Edisi Cetak Tribun Kaltim

Balikpapan Terancam KLB Rubella dan Campak! Bayi MZ Jadi Korban, Dilahirkan Alami Kelainan Bawaan

Akibat terpapar virus Rubella saat mengandung, bayi yang ia lahirkan mengalami kelainan bawaan lahir.

DOKUMENTASI/TRIBUN KALTIM
Edisi cetak Tribun Kaltim, 3 Oktober 2018. 

Laporan wartawan Tribunkaltim, Nalendro Priambodo dan Siti Zubaidah

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Virus Rubella atau Campak Jerman sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya menyerang orang dewasa dan anak-anak, tapi juga menyerang ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Sayangnya, program vaksinasi Rubella yang dicanangkan pemerintah tidak bisa terlaksana secara maksimal di Kota Balikpapan.

Ahyuningsih, warga Balikpapan bisa menjadi contoh. Akibat terpapar virus Rubella saat mengandung, bayi yang ia lahirkan mengalami kelainan bawaan lahir.

Bayi berusia 11 bulan yang diberi nama --sebut saja MZ ikut terkena dampak virus Rubella.

Saat dilahirkan, bobot bayinya hanya 2,2 kg, dan menginjak usia 4 bulan terkena infeksi paru-paru, menyusul gangguan pendengaran berat di kedua telinganya.

Akibatnya, bayi MZ hanya bisa mendengar suara di rentan 80 desibel ke atas, seperti suara mesin pesawat jet dan petir.

Gangguan pendengaran juga berefek kemampuan bicara di masa depan.

Belum Sempat Daftar CPNS 2018? Masih Ada Kesempatan, Penutupan Diundur hingga 15 Oktober 2018!

Sindrom Rubella bawaan juga mengancam tumbuh kembang bayi MZ.

Di usia 11 bulan, dia belum bisa tengkurap dan duduk sendiri.

Ahyuningsih kepada Tribun Kaltim menuturkan, masa-masa sulit saat mengandung anak keduanya tersebut.

Sesekali, matanya terlihat berkaca saat menceritakan kondisi sang putra, MZ.

Bayi mungil ini, terjangkit conginental rubella syndrome/sindrom rubella bawaan (CRS) saat dalam kandungan.

Kabar Ratna Sarumpaet Dikeroyok, Instagram Atiqah Hasiholan Ramai dengan Pertanyaan Netizen

Dampaknya berantai, mulai dari infeksi paru-paru, gangguan pendengaran berat dan tumbuh kembang yang terganggu.

Ia mengenang, saat hamil di trisemester pertama sempat mual, muntah, demam tinggi hingga 42 derajat celcius disertai gangguan kelenjar getah bening.

Ia sempat dirawat inap, 12 botol cairan vitamin disuntikkan ke tubuhnya.

"Janinnya ngga apa," kata Ahyuningsih menirukan dokter yang memeriksanya kala itu. Mendengar keterangan itu, perempuan 28 tahun ini sedikit lega.

Iapun melanjutkan kontrol rutin ke dokter kandungan tiap bulannya.

Beranjak usia kehamilan tujuh bulan, ada hal yang cukup mengkhawatirkan, pertumbuhan bayi dalam kandunganya berjalan lambat.

Biasanya, di usia kehamilan segitu, rata-rata janin sudah berbobot 2.8 kg, namun janin yang ia kandung baru berbobot 2.2 kg dan air ketubannya berkurang.

 Berkunjung ke Museum di Kanada, Justin Bieber Sebut Hailey Baldwin sebagai Istri

Dokter hanya menyarankan ia banyak mengonsumsi makanan bernutrisi dan air putih.

Saat dilahirkan, bobot bayinya hanya 2,2 kg dengan panjang 43 cm. Setelah menginap semalam paska persalinan, dokter memperbolehkan keluarga kecil ini pulang.

Seolah tak ada masalah, hingga di usia 4 bulan, bayi ZM mulai batuk-batuk. Setelah di-rontgen dan tes darah, ZM divonis menderita infeksi paru-paru dan diharuskan diterapi obat selama enam bulan.

Belum cukup di situ, dokter membacakan hasil uji laboratorium yang menyatakan anaknya positif Rubella.

Dokter mendiagnosisnya mengalami sindrom rubella bawaan (CRS). Setelah divaksin MR, dokter menyarankan, pemeriksaan organ lainnya apakah ikut terdampak. Sejak tujuh bulan terakhir, keluarga kecil ini, rutin bolak-balik rumah sakit.

"Saya sempat lemas, mendengar hasil pemeriksaan," kata Muamar Qadafi, ayah ZM beberapa waktu lalu di salah satu rumah sakit swasta di Balikpapan, usai pengecekan pengelihatan anaknya.

Nasib serupa juga dialami Toriq, bocah berusia 11 tahun. Toriq juga terkena dampak Rubella yang dialaminya sejak masih dalam janin. Kini, Toriq mengalami gangguan berbicara serta pendengaran.

Upik, ibunda Toriq tetap tegar dan semangat untuk kesembuhan buah hatinya. Apapun dilakukan mulai dari searching di internet dan pengobatan alternatif seperti terapi.

Wanita yang tinggal Kelurahan Prapatan, Balikpapan Kota ini mengaku, pada usia kehamilan trimester pertama dirinya terkena virus Rubella.

"Sebenarnya kadang-kadang orangtua yang anaknya dengan gangguan belum tentu mengetahui terkena Rubella. Dokter sendiri tidak menyebutkan bahwa anak tersebut terkena Rubella. Kalau seseorang terkena Rubella harus tes dulu," kata Upiq.

Hasil tes itu baru bisa diketahui bahwa seseorang tersebut terjangkit virus Rubella.

"Saya sebagai orangtua harus mencari tau kenapanya. Dulu taunya campak, kenanya pas saya hamil, rawannya pada trimester pertama dan kedua," ujarnya.

Dulunya, masih kata Upiq, pengobatannya dengan minum air kelapa dan beberapa hari kemudian sembuh.

Namun, berbahayanya jika ibu dalam keadaan hamil terus terkena, bayi bisa mengalami kecacatan.

Terdampak Rubella
Dokter Baiq F Zahra, dokter spesialis anak yang menangani bayi MZ menjelaskan gangguan pendengaran berat yang diderita balita berusia 11 bulan ini disebabkan oleh Rubella Kongingental.

Virus Rubella menginfeksi ibunya yang sedang hamil pada trisemester pertama menularkan ke janinnya. Periode kehamilan trisemester pertama merupakan fase pembentukan organ tubuh janin.

Virus yang menginfeksi ibu, masuk dalam janin yang sedang berkembang lewat darah dan plasentase atau ari-ari yang memberikan nutrisi ke janin. Virus inilah yang merusak fase pembentukan organ tubuh janin tersebut.

"Apabila seorang ibu yang hamil terinfeksi (Rubella) pada trisemster pertama kehamilan, hati-hati mengalami trias kongingental (tiga kelainan). Dan (kerusakan) ini permanen, dan tidak bisa disembuhkan," jelas Baiq kepada Tribun, Selasa (2/10).

Pada anak-anak yang sudah terlahir dengan gangguan ini, gejala trias kongingetal atau tiga kelainan seperti gangguan pengelihatan, telinga dan jantung. Gangguan mata biasanya katarak menjurus ke kebutaan atau biasa disebut katarak kongingetal.

Pada telinga, gejalanya biasa disebut Sensori-neural hearing loss (SNHL) atau gangguan pendengaran yang dapat bersifat total maupun parsial yang bisa menyebabkan tuli.

Sedangkan gangguan jantung bawaan seperti kebocoran pada jantung.

"Pada kasus bayi ZM, anak ini kena kelainan gangguan pendengaran. Jadi kita sebut SNHL, jadi benar benar fungsi pendengaran anak ini nol, karena syarafnya yang rusak akibat virus rubella," katanya.

Gangguan pendengaran akan mempengaruhi kemampuan motorik seperti bicara. Sebab, dari indera pendengaranlah manusia bisa mendengar berbagai macam hal, termasuk instruksi.

Menanggapi, soal berat badan ZM saat lahir hanya mencapai 2.2 kg, Baiq mengatakan, bisa saja itu dikarenakan kurangnya asupan gizi dan nutrisi yang kurang optimal saat dalam kandungan.

Dalam kasus ibu dan anak ini, mereka baru mengetahui terinfeksi virus Rubella setelah mengalami gangguan kelainan bawaan lahir.

Ke depan, Baiq menyarankan pada calon ibu yang hendak memprogramkan kehamilan, sebaiknya men-screening apakah dirinya ada infeksi Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (TORCH) dalam tubuhnya agar tak menginfeksi kandungan dan orang lain.

Sering dijumpai tidak ada tanda khas ibu-ibu hamil terserang Rubella. Paling sering, flu, demam, meriang, bintik merah, walaupun ada juga penyakit lain dengan gejala serupa.

Kembali, ia menekanan pentingnya tes darah, serulogi dan TORCH.

Baiq juga menyarankan, vaksin MR yang diberikan adalah virus MR yang dilemahkan. Saat disuntikkan dalam tubuh guna merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari virus tadi.

Ancaman KLB
Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap Campak dan Rubella menghantui Kota Balikpapan.

Pasalnya target capaian vaksinasi di Balikpapan belum mencapai 95 persen. Masih minimnya target capaian vaksinasi MR Dinas Kesehatan Kota Balikpapan menggelar pertemuan melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Kementerian Agama dan MUI dalam mengupayakan mencegah penyakit Campak dan Rubella.

Kepala DKK Balikpapan Balerina JPP mengatakan, sampai sekarang ini baru mencapai 44,08 persen vaksinasi. Jadi kurang lebih 52 persen yang harus pemkot kejar.

"Kita saat ini diberikan waktu lagi oleh Kementerian Kesehatan menambah satu bulan untuk melakukan vaksin, karena adanya permasalahan-permasalahan yang kita ajukan," kata Balerina.

Balerina berharap dengan waktu satu bulan untuk melaksanakan imunisasi MR, mudah-mudahan bisa mencapai 52 persen. Jika tidak mencapai 95 persen Balikpapan bisa berdampak pada KLB.

Dari tahun ke tahun Rubella itu kasusnya meningkatkan.

Pada 2016 kasusnya hanya 29, masuk 2017 ada 127 kasus. Kalau kita hitung kurang lebih 400 persen. Kalau pada saat ini tidak mencapai 95 peren, itu mengakibatkan KLB.

Balerina pun menjelaskan, jika KLB walau pun sudah imunisasi harus tetap disuntik. Dan masyarakat tidak boleh ada yang menolak, karena jika menolak melanggar undang-undang.

Langkah-langkahnya DKK akan meningkatkan tenaganya, permasalahan yang ada dilihat lagi.

"Tadi para orangtua dan perwakilan sekolah minta didatangkan narasumber, nanti disanggupi untuk melakukan sosialisasi kembali oleh Puskesmas," kata Ballerina. (*)

Penulis: tribunkaltim
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved