kemasan. Pada pertengahan 2015, Rita memberanikan diri mencoba yang berbeda

Sambelado Kepiting Balikpapan Tembus Eropa
TRIBUN KALTIM/AHMAD BAYASUT
SAMBELADO KEPITING - Rita Erna Suzana memamerkan produk ide cemerlangnya, Sambelado Kepiting dan piagam penghargaan atas keberhasilannya mengikuti pameran UKM Fair 2018 Balikpapan_AHMAD BAYASUT 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Indonesia adalah gudangnya kuliner. Variasi kuliner dari berbagai daerah dengan nama, ciri khas hingga rasa menempatkan Indonesia sebagai negeri berjuta masakan. Nah, di Balikpapan juga tidak ketinggalan. Kuliner masakan laut menjadi salah satu ciri khasnya. Pengelolaan ikan Patin, Haruan, Nila sampai Kepiting mewarnai menu setiap kali menemui warung pinggiran hingga restoran.

Bicara kuliner di Indonesia rasanya kurang maknyus bila tidak disandingkan dengan sambal. Karena lidah orang Indonesia sangat menyukai sambal maka sambal pun memiliki ciri dan nama. Sambal petis, sambal Terancam, sambal Cabe Ijo, sambal Kecap, sambal Kacang, sambal Terasi, sambal Tomat, sambal Bajak dan masih banyak macamnya.  Nama-nama itu lahir dari berbagai daerah juga.

Satu lagi telah lahir sambal kreasi terbaru dari seorang ibu rumah tangga di Balikpapan, Rita Erna Suzana. Diawali dari kegagalannya memproduksi glass painting dan susah untuk meraup pasar. Ia pantang menyerah, istri dari Herry Soetrisno ini memiliki ide cemerlang mengolah kuliner kemasan.

Idenya adalah mengkreasi Sambelado Kepiting kemasan. Pada pertengahan 2015, Rita memberanikan diri mencoba yang berbeda mengolah Sambelado Kepiting. Pilihan pada kepiting juga ada alasannya. Karena tempat tinggalnya di jalan Mulawarman RT 54 no 53 gang Manunggal 14 Manggar merupakan lokasi berdekatan dengan pesisir. Kepiting menjadi pilihan Rita dikarenakan belum ada yang memproduksinya.

Walau begitu mendapatkan daging kepiting terbaik bukan perkara mudah. Ia harus mencari distributor kepiting terpercaya dan berkualitas. “Pernah juga tidak ada stok kepiting, namun akhirnya saya kenal dengan distributor kepiting yang mau memberi stok khusus kepada saya,” ujarnya.

Olahannya ia bagikan kepada tetangga, teman dan kerabatnya dari bahan 1 kilogram cabai dan satu kepiting.  Paling mencolok perbedaan dari produknya adalah tanpa menggunakan terasi. Padahal seperti biasa kuliner sambal Indonesia identik dengan terasi. Sehingga terasa ada perbedaan rasa dan aroma dari produk Sambelado Kepiting miliknya.

Pengganti terasi, ia gunakan ebi dan udang. Resep ini didapat Rita dari orang tuanya. “Selain saya tidak menyukai  terasi, ini (olahan) sambal menggunakan resep dari ibu saya,” kata Rita yang juga menjabat Ketua UKM Mawar Merah Balikpapan ini. Keunggulan lain dari Sambelado Kepiting ini adalah tanpa pengawet.

Responnya ternyata diluar dugaan. Rekan, teman dan kerabat yang sudah mencobanya mendorong ia untuk memproduksi massal. Sebab mereka menilai Sambelado Kepiting penyajian Rita berbeda dan unik dibanding sambal-sambal lainnya.

Awalnya ia hanya memproduksi skala kecil dengan modal Rp 3 juta. Dan itupun dijual hanya di kalangan orang yang dikenalnya. Hasilnya, Sajian Rita Sambelado Kepitingnya semakin dikenal banyak orang. Prosesnya dari mulut ke mulut.

“Awalnya saya tidak promosi macam-macam, saya jual ke teman dan tetangga dan biar mereka yang menilainya, bila enak nanti akan mengalir sendiri (promosinya),” kata wanita kelahiran Palembang, 27 Desember 1968 ini.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Bayasut
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved